ilustrasi

batampos.co.id – Aspek kehalalan kapsul yang kulitnya terbuat dari gelatin babi sempat menimbulkan polemik. Tetapi sebentar lagi publik tidak perlu khawatir lagi. Sebab Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) sudah berhasil membuat cangkang kapsul dari ekstrak rumput laut.

Kepala BPPT Unggul Priyanto menuturkan inovasi cangkang atau kulit kapsul dari bahan rumput laut sudah sampai tahap pembuatan prototipe.

’’Tinggal di-scale up atau skala bisnis,’’ katanya dalam peluncuran inovasi cangkang kapsul dari ekstrak rumput laut di Jakarta kemarin (4/4).

Dalam riset cangkang kapsul itu, BPPT bekerjasama dengan PT Kapsulindo Nusantara. Sebuah perusahaan yang bergerak dalam pembuatan kulit kapsul. Menurut Unggul saat ini PT Kapsulindo sedang berfokus pada pembuatan mesin untuk produksi kulit kapsul berbahan dasar ekstrak rumput laut. Diharapkant ahun depan produk cangkang kapsul itu sudah bisa diproduksi masal.

Unggul menyampaikan selama ini sering ada polemik terkait dengan kehalalan sebuah kapsul. Sebab kulit kapsul banyak dibuat dengan bahan dasar gelatin. Dimana gelatin itu diambil dari kulit atau tulang muda ikan, sapi, atau bahkan babi. ’’Sering kali kapsul menjadi pertanyaan masalah kehalalan. Dari bahan baku rumput laut, maka kita harapkan keraguan masyarakat terhadap masalah ini bisa kita atasi,’’ tutur Unggul.

Dia berharap penggunaan rumput laut sebagai bahan baku cangkang kapsul bisa meningkatkan nilai komoditas rumput laut nasional. Apalagi ketersediaan rumput laut sangat melimpah. Unggul berharap inovasi cangkang kapsul dari rumput laut bisa meningkatkan daya saing industri farmasi nasional. Kemudian juga memiliki nilai keekonimian tinggi dan diterima baik oleh masyarakat luas.

Pada kesempatan yang sama Unggul juga mengenalkan inovasi BPPT di bidang kesehatan lainnya. Yakni Kit Diagnostik Dengue (demam berdarah dengue/DBD). Melalui kit tersebut, diagnosa pasien yang diduga terserang DBD bisa dilakukan dengan mudah. Caranya adalah dengan menggunakan spesiemen darah, plasma, atau serum pasien. Secara otomatis kit akan mengeluarkan indikator positif atau negatif DBD. Bentuk dan ukuran alat ini mirip seperti tes kehamilan atau test pack.

Dirjen Kefarmasian dan Alat Kesehatan Kemenkes Maura Linda Sitanggang menyambut baik inovasi BPPT di bidang kesehatan itu. Dia mengatakan saat ini 90 persen alat kesehatan masih impor. Penyebabnya adalah alat kesehatan yang diproduksi di dalam negeri masih teknologi rendah dan menengah. ’’Alat deteksi penyakit dengue sangat dibutuhkan,’’ katanya.

Selain itu Maura juga menyampaikan inovasi cangkang kapsul dari ekstrak rumput laut patut diparesiasi. Sebab memanfaatkan bahan nabati yang ada di Indonesia. Dia mengungkapkan sampai saat ini belum ada produk cangkang kapsul yang berasal dari rumput laut. Inovasi ini diharapkan juga mempu mengurangi ketergantungan impor untuk produks farmasi dan produk pendukungnya. (wan/jpg)

Respon Anda?

komentar