Iklan
foto: chahaya / batampos

batampos.co.id – Krisis melanda Batam selama dua tahun terakhir. Terburuk pada tahun 2017 lalu. Namun pola konsumsi rumah tangga masyarakat Batam seolah tak menunjukkan keadaan sedang tidak baik. Demikian juga geliat bisnis kuliner yang selalu tampak baik-baik saja.

Iklan

Pusat jajanan selera rakyat (pujasera) di depan Hotel Cardinal Lucky Star, kawasan Windsor, Nagoya, ramai, Kamis (20/4) malam lalu. Puluhan meja dengan ratusan kursi di depan pelataran parkir hotel itu terisi penuh para pengunjung yang sedang menikmati dan menunggu menu makanan dan minuman mereka. Mimik bahagia dan tawa lepas menyeruak saat bercanda dengan teman semeja. Beberapa pengunjung terlihat serius menikmati suapan demi suapan menu yang telah terhidang di atas meja.

Ada banyak sekali stan di sana. Stan-stan itu menyajikan makanan dan minumuan. Mulai dari ayam sambal, aneka jenis ikan bakar, hingga jajanan kekikinian seperti tokkebi atau gorengan dengan isi keju mozarella yang terkenal dari Korea. Ada pula sate taichan, bakso bakar, dan bahkan minuman yang tengah hits: es kepal milo, dan aneka pilihan makanan lainnya.

Satu yang menarik perhatian di kawasan itu, sekitar 23 orang antre mengular di salah satu stan kecil. Di samping stan jajanan Mommy Queen Loklok. Sebagian besar dari mereka, antre untuk memesan es kepal milo.

“Sejak diperkenalkan di Batam lebih dari seminggu lalu, langsung booming. Banyak yang antre beli, tak sedikit pesan dari layanan aplikasi online,” jelas sang pemilik Mommy Queen Loklok, Dewi Shandra sambil menyiramkan krim cokelat kental ke es serut, permintaan pelanggan.

Sudah lebih dari dua tahun Dewi menjalankan bisnis kuliner. Bisnisnya pun tetap bertahan meski tengah krisis. Bahkan ia memperkenalkan gerai baru lagi, yakni es kepal milo tadi. Gerainya langsung diserbu dan mendapat tempat di hati para penikmatnya. Menurutnya, meski saat ini kondisi ekonomi belum membaik, bisnis kuliner akan tetap bertahan apabila mempunyai pelanggan tetap, atau terus membuat gebrakan yang berbeda dengan menghadirkan aneka menu yang inovatif.

“Untuk bertahan itu, yang penting inovatif dan komitmen. Kalau sudah begitu, orang-orang tetap akan tertarik untuk membeli,” ujar Dewi.

Di Batamcenter, tepatnya di gerai Mie Terempak, pengunjung juga ramai, Sabtu (21/4) siang lalu. Baru saja memasuki waktu makan siang, kursi-kursi di restoran itu sudah nyaris penuh. Suara riuh pengunjung beradu dengan denting sendok dan garpu. Selain makan siang, sebagian pengunjung juga nongkrong sembari menikmati kopi. Suasana ini sebenarnya berlangsung sejak pagi. Hingga lewat waktu makan siang, restoran yang sudah memiliki cabang itu tak pernah sepi. Pengunjung datang silih berganti.

Masih di kawasan Batamcenter, rumah makan khas Karo di kawasan Legenda Malaka, Batamcentre, juga mulai dilirik. Memang belum terlalu ramai karena baru buka sepekan. Pemiliknya, Lestari Hutagaol bersama rekannya, Rony dan Eka Wulansari. Rumah makan itu menyajikan makanan khas daerah. Meski pangsa pasarnya lebih spesifik, tapi demi menjawab kebutuhan pelanggan masa kini, selain mengutamakan rasa, dan kebersihan, mereka juga sangat memperhatikan proses penyajian menu ke meja pelanggan.

“Harus beda, biar tetap dicari orang,” ungkapnya.

Lestari Hutagaol, sejak lulus kuliah, sudah bersentuhan langsung dengan dunia kuliner. Ia dipercaya menjadi manajer food and beverage di berbagai hotel besar di Bintan, Singapura, dan juga Batam. Setelah bertahun-tahun bekerja, ia memilih berhenti dan membuka rumah makan bernama Kedai Kak Tari di Tiban. Kedai Kak Tari menghadirkan aneka penganan khas Medan seperti lontong sayur, mie sop, lupis, dan makanan khas rumahan. Namun tak berapa lama, bisnis ini ia tutup.

Meski begitu, ia tak kapok. Ia mengungkapkan, pertimbangan bertahan di bisnis ini, karena kuliner itu sesuatu yang terus dicari orang, karena itu memang menjadi kebutuhan primer manusia. Lestari Hutagaol, pengusaha yang baru merintis kuliner di Batam mengatakan inovasi menjadi sesuatu yang penting dalam menjalankan bisnis ini di masa sekarang. Sebab tuntutan zaman.

Dia mengungkapkan, walau pun krisis ekonomi tengah melanda, tapi untuk urusan perut tidak bisa ditunda. Tak heran, hampir setiap bulan muncul tempat kuliner baru di Batam. Termasuk rumah makan baru miliknya bersama teman. Tak jarang mereka menghadirkan aneka menu-menu kekinian yang tak biasa bermunculan. Masyarakat Batam pun datang menyerbu.

“Makan ya harus tetap tiga kali sehari. Makanya wirausaha kuliner itu sangat menjanjikan sebenarnya asal kita peka terhadap peluang,” ungkapnya.

Ada yang pelanggannya tetap ramai, tetapi sebagian sekarat hingga mati. Yang ramai dan bertahan tadi, terus didatangi masyarakat. Apalagi kalau tempatnya sangat instagramable. Masyarakat seperti tidak terpengaruh kondisi ekonomi yang belum membaik.

“Yang namanya bisnis itu, apa pun jenisnya, naik-turun itu selalu ada. Ya termasuk kuliner ini juga,” ungkapnya.

Menurut Lestari Hutagaol, umumnya karakter masyarakat saat ini cenderung berubah-ubah. Selain sebagai kebutuhan primer, kuliner kini juga menjadi bagian dari gaya hidup untuk eksistensi di dunia maya. Kalau dulu makanan sebagai kebutuhan mutlak untuk mengenyangkan perut, tapi sekarang sudah beralih menjadi bagian dari sifat konsumtif demi gengsi dan eksistensi. Tempat makan sekaligus kongkow pun sering tampak ramai.

“Ya salah satu alasan bisnis kuliner tetap bertahan di tengah gempuran krisis saat ini ya itu. Nah yang kedua ya si pengusahannya harus mampu berinovasi, berani tampil beda mulai dari desain interior, variasi makanan, nama menu, hingga ke bentuk penyajian dan rasa,” jelas wanita yang biasa disapa Tari ini.

Menurut Tari lagi, selain rasa, penyajian makanan dan minuman juga tempatnya menjadi salah satu hal yang wajib diperhatikan saat ini. Misalkan, makan bakso dulu lebih banyak ditemui di warung tenda. Menjawab kebutuhan yang makin berkembang, kini warung bakso pun menyesuaikan diri, naik kasta menjadi kafe. Memiliki bangunan bertingkat, dapur pakai mobil, seperti kafe yang terlihat di kawasan Legenda Malaka, Batamcenter.

That’s what people need now,” ujar Tari.

Sementara itu, Linda Lie, General Manager dua restoran premium di Batam, The Duck King dan X.O Suki menyebutkan, saat ini banyak tantangan yang harus mereka hadapi untuk tetap bertahan sebagai restoran yang sudah cukup lama ada di Batam. Salah satunya dengan banyaknya restoran yang semakin menjamur di Batam yang menawarkan harga murah tanpa memperhatikan kualitas makanan dan juga kualitas sumber daya manusia.

Risiko terbesar menjalani bisnis kuliner saat ini adalah pada saat ketidakpuasan pelanggan terhadap kualitas menu makanan dan minuman serta pelayanan yang diberikan. “Menurut saya ya kontrol terhadap kualitas menu dan pelayanan adalah faktor yang paling penting untuk tetap bertahan dalam situasi krisis seperti sekarang ini,” ujar Linda yang ditemui di kawasan Nagoya City Walk.

Lebih lanjut Linda menyebutkan, perkembangan bisnis kuliner di tengah krisis saat ini tak lepas dari gaya hidup dan pengaruh sosial media. “Itu menjadi faktor utama yang berpengaruh besar terhadap segala jenis bisnis. Dengan media sosial yang dapat menjangkau secara luas menjadikan suatu bisnis dapat berkembang dengan pesat,” ungkapnya.

Menurutnya, bisnis kuliner harus memberikan first impression yang terbaik sehingga akan selalu diingat oleh pelanggan. “Baik dalam hal menu yang unik, rasa, penyajian, pelayanan, juga branding yang mudah diingat. Memiliki reputasi yang baik, selamanya pelanggan akan mencari,” tutupnya.

Demi Gengsi dan Eksistensi

Sejumlah pengunjung saat menikmati hidangan makannan di kawasan Food Street Nagoya Hill, Minggu (22/4/2018). F Cecep Mulyana/Batam Pos

Chandrana Rahman, pengamat dan sekaligus penikmat kuliner di Batam menyebutkan, hampir semua pujasera, restoran, kopitiam di Batam selalu ramai setiap hari didasari pada kebutuhan manusia untuk memenuhi urusan perut. “Semua orang butuh makan,” ungkap pria yang akrab disapa Chandra ini ketika ditemui di Nagoya, Kamis (19/4) lalu.

Namun ia kurang setuju bahwa ada fenomena bisnis kuliner di Batam menjamur meski krisis. Sebab hukum alam dalam bisnis selalu berlaku. “Banyak juga yang tutup sebenarnya. Kan hukum alam berlaku, ada yang buka, ada yang tutup,” jelasnya.

Salah satu contohnya, restoran terkenal di Batamcenter, Kopi Raya yang dulunya sangat ramai dengan aneka menu dan minuman terkini pada akhirnya tutup dan kini diganti dengan One Dozen Cafe.

Menurut Chandrana, upaya bertahan dalam bisnis yang berkaitan dengan pemenuhan sejengkal perut ini tak sepenuhnya sederhana. “Asal ada koki bagus, makanan enak, duit punya, lalu buka rumah makan atau jajananan. Ya nggak sesederhana itu. Itu sudah maksimal, tapi kalau kurang marketing? Ya akan terlindas,” katanya

Zaman sekarang, lanjut dia, semua harus butuh marketing. Bukan hanya untuk periklanan saja tapi juga harus mencakup semua mulai dari aktif di media sosial. “Hubungan ke pelanggan yang datang, dan yang lainnya,” jelas pemilik akun Instagram @batamliciouz ini.

Ia mencontohkan, Warung Upnormal di Batam. Sejak berdiri hingga sekarang, resto kekinian asal Bandung yang hadir di Baloi tersebut selalu ramai dikunjungi para pelanggan yang sebagian besar dari kalangan muda dan keluarga muda. Padahal, mereka membatasi marketing konvensional dan lebih memilih promosi melalui sosial media. “Masa kini, meski yang namanya krisis, supaya tetap bertahan butuh yang namanya The Power of Social Media,” ungkapnya.

Menurutnya, umumnya tempat kuliner di Batam yang tetap bertahan meski sudah lama berdiri, dan bahkan buka cabang di beberapa tempat, karena memiliki manajemen dan marketing yang baik. Kemudian selalu berinovasi menghadirkan menu-menu dengan rasa terbaik yang kekinian berdasarkan kebutuhan pelanggan. “Perhatikan saja Morning Bakery, atau lihat saja Coffee Town, Godiva, Malaya, dan yang lainnya. Mereka memiliki marketing yang baik, melakukan promosi sehingga menarik pelanggan,” ungkapnya.

Pengusaha, kata dia lagi, harus pekan terhadap perubahan. Sebab saat ini selain menjadi kebutuhan wajib manusia, kuliner saat ini sudah menjadi bagian dari gaya hidup. Orang zaman now itu eksistensi yang paling utama. Ibaratnya mereka berlomba-lomba menjadi yang pertama untuk memposting menu-menu terbaru yang hadir di kotanya, sekaligus menikmatinya di tempat nongkrong.

“Itu lifestyle, gengsi yang tak bisa lari dari dunia kuliner zaman sekarang. Apalagi ada sosial media sebagai ajang untuk memamerkan keeksisan itu,” jelasnya.

Dia menambahkan, demi eksistensi saat ini, orang rela mengikuti dan menikmati menu terbaru yang hadir, meskipun hari-hari selanjutnya ia harus menekan pengeluaran untuk makan dengan makan-makan sederhana seperti mie instan. “Khusus younger generation, ada yang sudah mengarah kesana. Demi feed dan eksis di Instagram misalnya. Itu bukan wacana tapi sudah menjadi fenomena,” ujar Chandra sambil tertawa.

Demikian juga, beberapa orang saat ini sangat peduli brand. Misalnya, kopi Starbucks di gelas biasa atau kopi biasa di gelas Starbucks. Demi gengsi dan eksistensi, saat ini orang-orang akan memilih kopi biasa di gelas Starbucks. Semua itu dilakukan hanya demi gengsi, ikut gaya kekinian, dan eksis di sosial media.

Sementara itu, Dewi Shandra, pemilik beberapa depot makanan kekinian di Batam, seperti Mommy Queen Lok Lok, Mommy Queen Melty, dan yang terbaru es kepal milo, menyebutkan, meski terlihat ramai, namun krisis di Batam saat ini sangat berpengaruh pada penjualannya.

Perempuan 31 tahun yang hampir tiga tahun buka usaha menu lok lok ini menyebutkan, mengalami penurunan pendapatan sejak satu tahun terakhir. “Meski terlihat ramai, tapi ada penurunan kok. Yang misalkan pelanggan bisa datang tiga kali seminggu, sekarang satu kali sebulan saja sudah syukur. krisis ekonomi itu terasa kok,” jelasnya.

Ia juga menyebutkan, kalau biasanya omset sehari jualannya di kawasan Baloi bisa mencapai sekitar Rp 9 juta-an, tapi sejak krisis, untuk mendapatkan omset Rp 5-6 juta per hari itu sangat sulit. Belum lagi ia menggaji lima karyawannya, memenuhi bahan untuk jualan keesokan harinya.

“Ya habis disitu-situ ajalah. Untung minim,” ungkapnya.

Hanya saja, Dewi sangat cermat membaca peluang. Untuk menambah omset tanpa menghilangkan bisnis kuliner yang lama, ia menambah stan dengan menjual menu kekinian yang lagi hits. Misalnya membuka es kepal milo. Dua pekan sejak buka, dibantu dengan marketing di sosial media, penjualannya pun meningkat drastis. Bahkan warga Batam sampai rela antre hanya untuk menikmati semangkok es kekinian tersebut. “Saya buka itu, otomatis omset penjualan lok lok, bisnis pertama saya meningkat juga,” ungkapnya.

Selama tiga tahun terakhir, restoran, kafe, pujasera, tempat hiburan, dan hotel berbintang di Batam terus bermunculan. Berdasarkan data dari Dinas Penanaman Modal Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPM-PTSP) Kota Batam, pada tahun 2016, jumlahnya sebanyak 230 yang mengajukan tanda daftar usaha pariwisata. Tahun 2017 sebanyak 264.Sementara tahun 2018 sudah 45 yang mengajukan tanda daftar usaha pariwisata. TDUP adalah salah satu persyaratan untuk membuka usaha di bidang pariwisata.

Pola Konsumsi Bergeser

Pengamat ekonomi sekaligus Direktur Inventure, Yuswohady, mengatakan saat ini pola konsumsi masyarakat Indonesia bergeser sangat cepat menuju ke arah “experience-based consumption”. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan, pertumbuhan pengeluaran rumah tangga yang terkait dengan “konsumsi pengalaman” ini meningkat pesat.

Penulis dari sekitar 40 buku mengenai pemasaran ini, melanjutkan pergeseran pola konsumsi dari non-leisure ke leisure ini mulai terlihat nyata sejak tahun 2015. Hal ini tak lepas dari semakin meningkatkan warga kelas menengah. Mereka yang berpengeluaran 2-10 dolar AS per hari. Di Indonesia konsumen dengan rentang pengeluaran sebesar itu kini mencapai lebih 60 persen dari total penduduk.

Salah satu ciri konsumen kelas menengah, kata Yuswoday, adalah bergesernya pola konsumsi mereka dari yang awalnya didominasi oleh makanan-minuman menjadi hiburan dan leisure. Ketika semakin kaya dan berpendidikan seseorang, pola konsumsi mereka juga mulai bergeser dari goods-based consumption (barang tahan lama) menjadi experience-based consumption (pengalaman).

Pria yang pernah bekerja selama 12 tahun di MarkPlus Inc ini menjelaskan leisure economy mengedepankan momen dan experience. Kepuasan dan kesenangan yang didapatkan dari hal tersebutlah menjadi nilai tambah dalam sebuah bisnis tersebut.
“Leisure berada di level utility, sedangkan experience ada di level connection. Keduanya yang terkait menciptakan happiness dari sebuah produk leisure yang dirasakan. Pada tingkat selanjutnya menciptakan esteem dari eksternal yang menimbulkan moment of recognition,” ujarnya.

Sementara itu di kalangan milenial muda dan Gen-Z kini mulai muncul gaya hidup minimalis (minimalist lifestyle). Mereka mulai mengurangi kepemilikian (owning) barang-barang dan menggantinya dengan kepemilikan bersama (sharing). Dengan bijak mereka mulai menggunakan uangnya untuk konsumsi pengalaman seperti jalan-jalan backpacker, nonton konser, atau nongkrong di kedai kopi (coffee shop).

Tak hanya itu, kafe dan resto berkonsep experiential menjamur baik di first cities maupun second cities. Kedai kopi “third wave” kini sedang happening. Warung modern ala “Kids Zaman Now” seperti Warunk Upnormal agresif membuka cabang. Pusat kecantikan dan wellness terus tumbuh bak jamur di musim hujan. Konser musik, bioskop, karaoke, hingga pijat refleksi tak pernah sepi dari pengunjung. Semuanya menjadi pertanda pentingnya leisure sebagai lokomotif perekonomian Indonesia.

Di Batam sendiri, sumbangsih penghasilan asli daerah (PAD sektor) sektor pariwisata selama tiga tahun (2014-2016) menunjukkan perkembangan yang bagus. Pada tahun 2014, sektor pariwisata PAD Batam sebesar Rp 127 miliar. Rinciannya, dari hotel Rp 64,1 miliar, restoran Rp 32,4 miliar, sementara hiburan Rp 13,5 miliar.

Pada tahun 2015, dari Rp 824,7 miliar total PAD Batam, sumbangsih sektor pariwisata sebesar Rp 144 miliar. Jumlah itu berasal dari hotel Rp 81,8 miliar, dari restoran Rp 45,7 miliar serta hiburan Rp 17,06 miliar. “Persentase sumbangsih tahun 2015 itu, 17,56 persen,” kata Wali Kota Batam, Muhammad Rudi.

Tahun 2016, berdasar pada data Badan Pengelolaan Pajak dan Retribusi Daerah Kota Batam yakni, hotel sebesar Rp 88,302 miliar, restoran Rp 51,594 miliar serta hiburan sekitar Rp 19 miliar lebih.  (CHAHAYA SIMANJUNTAK-AHMADI SULTAN, Batam)