Budi Kailani

Waktu itu aku masih SD. Aku tidak ingat umurku dan sudah di kelas berapa. Tapi aku ingat sekali, aku diajak bapak ke kota Pekanbaru, ibu kota propinsi waktu itu. Ada rasa bahagia. Juga senang sekali karena bisa ikut manggung. Dan aku menjadi satu-satunya pemain musik paling kecil waktu itu.

Agnes Damayanti – Batam

Bapak yang seorang seniman musik Melayu memang terus mengajariku. Kata Bapak, aku harus bermain musik dengan hati. Dan selalu rendah hati. Dan yang terpenting, bapak minta agar Aku terus melestarikan lagu-lagu irama melayu.

Dan harapan Kailani Bustami, ayahanda Budi memang jadi nyata. Kini Budi, menjadi pimpinan orkes Fasola Irama Melayu yang terkenal hingga ke negara tetangga.
Orkes Fasola adalah grup musik irama melayu milik Budi.

Berkali-kali Fasola show di Malaysia dan Singapura. ” Pernah di gedung pertunjukan metic kuala lumpur dan di D ‘ suri Negri Sembilan. Sedangkan di Singapura, Fasola pernah manggung di Malay Heritage Istana Kampong Gelam bersama artis-artis Malaysia. Alhamdulilah persembahan kita tak kalah dengan artis-artis Malaysia yang sudah profesional.
Bahkan Budi pernah menerima penghargaan dari Malaysia yang diserahkan oleh Pak Ngah, seorang mentor irama melayu paling terkenal.

Budi memang tak setengah-setengah dalam berkarya. Beberapa lagu irama Melayu diciptakannya. Seperti Sayang Laksamana Bentan, Joget Barelang, Sayang Gunung Bintan dan Lagu untuk Ayah.

Sekarang ini, kata Budi, orkes Melayu Fasola sering juga nendapat undangan. Baik itu dari pemerintah propinsi, pemerintah kota Batam, perusahan juga partai politik
Acaranya juga beragam mulai dari peluncuran produk, peresmian, resepsi perkawinan hingga pertunjukkan musik Melayu.

” Karena kita senang dengan musik jadi ya main musik itu menyenangkan.
Dukanya kalau ada orang tak menghargai usaha dan karya kita, tapi saya anggap itu sebuah tantangan untuk lebih baik dan maju lagi,” kata pemilik nama asli
Budi Andrika Jaya.

Sama seperti yang dilakukan ayahnya, Budi juga mengajari anak-anaknya.

” Anak-anak sudah senang dengan musik melayu. Walaupun belum begitu mahir, mereka pun sering ikut bila orkes melayu Fasola tampil,” kata pria kelahiran Tanjungpinang ,19 Desember 1969.

Tak hanya pada anak kandungnya saja, Budi juga melatih anak-anak lain yang berminat pada musik Melayu.

” Dan saya menemukan Ica. Kemampuan vocalnya dalam menyanyikan lagu Melayu sangat bagus. Kini ia menjadi penyanyi utama dari orkes melayu Fasola Bahkan prestasinya tak lama ini yaitu menjadi juara 3 lomba bintang radio RRI lagu melayu se sumatra, ” katanya.

Budi memang membuka kesempatan pada siapapun untuk belajar musik melayu.

” Karena itu, jika ada yang ingin belajar musik Melayu, saya persilakan datang ke rumah di Mediterania blok kk 8 no 16 Batam Center. Saya akui peminatnya tak banyak, ” kataBudi.

Tapi Budi tak pernah menyerah. Untungnya masih ada sekolah-sekolah yang membutuhkan jasanya. ” Saya biasanya melatih anak- anak yang akan mengikuti lomba menyanyi lagu melayu ataupun musik melayu. Senang rasanya melihat anak-anak menyukai budayanya,” kata Budi.

Ia pun berharap musik melayu akan terus lestari di Kepri ini dan Batam khususnya. ” Semoga pemerintah daerah peduli terhadap musik daerah kita sendiri selain membangun infastruktur di Batam. Jangan biarkan budaya kite ini usang di telan zaman. Kepada pemerintah daerah Batam agar membentuk badan yang mengurusi budaya melayu baik itu musik, sastra dan teater,” katanya lagi.
Sebagai wujud kecintaannya pada musik melayu, Budi telah menciptakan beberapa lagu Melayu seperti Sayang Laksamana Bentan, Joget Barelang, Sayang Gunung Bintan dan Lagu untuk Ayah.

“Semoga karya saya ini bisa bermanfaat,” harap Budi. (*)

Respon Anda?

komentar