batampos.co.id – Sejumlah perguruan tinggi di Kepri, khususnya di Batam, terus berbenah meningkatkan fasilitas dan kualitas. Bahkan ada kampus di Batam yang kompetensinya sudah diakui internasional. Jurusan yang ditawarkan juga makin beragam, sehingga lulusan SLTA di Kepri tak perlu jauh-jauh ke luar daerah untuk kuliah.

Empat orang pria dan wanita berdiri di balik bartender Numero Uno Restaurant, Batam, Kamis (5/4) sore lalu. Satu dari ketiganya meracik minuman. Dalam sekejap, minuman itu, kemudian siap diantarkan ke pemesan. Seorang wanita yang berdiri di depan meja bartender sigap membawa minuman dan menyajikannya kepada pemesan. Pria di balik bartender kemudian kembali lagi meracik minuman yang berbeda untuk tamunya.

Aktivitas itu bukanlah di restoran atau cafe di hotel berbintang. Numero Uno Restaurant adalah laboratorium bagi mahasiswa program studi Food and Beverage Management di Kampus Batam Tourism Polytechnic (BTP). Meski begitu, fasilitas dan dekorasinya tak ubahnya restoran di hotel pada umumnya.

Batam Tourism Polytechnic (BTP) atau Politeknik Pariwisata Batam menempati bangunan yang lebih mirip hotel. Fasilitasnya lobi, resepsionis, ruang kelas yang dilengkapi LCD projector, layar dan pendingin udara, perpustakaan, laboratorium komputer Natuna Function Room, musala, jogging track, lapangan futsal, dan pusat kebugaran (gym).

Awalnya BTP mendapatkan izin dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia untuk menyelenggarakan tiga Program Studi Diploma III dengan nomor 92/E/O/2014 pada 9 Mei 2014. Lalu diresmikan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia saat itu, pada 15 September 2014.

Kemudian BTP mendapatkan izin revisi untuk meningkatkan program studi menjadi Diploma IV dengan nomor 504/E/O/2014 dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, pada 17 Oktober 2014. Kini BTP memiliki tiga program studi yaitu Room Divison Management, Culinary Management, Food and Beverage Management. Lulusannya akan bergelar Diploma IV setara sarjana S1 di bidang pariwisata.

“Satu-satunya di Indonesia yang sudah mendapat izin dari Menristek Dikti untuk Politeknik Pariwisata untuk menyelenggarakan Diploma IV, khusus tiga program studi itu,” ujar Deputy Director I BTP, Syaifuddin Rais, Kamis (5/4).

BTP didukung oleh STP-Bandung (NHI) dan STP Nusa Dua Bali dan juga berafiliasi dengan IMI Switzerland. Meski begitu, BTP bisa dikatakan lebih unggul dibanding pendahulunya itu karena program studinya sudah level Diploma IV untuk tiga program studi tersebut. Sementara di STP Bandung dan STP Nusa Dua Bali, program studi itu masih level Diploma III.

“Kalau di NHI Bandung ada D IV juga tapi program studi Administrasi Perhotelan, D IV Travel. Beda program studi,” katanya.

Saat ini jumlah mahasiswa BTP memang belum banyak karena baru buka pada tahun 2014 lalu. Jumlahnya 320 mahasiswa untuk semua angkatan. Untuk tahun akademik 2018/2019, BTP telah membuka penerimaan mahasiswa baru. Penerimaan calon mahasiswa gelombang pertama telah dibuka September-November 2017 lalu. Kemudian gelombang kedua pada Desember 2017-Februari 2018. Selanjutnya gelombang ketiga pada Maret-Mei 2018.

“Target calon mahasiswa yang akan kita terima tahun ini sebanyak 300 orang. Pendaftaran dibuka hingga Agustus karena ada penerimaan gelombang keempat dari Juni sampai Agustus,” jelas pria yang biasa disapa Yos ini.

Karena pendaftaran dibuka bergelombang, biaya awal pun berbeda. Misalnya gelombang ketiga ini, biaya awal Rp 4 juta, dan gelombang keempat biaya awalnya Rp 8 juta. Biaya awal itu bisa dicicil. Biaya awal ini sudah termasuk biaya formulir pendaftaran, uang pangkal, biaya Hospitality Depelovment Program (HDP), dan biaya seragam tahap satu.

Yos mengakui, biaya kuliah di BTB terkesan mahal. Sebab program pendidikan di BTP menerapkan sistem satu pekan teori dan satu pekan praktik. Atau 60 persen praktik dan 40 persen teori. Itu akan terus berlanjut sampai mahasiswa lulus. Jadi praktik membutuhkan biaya besar. Ia mencontohkan, untuk praktik selama empat hari, Senin sampai Kamis, rata-rata biayanya antara Rp 19-Rp 20 juta.

“Tapi jika dibandingkan dengan apa yang didapat mahasiswa, biaya itu tidak mahal,” ungkapnya.

Sementara untuk praktik kerja di hotel, baik di dalam negeri maupun luar negeri, BTP tidak menanggung atau biaya pribadi mahasiswa. Seperti biaya keberangkatan, visa, dan akomodasi selama praktik kerja. Namun BTP tetap memfasilitasi mahasiswa untuk mendapatkan tempat praktik kerja.

“Tetapi rata-rata mahasiswa yang praktik kerja, misalnya di Ritz Carlton Hongkong mendapat (gaji) delapan juta kalau dirupiahkan per bulan. Kalau di Hilton di Dubai itu tiga jutaan,” jelasnya.

Untuk penempatan praktik kerja, BTP sudah menjalin kerja sama dengan hotel-hotel berbintang di Indonesia maupun di luar negeri. Rata-rata hotel berbintang lima di Jakarta, Bali, Bandung, dan Bintan.

Di luar negeri pun demikian, seperti Intercontinental Doha (Qatar), Arrayan Hotel Doha by Curio, Waldorf Astoria Ras Al-Khaimah di Dubai (Uni Emirat Arab), Trader’s Hotel Kulalulumpur, dan sejumlah resort di Maladewa (Maldives).

“Terbaru kita kerja sama dengan Ritz Carlton di Hongkong. Sudah 12 mahasiswa kita lolos untuk training pada bulan Juni,” ungkap dia.

Dengan pengalaman kerja di hotel-hotel berbintang lima tersebut, lulusan BTP sudah siap masuk dunia kerja. Sebab mereka sudah punya pengalaman kerja sebelum lulus. Satu tahun praktik kerja industri dan satu tahun lagi di kampus. Hitungannya, selama empat tahun di kampus bila dikalkulasi dengan skema satu pekan teori dan satu pekan praktik maka ia sudah menempuh praktik kerja selama satu tahun juga. Dengan demikian, mereka sudah punya pengalaman kerja dua tahun.

Karena baru memasuki tahun keempat, BTP baru akan mewisuda lulusan pertama pada akhir tahun ini. Meski belum ada lulusan, BTP sudah menjamin tidak akan ada yang menganggur. BTP telah menjalin kerja sama dan menandatangi kontrak kerja dengan jaringan Intercontinental Hotel yang akan menyerap semua lulusan BTP.

“Jadi sudah terjamin semua lulusan kita akan bekerja. Kita berani bilang, zero pengangguran dengan skema seperti ini,” tegas Yos.

***

Berbeda dengan Universitas Internasional Batam (UIB) yang berdiri sejak tahun tahun 2000 oleh Yayasan Marga Tionghoa Indonesia (YMTI). Saat ini mahasiswanya sudah berjumlah 4 ribu-5 ribu orang. Sebab tiap tahunnya penerimaan mahasiswa baru terus meningkat.

Tahun akademik 2018/2019 saja target mahasiswa baru sebanyak 1.000-1.300 mahasiswa. Targetnya dari berbagai daerah. Mereka akan diterima pada delapan jurusan S1. Yakni jurusan Manajemen, Akuntansi, Pariwisata, Sistem Informasi, Ilmu Hukum, Teknik Sipil, Teknik Elektro, dan Pendidikan Bahasa Inggris (PBI).

Di antara delapan jurusan tersebut, jurusan Manajemen tetap yang favorit. Jadi setiap tahun jurusan Manajemen paling banyak menerima mahasiswa baru. Kemudian secara akreditasi kebanyakan jurusan di UIB sudah mendapat akreditiasi B. Kecuali jurusan Akuntansi dan jurusan Ilmu Hukum sudah mendapat akreditasi A.

“Sedangkan untuk juruan Pendidikan Bahasa Inggris belum mendapat akreditasi karena izinnya baru keluar. Nah tahun ini, di akhir tahun akan diajukan akreditasinya,” kata Head of Public Relations Department UIB, Listia Nurjanah.

Kemudian tahun ini juga UIB melakukan reakreditasi atau akreditasi ulang untuk semua jurusan. Sejauh ini jurusan Ilmu Hukum telah mendapatkan kembali akreditasi A untuk lima tahun ke depan.

“Yang lainnya masih menunggu (hasil akreditasi). Mudah-mudahan yang mendapat akreditasi A, tetap A, dan yang B menjadi A,” katanya berharap.

Selain proses akreditasi tiap jurusan, UIB juga sedang mengajukan akreditasi universitas. Harapannya mendapat akreditasi A. Akreditasi universitas tidak hanya meliputi penilaian pada tiap jurusannya, tetapi tiap biro di perguruan tinggi ikut dinilai kualitasnya.

Baik akreditasi jurusan maupun akreditasi universitas bertujuan agar mahasiswa mendapat jaminan bahwa mereka belajar di perguruan tinggi yang sudah diakui negara. Bagi UIB, akreditasi menjadi salah satu daya tarik calon mahasiswa agar masuk UIB.

Menurut Listia, sebagai universitas berkualitas internasional, UIB memilik fasilitas yang lengkap. Mulai ruang kelas yang nyaman, auditorium, computer lab, perpustakaan, medical room, sport hall, bar and restaurant lab, bar and kitchen lab, hingga studio musik. Bahkan bebas Wifi di semua area. “Dari sisi kelas, kami sudah menggunakan AC, LCD, papan tulisnya udah kaca,” katanya.

UIB sendiri banyak menawarkan program kepada calon mahasiswa maupun mahasiswanya. Dari segi program sendiri, salah satunya program internasional yang bekerja sama dengan lebih dari 37 univesritas luar negeri. Antara lain di Korea Selatan, Tiongkok, Taiwan, Malaysia, Thailand, dan Jepang. Dengan universitas luar negeri itu, UIB menjalankan program pertukaran mahasiswa, program credit transfer, dan program joint degree.

Inlah salah satu terobosan UIB, sehingga program-program internasional itu banyak yang menarik calon mahasiswa untuk masuk UIB. Sebab dengan program tersebut, kuliah di UIB bisa sambil belajar dan bekerja. Bahkan saat belajar di luar negeri.

“Jadi bisa kerja sambil jalan-jalan di sana juga. Nama programnnya misalkan credit transfer dan joint degree, bisa 2+2 program,” jelasnya.

Tidak hanya program-program internasionalnya, secara kualitas UIB juga sudah diakui. Berdasarkan pemeringkatan oleh Menristek Dikti, UIB menempati peringkat pertama di Provinsi Kepri. Secara kancah nasional, UIB juga menjadi salah satu perguruan tinggi yang diperhitungkan.

UIB juga makin memikat karena menawarkan banyak beasiswa. Mulai beasiswa parsial atau sebagian sampai beasiswa penuh. Beasiswa parsial mendapat potongan uang gedung 50 persen sampai 100 persen, atau potongan uang kuliah 25 persen selama enam semester dan potongan uang gedung 100 persen, atau potongan uang kuliah 50 selama 6 semester dan 100 persen uang gedung.

Sementara beasiswa penuh ada dua jenis. Pertama, Beasiswa Cemerlang yang memberikan gratis uang kuliah selama tujuh semester dan memiliki kesempatan magang di UIB. Beasiswa ini ditujukan untuk mahasiswa yang memiliki prestasi akademik dan non akademik minimal level provinsi, serta lolos USM dengan nilai standar UIB.

Kedua, Beasiswa Insan Mandiri yang memberikan gratis uang kuliah selama tujuh semester dan memiliki kesempatan magang di UIB, ditujukan untuk mahasiswa yang kurang mampu secara ekonomi, namun memiliki prestasi akademik dan non akademik minimal tingkat kota serta lolos USM dengan nilai standar UIB.

“Jadi semua beasiswa harus lolos ujian saringan masuk (USM) UIB. Ada ujian tertulis, ada ujian wawancara,” katanya.

Saat ini UIB sudah membuka pendaftaran mahasiswa baru untuk gelombang kelima sampai akhir April. Pendaftaran berikutnya untuk gelombang keenam sampai gelombang kesembilan pada awal Agustus mendatang. Hingga pekan lalu, jumlah pendaftar dan sudah melalui ujian mencapai 800 calon mahasiswa. “Mereka ini sudah lulus ujian dan terdaftar sebagai mahasiswa,” tegasnya.

Adapun biaya masuk di UIB berbeda tiap gelombang pendaftaran. Misalnya gelombang kelima ini bisa mencapai Rp 15 juta-Rp 18 juta. Bahkan untuk pendaftar gelombang kesembilan bisa mencapai Rp 20 juta. Lebih mahal dibanding pendaftar pada gelombang pertama sampai ketiga yang mendapat potongan yang pembangunan sampai Rp 5 juta. Uang pembangunan makin mahal juga tergantung hasil ujian. Sementara biaya per semesternya antara Rp 8 juta sampai Rp 9 juta.

Selama lebih dari 17 tahun berdiri UIB terus diminati dan menghasilkan lulusan yang diakui. Rata-rata lulusannya banyak diterima bekerja di berbagai perusahaan atau bekerja sendiri. Menurut Listia, 99 persen lulusan UIB langsung bekerja. Karena sebagian besar mahasiswanya sudah mulai bekerja pada semester ketiga. Melalui karya center, UIB menyebarkan lowongan kerja baik di website maupun mading. Sebagian kecil ada yang melanjutkan usaha orang tuanya.

Data ini tidak asal-asalan karena ada pelacakan alumni. Ada laporan lulusan UIB bekerja di mana, posisinya di perusahaan atau tempat kerja. Apakah pekerjaannya sesuai jurusan. “Jadi alumni tetap kami hubungi. Ada laporan tiap tahun dan itu harus dilaporkan ke pemerintah juga,” katanya.

***

Kampus Politeknik Negeri Batam, Foto: Rezza Herdiyanto/Batam Pos

Seperti UIB, Poltikenik Negeri Batam juga mulai dirintis tahun 2000. Awalnya berstatus perguruan tinggi swasta. Namun pada tanggal 18 Oktober 2010, pemerintah melalui Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 26 Tahun 2010 menetapkan secara resmi Polibatam menjadi PTN dengan nama Politeknik Negeri Batam. Politeknik Negeri Batam satu-satunya Perguruan Tinggi Negeri (PTN) vokasi di Batam.

Humas Politeknik Negeri Batam, Erick Saputra Wisnugraha, mengatakan sebagai satu-satunya perguruan tinggi negeri di Batam, tentunya Politeknik Negeri Batam bisa menjadi prioritas dan bersaing dengan perguruan tinggi swasta yang ada di Batam. Sebab jika dilihat dari prestasi mahasiswa dan lulusan, Politeknik Batam sudah beberapa kali mengharumkan nama Indonesia di ajang internasional.

“Seperti 2017 lalu kami meraih juara 4 dunia pada kompetisi robot sepak bola di Nagoya, Jepang. Dan juga lulusan kami dapat dibilang serapan ke dunia kerja hampir 80 persen langsung kerja. Kemudian beberapa di antaranya membuka usaha sendiri,” ujar Erick, Jumat (6/4).

Tak heran, peminat Politeknik Batam semakin banyak. Untuk penerimaan mahasiswa baru tahun ini, lanjut Erick, Politkenik Batam banyak melakukan persiapan seperti peningkatan mutu pendidikan dan pelayanan di kampus, pembangunan gedung untuk kelas mahasiswa baru. “Dan juga promosi-promosi program program studi yang ada pada media sosial dan website resmi kami,” ungkapnya.

Politeknik Batam memiliki 15 program studi. Untuk jurusan Teknik Mesin, terdiri dari program studi Teknik Mesin (D3), Teknik Perawatan Pesawat Terbang (D3), Teknik Perencanaan Konstruksi Kapal (D3). Jurusan Teknik Elektronika, terdiri program studi Teknik Elektronika (D3), Teknik Instrumentasi (D3), Manufaktur Elektro (D3), Teknik Kecerdasan Buatan dan Robotika (D4), dan Teknik Mekatronika (D4).

Berikutnya, jurusan Teknik Informatika, terdiri dari program studi Teknik Geomatika (D3), Teknik Informatika (D3) dan Teknik Multimedia dan Jaringan (D4), Animasi (D4). Jurusan Manajemen Bisnis, terdiri dari program studi Akuntansi (D3), Akuntansi Manajerial (D4) dan Administrasi Bisnis Terapan (D4).

“Dan di tahun ini juga kami sedang mempersiapkan pembukaan prodi yang baru di Manajemen Bisnis yaitu prodi logistik,” ungkapnya.

Di antara program studi itu, Politeknik Batam memiliki tiga jurusan unggulan di bidang teknik yaitu Teknik Informatika, Teknik Elektro, dan Teknik Mesin. Dari ketiga jurusan teknik itu, calon mahasiswa bebas memilih berbagai program studi yang ditawarkan. Baik jenjang D III atau D IV sesuai dengan minat dan bakat masing-masing.

Adapun akreditasinya, jelas Erick, beberapa program studi sudah berakreditasi A. Seperti jurusan D3 Akuntansi dan D4 Mekatronika. Sementara program studi yang lain masih berakreditasi B. “Ke depan tentunya kami akan terus meningkatkannya agar menjadi akreditasi A untuk semua prodi yang ada,” ucap dia.

Untuk penerimaan mahasiswa baru dengan perkuliahan Reguler pagi tahun ajaran 2018/2019 Polibatam membuka dua jalur penerimaan. Pertama jalur Penelusuran Minat dan Kemampuan Politeknik Negeri (PMDK-PN). Kedua, jalur Ujian Masuk Politeknik Negeri (UMPN). UMPN merupakan jalur ujian tertulis yang dilakukan secara serentak oleh Politeknik Negeri se-Indonesia. Sementara perkuliahan reguler malam tahun ajaran 2018/2019 Politeknik membuka UMPB dengan 3 gelombang.

Adapun biaya kuliah per semester tergantung jurusan yangg akan di pilih. Biaya perkuliahan terdiri dari enam katagori.
Mulai nol rupiah hingga Rp 18 jutaan. Kategori satu hingga kategori tiga untuk mahasiswa tidak mampu tetapi berprestasi. Sementara kategori empat hingga kategori enam merupakan biaya normal perkuliahan. Untuk tiap program studi berbeda-beda. (Selengkapnya lihat grafis).

Selain meningkatkan mutu pendidikan dengan akreditasi yang bagus, Politeknik Batam juga memerhatikan kenyamanan tempat kuliah serta pelayanannya. Menurut Erick, dapat dilihat dari pembangunan pembangunan gedung yang terus di tingkatkan. Pada 2017 lalu gedung tower A Polteknik Batam sudah diresmikan oleh Prof Mohammad Nasir dan gedung pun berganti dengan nama beliau, gedung MONAS.

“Kemudian tahun ini kami akan membangun hanggar untuk pesawat, dan ke depan masih banyak lagi,” katanya.

***

Perguruan tinggi negeri lainnya, Universitas Maritim Raja Ali Haji (UMRAH) Tanjungpinang tengah memburu akreditasi terbaik untuk sejajar dengan Perguruan Tinggi Negeri (PTN) yang ada di Indonesia. Pasalnya dari 19 program studi yang ada di UMRAH, belum satupun yang mengantongi Akreditasi A.

“Tentu ini menjadi target kita ke depan,” ujar Wakil Rektor I Bidang Akademik, Kemahasiswaan, dan Kerja Sama, Prof Rayandra Asyhar, Sabtu (7/4) di Tanjungpinang.

Dia merinci, dari 19 prodi tersebut berada dalam lima fakultas. Fakultas Teknik, prodi andalannya adalah Teknik Elektro dan Teknik Informatik. Kemudian Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan terdiri dari Ilmu Kelautan, Manajemen Sumberdaya Perairan, Teknologi Hasil Perikanan, dan Sosial Ekonomi Perikanan.

Berikutnya adalah Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP). Adapun Prodi andalannya adalah Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Pendidikan Bahasa Inggris, Pendidikan Matematika, Pendidikan Kimia, dan Pendidikan Biologi. Selanjutnya adalah Fakultas Ekonomi dengan dua prodi, yakni Akuntasi dan Manajemen.

Sedangkan yang kelima adalah, Fakultas Ilmu Sosial dan Politik. Prodi-prodi andalannya adalah Ilmu Administrasi Negara, Ilmu Pemerintahan, Sosiologi, Ilmu Hukum, dan Hubungan Internasional.

Hanya saja, lanjutnya, untuk daya tampung yang tersedia memang masih terbatas. “Kami akan terus berusaha dan bekerja keras untuk menjadikan UMRAH Tanjungpinang sebagai salah satu PTN terbaik di Indonesia khususnya di bidang maritim,” papar Rayandra.

Dijelaskannya, untuk penerimaan mahasiswa baru tahun ini, proses Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNBPTN) sudah dimulai sejak 13 Januari 2018 lalu. Pengumuman hasil tersebut akan disampaikan pada 17 April mendatang.

“Sedangkan Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SMBPTN) akan dilaksanakan pada 8 Mei 2018 mendatang. Hasilnya akan diumumkan pada 3 Juli 2018,” paparnya lagi.

Sementara itu, Seleksi Mandiri Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SMMPTN) akan dibuka pada Juni 2018 nanti. Dilanjutkan ujian tertulis pada Juli 2018, begitu juga dengan penyampaian hasilnya. Mengenai rencana penerimaan mahasiswa baru tersebut, proses sosialisasi sudah dilaksanakan sejak 5 Februari lalu di 6 kabupaten/kota di Kepri.

Ditambahkannya, untuk tarif uang kuliah tunggal bervariasi. Sebab dibedakan dalam lima kelompok. Adapun uang kuliah untuk jalur SNMPTN dan SBMPTN berlaku dari kelompok I sampai V. Khusus untuk jalur SMMPTN diberlakukan uang kuliah kelompok V.

“Untuk kelompok I, biayanya Rp 500 ribu. Sedangkan kelompok V mulai dari Rp 4 juta sampai Rp 4,7 juta,” katanya. (AHMADI SULTAN, Batam)

Respon Anda?

komentar