Iklan

Usianya masih sangat muda. 38 tahun tepatnya. Tapi Allah SWT memanggilnya terlebih dahulu.

Iklan

Rizal Juraid namanya. Dia adalah Pemimpin Redaksi (Pemred) Kaltim Post periode 2011-2017. Usia kami terpaut tujuh tahun. Usia saya 31, sedangkan dia 38. Seorang sahabat, senior, dan rekan kerja yang sangat baik.

Minggu (1/4) lalu tepat pukul 16.47 WIB, saya mendapat pesan via grup whatsapp dari Syafril Teha Noer, jurnalis senior Kaltim Post yang saat ini menjabat sebagai ketua dewan redaksi.

“Jika kabar ini benar, mohon doa bagi Bung Rizal Juraid. Barusan mantan wartawan KP (Kaltim Post) Adi Chandra memberitahu, saat ini Rizal mendadak kritis, masuk UGD AW Sjahranie. Saya sudah kontak Bung Faruq Zamzami (Pemred Kaltim Post sekarang) untuk memastikan dan mendampingi proses pemulihan Bung Rizal,” begitu isi pesan Pak Syafril.

Sekira pukul 16.55 WIB, Dirut Samarinda TV, Henny menyampaikan kabar duka melalui grup whatsapp yang sama.

“Innalillahi. Saya barusan ditelepon Adi Chandra, kabarnya beliau (Rizal, red.) meninggal,” katanya.

Kabar itu membuat saya terdiam. Badan saya seolah limbung. Sama sekali tidak percaya. Padahal saat itu saya tengah menemani istri dan kedua anak saya berlibur di salah satu tempat eksotis di Batam.

Saya coba memastikan lewat rekan-rekan kerja di Kaltim Post.

Ternyata kabar itu benar. Seiring dengan makin ramainya komentar di grup whatsapp Kaltim Post Group (KPG). Benar-benar di luar dugaan. Sama sekali tak percaya.

Padahal baru beberapa hari lalu saya berkomunikasi dengannya. Saya ingin mengundangnya ke Batam. Dia pun mengiyakan. Namun belum sempat kami bersua di Batam, dia meninggalkan saya. Meninggalkan keluarga, teman, dan para sahabatnya.

Namanya takdir, tidak ada yang menyangka. Enggak ada yang tahu. Terutama soal mati. Ini menunjukkan bahwa kematian tidak memandang umur. Yang masih muda pun bisa “dipanggil” cepat. Yang tua pun bisa saja berumur panjang. Tidak ada yang dapat menduga sama sekali.

“Rizal mengingatkan: syarat mati tidak harus tua,” kata Zainal Muttaqin, chairman Kaltim Post, bos saya, guru saya.

Apa yang dialami sahabat saya ini setidaknya menjadi pelajaran buat kita semua. Kapanpun, dimanapun, usia berapapun, kita tidak bisa melawan kematian. Semuanya sudah ditakdirkan. Sudah menjadi suratan Illahi. Tinggal bagaimana kita mempersiapkan diri.

Namun, kebaikan yang ditanamkan sahabat saya ini benar-benar menuai ganjaran. Banyak orang berdatangan ke rumah duka.

Banyak doa mengiringinya ke alam kubur. Banyak yang bersimpati. Ada yang secara langsung maupun melalui media sosial (medsos).

Semua rasa simpati tentang dirinya, adalah hal-hal positif. Tidak ada satupun yang negatif.

Sosok yang santun dalam berbicara, bijak dalam bersikap, supel dalam bergaul. Semuanya memberikan kesan sangat positif. Rekan kerja hingga keluarga menyebutnya sebagai orang hebat.

Saya termasuk orang yang menyesal karena tidak bisa ikut mengantarkannya langsung ke liang lahat. Maklum, penerbangan dari Batam menuju Balikpapan rata-rata pukul 12.00-16.00 WIB. Belum lagi perjalanan dari Balikpapan menuju Samarinda yang memakan waktu paling cepat 1,5 jam.

Bisa dipastikan, saya tidak akan sempat menjenguk sahabat saya ini.

Alhasil, hanya doa saja yang kukirim. Saya pun hanya mengikuti prosesi pemakaman melalui foto dan video yang di-share di whatsapp dan medsos oleh rekan-rekan saya di Kaltim.
Yang pasti, campur tangan Rizal dalam karier saya cukup besar. Dialah orang yang membantu saya dalam ikut membesarkan Bontang Post dan membangun Metro Samarinda.

Seorang sahabat yang nyaman untuk diajak berdiskusi dan bertukar pikiran.

Ketika saya ditugaskan memimpin Batam Pos pada 11 Juli 2017 lalu, dia adalah salah satu orang yang ikut meyakinkan saya untuk berangkat. Dia juga memberikan motivasi dan dukungan penuh agar saya tetap fokus, berani menerima tantangan, serta percaya diri menghadapinya.

So, ketika awal-awal saya bertugas di Batam Pos, saya sering curhat maupun sharing dengannya. Namun sejak saat itu kami tidak pernah bertatap muka lagi. Komunikasi hanya melalui telepon, medsos, atau Whatsapp.

Tapi itulah takdir. Tidak ada yang tahu. Mati bisa menghampiri kita kapan saja. Mati tidak harus tua.

“Ingat wal (panggilan teman dalam bahasa Banjar). Lebih baik pulang tinggal nama daripada gagal menjalankan tugas,” pesan Rizal Juraid yang sekilas mirip moto Kopassus itu. (*)

 

Guntur Marchista Sunan
General Manager Batam Pos