Muatan trailer dengan berat 6 ton jatuh di simpang Fanindo, Batuaji, Rabu (8/2), lalu. | Dalil Harahap/Batam Pos

batampos.co.id – Truk beroda sepuluh yang mengangkut tanah bebas hilir mudik di sepanjang jalan R Suprapto Batuaji. Aktivitas lalulintas sering macet sebab truk tersebut kerap membuat macet. Tumpahan tanah dari bak truk-truk tersebut juga mengotori badan jalan. Pengguna jalan lainnya mengeluhkan situasi jalan yang kurang bersahabat itu. Warga berharap agar aparat pemenerintah terkait segera mengambil tindakan tegas.

Pantauan Batam Pos di lapangan, hilir mudik truk pengangkut tanah ramai terlihat mulai dari simpang Barelang, Tembesi hingga ke kawasan Industri galangan kapal di Tanjunguncang. Itu karena truk-truk tersebut mengangkut tanah dari lokasi pemotongan bukit di sepanjang jalan Trans Barelang untuk diantar ke lokasi penimbunan lahan di wilayah Sagulung dan Tanjunguncang. Materil tanah yang dimuat truk umumnya rata dengan bak muatan.

Imbasnya lokasi jalan yang dilalui truk jadi tak lancar. Kemacetan kerap terjadi di sepanjang jalan utama itu. Bahkan sejumlah ruas jalan juga rusak parah akibat hilir mudik truk dengan muatan material yang cukup berat tersebut. Seperti yang terlihat di lokasi jalan rusak depan Sentosa Perdana (SP) Plaza Mall, Sagulung.

Lubang pada aspal jalan itu cukup lebar dan menjebak pengendara. Kerusakan terjadi karena adanya penurunan tanah sebab sering dilalui truk-truk dengan kapasitas muatan yang berlebihan itu.”Semenjak truk beroda sepuluh itu ramai (beraktifitas di jalan raya) jalan jadi rusak semua. Sudah begitu sering macet,” ujar Andika, seorang warga.

Hal yang paling mengganggu kata Andika adalah tumpahan tanah dari bak truk. Tumpahan tanah berterbangan dan mengenai pengendara lain di belakang atau sampingnya.

“Tak pakai penutup truk-truk itu. Makanya debuh berterbangan kemana-mana. Benar-benar mengganggu,” ujarnya.

Warga berharap agar aparat penegak hukum atau instansi pemerintah terkait segera menertibkan aktifitas truk tersebut.

“Kalau memang tak bisa dihentikan, buat saja jam khusus buat mereka bekerja. Kalau tetap seperti ini (bebas) tentu akan banyak masalah kedepannya,” ujar Benika, warga lainnya.

Para sopir truk sendiri saat dimintai tanggapan mengaku tak ada masalah dengan aktifitas mereka di sepanjang jalan tersebut. Itu karena mereka hanya sebagai pekerja yang disuruh oleh pihak proyek.

“Lagian tak ada larangan dari polisi atau pemerintah. Selama ini aman-aman saja,” ujar Zacki, seorang sopir truk yang ditemui di simpang Barelang, kemarin. (eja)

Respon Anda?

komentar