Ilustrasi perceraian. Foto: pixabay

Ini kisah Karin, 28, dan Donwori, 26, yang lain.

Karin, perempuan asal Dukuh Menanggal Surabaya ini harus mengalami pahitnya perpisahan untuk kedua kalinya. Setelah perceraian dengan suami pertamanya, ia membuka jaringan pertemanan seluas-luasnya hingga mengantarkannya bertemnu dengan Donwori, suaminya saat ini. Dari pernikahan keduanya ini, Karin mengharapkan adanya perlindungan dan kehidupan yang lebih harmonis. Nyatanya, apa yang diharapkan dan diimpikan meleset.

“Keinginanku menikah yang kedua ini harapanya untuk mencari ketenteraman, tapi ternyata perkiraanku meleset,” ujarnya saat ditemui Radar Surabaya di Ruang Tunggu Pengadilan Agama Kelas 1 Surabaya.

Pertemuan Karin dan Donwori dimulai ketika dirinya dalam masa pemulihan setelah perceraian yang pertamanya. Karin yang mencari pelarian dari luka, sering berkumpul dengan sepupu laki-lakinya yang memiliki jalinan pertemanan yang luas. Dari sinilah benih-benih cinta Karin tumbuh.

Dari pertemuan pertama, Karin langsung merasa tersentuh dengan Donwori karena selama berinteraksi, Donwori menunjukkan sikap peduli kepada Karin. Pertemuan singkat itu jugalah yang mengantarkan keduanya untuk menikah. Awalnya, keputusan mendadak ini ditolak mentah-mentah oleh sepupu Karin karena sudah tahu luar dalam sahabatnya itu. Namun, karena sudah kadung trisna (terlanjur cinta) larangan itu tak digubris Karin.

“Tidak saya tanggapi (larangan sepupunya) karena selama ini dia (Donwori) tidak menunjukkan gelagat yang aneh-aneh. Mas (sepupu) saya saja yang terlalu negatif pikirku saat itu,” ungkap Karin.

Sialnya, yang dikhawatirkan oleh sepupu Karin akhirnya semuanya benar. Baru menikah beberapa bulan, sikap asli Donwori mulai muncul satu per satu. Yang pertama, yakni kecanduan mabuk. Mendem (mabuk) yang dilakukan bisa seminggu tiga kali. Imbasnya, penghasilan Donwori yang pas-pasan memotong uang belanja untuk Karin.

“Baru lima bulan menikah nampak sifat aslinya, selalu minum di setiap ada kesempatan,” ujarnya.

Selain mabuk-mabukan, Karin mengungkapkan, sikap Donwori berubah ganas saat mabuk. Donwori kerap menumpahkan seluruh amarahnya kepada Karin berupa bogem mentah dari sang suami. Ibaratnya, Karin dijadikan sansak hidup oleh Donwori

“Ya sudah, cukup sampai di sini tidak saya teruskan lagi rumah tangga kami. Bisa-bisa remuk badan dan dompet saya,” pungkasnya. (sb/jpg/jek/JPR)

Respon Anda?

komentar