ilustrasi

batampos.co.id – Kejahatan skimming masih terus mengancam nasabah perbankan di Indonesia. Bahkan, peralatannya skimming dijual dengan bebas di Pasar Glodok, Jakarta.

Iklan

Dalam diskusi kejahatan Skimming yang digelar Divhumas Polri, Komisaris MNC Bank Eko B. Supriyanto menuturkan, alat skimming berupa cocor bebek dan sebagainya itu sangat mudah didapatkan di Indonesia.

”Di Glodok juga ada,” tuturnya, Selasa (10/4).

Dengan begitu, potensi kejahatan itu masih bisa terjadi. Dia menuturkan, yang pasti kondisi ini harus direspon dengan perbaikan regulasi dan pengawasan yang lebih ketat.

”Tentunya, dengan pergantian chip kartu debit,” terangnya.

Sayangnya, biaya untuk chip itu besar, untuk satu kartu saja membutuhkan sekitar 2 dollar Amerika. Kalau untuk sekitar 161 juta kartu debit, maka dibutuhkan lebih dari USD 70 juta.

”Ini biaya yang besar sekali,” paparnya.

Sementara Wadir Direktorat Tindak Pidana Ekonomi Khusus (Dittipideksus) Bareskrim Kombespol Daniel Silitonga menjelaskan, kalau untuk penjualan alat skimming di Glodok itu kepolisian belum mengetahui.

”Informasi ini akan kami respon dengan pencarian,” paparnya.

Namun biasanya, sesuai pengalaman menangani kasus kejahatan skimming, para penjahatan itu belajar sendiri untuk membuat peralatan tersebut. Dia menuturkan, alat-alat itu dipelajari dari internet dan diujicoba sendiri.

”Rangkaiannya dan semuanya,” paparnya.

Alat-alat itu juga memiliki batas daya karena menggunakan baterai. Dia mengatakan, untuk cocor bebek itu terlihat dari closed circuit television (CCTV) kalau pelaku menggantinya seminggu sekali.

”Kamera CCTV yang dipasang penjahat itu juga diganti baterai seminggu sekali,” ungkapnya.

Sementara Manajer Teknik BRI Arga Budi Wiguna menuturkan, untuk mencegah skimming BRI telah menerapkan sejumlah fitur, yakni disable dan luar negeri.

”Untuk disable ini nasabah bisa mematikan penggunaan m-banking dan internet banking, kalau mau pakai baru diaktifkan. Jadi, bisa mencegah pengambilan uang,” tuturnya.

Lalum untuk fitur luar negeri ini, lanjutnya, nasabah bisa untuk menonaktifkan layanan di luar negeri.

”Jadi, penjahat di luar negeri tidak bisa memakainya. Kalau nasabah mau keluar negeri barulah aktifkan fitur ini,” terangnya. (idr/JPG)