Upaya untuk menumbuhkan kembali ekonomi Batam terus dilakukan. Semua pihak sepakat jika perekonomian “tetangga” Singapura ini harus sehat, kuat, dan kokoh.

Dahsyat. Spektakuler. Itulah sedikit gambaran untuk mewakili event Batam Menari. Lautan manusia memenuhi bundaran Batam Center. Museum Rekor Indonesia (MURI) mencatatnya sebagai rekor baru.

Event garapan Badan Pengusahaan (BP) Batam itu mampu menyedot perhatian orang. Tidak hanya dari Batam. Melainkan dari seluruh penjuru negeri ini.

Wisatawan domestik berdatangan sejak Jumat (6/4) melalui Bandar Udara Hang Nadim. Kebetulan, saat itu saya sedang ada jadwal pertemuan dengan Direktur Badan Usaha Bandar Udara (BUBU) Hang Nadim, Suwarso.

Parkiran bandar udara internasional itu sudah penuh sejak pagi. Bus maupun mobil tampak terparkir rapi. Beberapa saya lihat terpasang spanduk atau stiker bertuliskan nama daerah. Saking ramainya, saya pun kesulitan mencari tempat parkir. Hehehehe

Di pintu kedatangan saya memerhatikan lalu-lalang orang yang membawa koper besar sambil menyeruput kopi di sebuah kafe. Karena penasaran saya pun iseng. Pertanyaan pun muncul.

“Ada agenda apa di Batam,” tanya saya kepada salah satu orang yang duduk di meja sebelah saya. “Mau ikut Batam Menari,” jawab pria paruh baya itu. Katanya, dia berasal dari Bandung, Jawa Barat (Jabar). Dia tidak sendiri. Melainkan bersama kelima rekannya.

Memang. Tidak semua penumpang yang turun, saya tanya. Kebetulan saya ada janji bertemu Direktur BUBU Hang Nadim. Namun setidaknya sudah ada gambaran jika kesibukan bandara pagi itu karena event Batam Menari. Event lokal itu bikin heboh seantero negeri.

Siang harinya selepas salat Jumat, saya dapat penjelasan yang lebih rinci dari kepala BP Batam, Lukita Dinarsyah Tuwo. Peserta tidak hanya berasal dari Batam, tapi juga dari berbagai daerah di Indonesia. Luar biasa.

Yang menarik, event menjadi salah satu daya tarik tersendiri untuk mendatangkan wisatawan. Maklum, sejauh ini Batam masih menjadi tempat tujuan untuk weekend. Tidak hanya wisatawan domestik, melainkan juga mancanegara.

Kabar baiknya, Lukita menyebut jika hotel dan penginapan di Batam terisi penuh. Bahkan, saya dan keluarga pun tidak kebagian hotel untuk merayakan weekend. Kami pun terpaksa weekend di rumah. Hahahahaha

Kenapa memilih di rumah? Karena sejak Sabtu (7/4), jalanan di Batam Center macet total. Buktinya, waktu tempuh dari kantor saya di Graha Pena menuju Perumahan Taman Raya tahap III lebih lama. Sekira 2,5 jam baru sampai. Saya dan keluarga pun takut keluar. Malas kena macet. Hihihihihi

Meski tidak datang langsung, namun saya menyaksikan sendiri kemeriahan Batam Menari lewat foto dan video yang dikirim melalui grup whatsapp karyawan Batam Pos dan media sosial (medsos). Benar-benar luar biasa. Ramai. Meriah.

Terlepas dari kemeriahan itu, ada memang ada “misi terselubung” dari BP Batam. Sebuah misi mulia. Yaitu menggairahkan perekonomian Batam. Ini yang harus kita dukung.

Apakah hanya dengan pariwisata? Tidak juga. Namun setidaknya ada niat baik untuk mengembalikan kejayaan Batam. Ada upaya untuk meningkatkan ekonomi. Lebih baik berusaha daripada tidak sama sekali. Apalagi kalau cuma mengkritik. Ups

Tidak hanya pariwisata, pembenahan infrastruktur dan pembangunan destinasi wisata baru juga akan menjadi salah satu cara memperbaiki ekonomi Batam. Plus regulasi yang tidak berbelit-belit dan kebijakan yanh pro terhadap investasi jadi faktornya.

Bagi saya, Batam Menari dapat menumbuhkan optimisme bagi Batam. Mungkin, saat ini dampaknya belum terlihat. Tapi jika event itu rutin digelar, akan menarik wisatawan untuk datang.

Kalau wisatawan domestik dan mancanegara berbondong-bondong ke Batam, sudah pasti ekonomi akan berputar. Tingkat okupansi hotel tinggi. Tidak lesu lagi. Bahkan bisa menarik investor untuk berinvestasi di Batam.

Ini yang kita inginkan bersama. Ekonomi Batam tumbuh, masyarakat sejahtera. Sukses untuk Batam Menari. Terima kasih telah menumbuhkan optimisme bagi Batam. ***

 

Guntur Marchista Sunan
Direktur Batam Pos

Respon Anda?

komentar