ilustrasi

batampos.co.id – Kepala Bank Indonesia (BI) Perwakilan Kepri Gusti Raizal Eka Putera mengimbau kepada perbankan untuk segera memperketat pengawasan di lokasi ATM agar bisa memantau mobilitas dari masyarakat yang berlalu lalang di sekitarnya.

Iklan

“Kami meminta kepada bank agar melakukan pemantaun melalui CCTV di masing-masing ATM agar bisa melihat gelagat-gelagat mencurigakan dari orang-orang yang masuk ke ATM,” kata Gusti, Selasa (27/3).

Penempatan CCTV di setiap ATM sangat diperlukan apalagi untuk ATM yang berada di lingkungan masyarakat. ATM di lokasi tersebut berada di luar pengawasan bank sehingga sulit memantaunya.

“Jadi tips untuk masyarakat sekali lagi harus berhati-hati dan yang paling aman gunakan ATM yang ada di kantor bank karena ada Privileged Access Management (PAM) yang berjaga dan biasanya para pelaku tidak berani ke sana,” ujarnya.

Dan hal terpenting adalah jangan pernah sekali-kali masyarakat memberikan data-data kepada pihak lain yang mengatasnamakan bank seperti pin dan lain-lain.”Untuk kasus skimming, sejauh ini belum ada ya. Makanya bank harus terus melakukan pemantauan,” ujarnya.

Praktik skimming yang paling banyak diketahui adalah dengan menempatkan alat yang ditempelkan pada slot mesin ATM. Nama alatnya adalah skimmer. Modus operasinya adalah mengkloning data dari magnetic stripe atau garis hitam yang terdapat pada kartu ATM milik nasabah.

Sehingga bisa disimpulkan skimming adalah aktivitas yang berkaitan dengan upaya pelaku untuk mencuri data dari pita magnetik kartu ATM atau kartu debit secara ilegal untuk memiliki kendali atas rekening korban.

Karena praktik skimming ini, sehingga BI menerbitkan SE Nomor 17/52/DKSP pada 30 Desember 2015 kemarin. Surat edaran tersebut memberikan deadline kepada perbankan hingga tahun 2021 agar segera mengganti kartu ATM dengan kartu ATM yang dilengkapi dengan teknologi chip.

Kartu ATM dengan teknologi chip diyakini sangat aman. Keunggulannya adalah kartu chip yang tertanam lebih sulit digandakan datanya dibanding kartu ATM yang masih menggunakan pita hitam

Chip ini dapat mengacak informasi saat kartu dimasukkan ke mesin ATM. Chip itu akan mengumpulkan informasi terkait transaksi, seperti nomor kartu, waktu transaksi, sampai nomor PIN.

Semua informasi itu kemudian diacak menggunakan algoritma rahasia oleh chip. Informasi ini kemudian dikirim ke mesin ATM. Pada saat bersamaan, mesin ATM pun akan melakukan proses pengacakan berdasarkan algoritrma yang telah disepakati. Hasil pengacakan mesin ATM dan chip ini kemudian dicocokkan. Jika cocok, baru transaksi terjadi.

Karena informasi tersebut telah sudah diacak, mesin skimmer paling canggih pun tidak bisa membaca informasi tersebut.

Sedangkan Ketua Perhimpunan Perbankan Nasional (Perbanas) Kepri Daniel Samzon juga membenarkan hal tersebut.”Bank memang diimbau agar segera mengganti kartu ATM-nya dengan kartu ATM yang punya chip demi alasan keamanan,” paparnya.

Ia juga mengimbau agar perbankan di Kepri harus mengevaluasi sistem keamanannnya demi menjaga kepercayaan di mata nasabah.”Sejauh ini juga belum ada saya dengar. Tapi perbankan harus membuat sistem keamanan sebaik mungkin,” ujarnya.

Memang untuk saat ini, Batam belum pernah mengalami hal tersebut. Namun diimbau kepada setiap perbankan untuk merekrut ahli IT profesional sebagai anggotanya.”Untuk menghindari hal tersebut terjadi,” katanya. (leo)