Iklan

batampos.co.id – Licik benar cara narapidana (napi) penipu bermodus video perempuan tanpa busana menyembunyikan uang hasil memeras korbannya. Bukan menggunakan rekening atas nama keluarga atau kerabatnya, napi-napi tersebut membuat rekening dengan identitas palsu. Salah satu rekening dibuat dengan identitas orang yang sudah meninggal alias almarhum.

Iklan

Pekan lalu, polisi mengungkap kasus pemerasan yang dilakukan tiga napi Lapas Jelekong, Kabupaten Bandung. Para pelaku beraksi dengan memancing para korbannya dengan akun fiktif di media sosial. Mereka memasang foto dan status palsu demi menarik kaum hawa. Pemerasan itu dilakukan setelah para napi berhasil mendapatkan nomor kontak para korban. Setelah intens berhubungan via chat, mereka pun merayu dengan mengajak korban menikah dan melakukan phone sex hingga video call tanpa busana.

Saat itulah para napi merekam video korbannya tanpa busana, dan memeras korban dengan mengancam videonya akan disebarkan. Jumlah korban diperkirakan mencapai 300 orang.

Polisi menduga setiap napi yang dipekerjakan menjadi penipu ini mampu mendapatkan uang rata-rata Rp 30 juta tiap pekan. Dengan asumsi awal Polrestabes Bandung ada hampir seribu napi yang menjadi pekerja mencumbu rajuk via online, maka bisa jadi uang yang dikeruk napi-napi ini mencapai Rp 1 miliar.

Kepala Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Polrestabes Bandung, Ipda Dhenia Istika Dewi, menuturkan dari sekitar 1.290 napi, sekitar 80 persennya diduga melakukan penipuan modus video tanpa seuntai benang di tubuh. Dengan begitu, uang hasil kejahatan ini kemungkinan mencapai miliaran. ”Kami sedang melakukan penelusuran aset,” terangnya.

Untuk awalan, yang diketahui saat ini ada beberapa orang yang berperan untuk mengambil uang di bank. Orang tersebut bukan napi, melainkan kenalan dari salah seorang kepala blok di Lapas Jelekong, Kabupaten Bandung. ”Ya, dilihat apa ada uang hasil kejahatan jadi aset tertentu,” tuturnya, kemarin.

Saksi sekaligus napi yang juga melakukan penipuan berinisial GL mengakui bahwa uang hasil kejahatan itu masuk ke rekening yang sudah disiapkan oleh kepala kamar setiap sel. Kepala kamar ini biasanya mendapat nomor rekening dari kepala blok spara napi. ”Setahu saya begitu, orang luar yang ambil uangnya tiap pekan. Kenalannya kepala blok mungkin,” ujarnya.

Sudah menjadi peraturan wajib di kalangan napi penipu bahwa rekening penampung kejahatan ini tidak boleh menggunakan identitas asli, baik napi, keluarga kerabat atau kenalan. Maka, dapat dipastikan rekening dibuat dengan identitas palsu. ”Identitas palsu ini sudah biasa banget,” terangnya.

Namun, ada napi yang merasa kurang aman bila rekeningnya dengan identitas palsu. Maka, napi itu menggunakan rekening dengan identitas orang yang sudah meninggal alias almarhum. ”Rekening almarhum itu yang paling aman,” tuturnya.

Kapolrestabes Bandung Kombes Hendro Pandowo (tengah) saat memberikan keterangan pers.

Dari mana mendapat identitas untuk membuat rekening almarhum? Napi kasus penculikan anak ini langsung tertawa seakan menyindir.

”Kalau ada uang apa yang gak bisa, ah main perempuan aja bisa di dalam sono,” ungkapnya ditemui di Polrestabes Bandung.

Kapolrestabes Bandung, Kombes Hendro Pandowo, menuturkan untuk tindak pidana pencucian uang (TPPU) terhadap kejahatan penipuan video tanpa busana memang perlu waktu. Saat ini sedang dilihat rekening ini dananya mengalir ke siapa saja. ”Siapapun yang mendapat aliran dana ini juga akan diperiksa nantinya,” jelasnya.

Namun, yang juga begitu penting adalah soal video tanpa busana para korban. Hendro mengaku sebagai Kapolres menjamin video itu tidak akan menyebar dimana pun. ”Satu pun video tidak boleh diberikan ke siapapun kecuali kepentingan penyelidikan dan penyidikan,” terangnya.

Bila satu saja video diberikan ke satu orang, itu sudah berarti video diberikan pada satu juta orang. ”Dalam era digital ini sudah begitu, kami pastikan video itu semua tidak akan ada di dunia maya,” tegasnya.

Namun begitu, tentunya para korban juga diminta menyadari, ada kemungkinan video-video itu berada di tangan pihak lain sebelum polisi mengungkap kasus tersebut. ”Bisa begitu, kalau itu tidak kami jamin,” paparnya.

Lantas, kalau ada yang memeras dengan video tanpa busana, jangan transfer uang. Berikan saja surat tanda lapor polisi, nanti biar polisi yang mentransfer borgol ke penipu itu.

”Laporkan, kami yang urus penipu itu, ini baru cinta sejati. Polisi melindungi mengayomi karena cinta masyarakat. Bukan cinta palsu napi lalu memeras,” tuturnya. (idr/tau/JPG)