Mark Zuckerberg meminta maaf berulang kali akibat Facebook mengalami kebocoran 87 juta data penggunanya (Daily Beast)

batampos.co.id – “Saya minta maaf.” Kalimat itu berkali-kali diucapkan pendiri Facebook Mark Zuckerberg.

Mark menghadapi sidang Kongres Amerika Serikat (AS) di Capitol Hill, Washington pada Selasa, (10/4/2018) waktu setempat.

Dihadapan 44 senator, ia diinterogasi selama lima jam.

Facebook mengakui, informasi pribadi 87 juta pengguna diakses tanpa seizin mereka. Zuckerberg juga mengakui, perusahaannya bekerja sama dengan orang nomor satu di special counsel, Robert Mueller dalam upaya investigasi tentang campur tangan Rusia di Pemilu Presiden 2016.

Seperti dilansir Reuters, Rabu, (11/4), ketika ditanya oleh Senator Demokrat, Patrick Leahy apakah Facebook telah menerima panggilan dari pengadilan untuk penasihat khusus, Zuckerberg menjawab “ya.”

Lalu ia mengklarifikasi, “Saya sebenarnya tidak mengetahui panggilan pengadilan. Saya sadar bahwa mungkin ada, tetapi kami bekerja dengan mereka,” jawabnya. Ketika ditanya apakah karyawannya telah diwawancarai, dia juga mengiyakan.

“Saya ingin berhati-hati di sini karena pekerjaan kami dengan penasihat khusus bersifat rahasia dan saya ingin memastikan bahwa dalam sesi terbuka saya tidak mengungkapkan sesuatu yang bersifat rahasia,” tambah Zuckerberg.

Kehadirannya pada sidang Komite Senat dan Kehakiman menandai pertama kalinya Zuckerberg telah bersaksi di depan Kongres AS. Dengar pendapat itu terjadi hampir sebulan setelah berita Cambridge Analytica, sebuah perusahaan data yang memiliki hubungan dengan kampanye Presiden Donald Trump, mengakses informasi dari sebanyak 87 juta pengguna Facebook tanpa sepengetahuan mereka.

Facebook sebelumnya mengatakan bahwa pada 2017 berbagi konten dan informasi lebih dari 3.000 iklan yang dijualnya ke akun-akun terkait Rusia dengan Mueller.

Setelah hampir lima jam interogasi oleh 44 senator AS, Zuckerberg mengulangi permintaan maaf yang dia buat sebelumnya untuk berbagai masalah yang telah dialami Facebook.

Masalah tersebut mulai dari kurangnya perlindungan data kepada agen Rusia yang menggunakan Facebook untuk mempengaruhi pemilihan AS.

Namun pria berusia 33 tahun itu berhasil menangkis janji-janji spesifik untuk mendukung peraturan Kongres dari jaringan media sosial terbesar di dunia dan perusahaan internet AS lainnya.

(ina/iml/trz/JPC)

Respon Anda?

komentar