Ilustrasi : Orang mengumandangkan azan (Zawaj)

batampos.co.id – Masih ada yang merasa suara azan sebagai sebuah kebisingan.

Salah satunya Menteri Lingkungan, Sains, Teknologi dan Inovasi di Ghana, Afrika Barat, Kwabena Frimpong Boateng. Ia melontarkan pernyataan yang kontroversial. Ia mengusulkan panggilan salat umat muslim ini diserukan melalui smartphone saja.

Sebagaimana JawaPos.com kutip dari GhanaWeb, Minggu (15/4), Boateng meminta kepada ulama muslim di wilayahnya untuk mengganti azan yang dikumandangkan lima kali sehari melalui pesan teks atau aplikasi WhatsApp saja.

Menurutnya, panggilan salat yang dikumandangkan melalui pengeras suara di masjid-masjid menyebabkan kebisingan dan mengganggu kenyamanan warga sekitar. Dia mengklaim bahwa jika panggilan salat atau azan diserukan melalui pesan teks atau WhatsApp, hal itu dapat mengurangi polusi suara di negara tersebut.

“€œDi rumah ibadah, mengapa suara itu (tidak) terbatas pada rumah ibadah saja. Mengapa waktu salat itu tidak ditransmisikan dengan pesan teks atau WhatsApp,”€ kata Boateng dalam sebuah pernyataan.

Menurutnya, imam salat akan lebih mudah untuk memberitahukan jamaahnya ketika waktu solat sudah tiba.

“€œPemimpin ibadah cukup mengirimkan pesan WhatsApp ke semua orang untuk menyampaikan sudah saatnya tiba untuk beribadah,” kata Boateng.

Dia menyadari bahwa idenya tentang azan melalui pesan teks atau WhatsApp dapat memicu kontroversi. Kendati demikian, dia meyakini sarannya mengganti panggilan ibadah dengan WhatsApp, layak untuk dipertimbangkan.

Tak butuh waktu lama, pernyataannya tentang azan dan polusi suara lantas mendapat kecaman. Orang-orang di media sosial mengecam pernyataannya tersebut. Kebanyakan kesal dan marah, bahkan ada yang sampai menyebut bahwa Boateng adalah ˜sampah€™.

Tidak berhenti di situ, pengguna media sosial lain mempertanyakan kompetensi Prof. Kwabena Frimpong Boateng sebagai Menteri Inovasi. Publik pun meminta dia untuk menunjukkan setidaknya salah satu penemuannya yang lebih bermanfaat daripada mempersoalkan azan.

(ryn/JPC)

Respon Anda?

komentar