Iklan
ilustrasi

batampos.co.id – Nilai tukar rupiah terperosok semakin dalam. Kurs referensi Jakarta interbank spot dollar rate (Jisdor) terkapar di level Rp 13.894 per dolar AS (USD), Senin (23/4). Sementara itu, kurs di pasar spot yang dicatat Reuters, rupiah sempat menyentuh level Rp 13.988 per USD.

Iklan

Secara year to date (ytd), rupiah melemah 2,6 persen sejak 2 Januari 2018. Di sisi lain, indeks harga saham gabungan (IHSG) ditutup di zona merah dengan penurunan 0,47 persen ke level 6.308,15. Investor asing mencatat net sell Rp 1,02 triliun di seluruh pasar.

Direktur Departemen Pengelolaan Moneter Bank Indonesia (BI) Rahmatullah mengungkapkan, rata-rata USD memang menguat dibanding mata uang negara-negara berkembang. Misalnya, mata uang peso Filipina melemah 4,15 persen; rupe India 3,38 persen; dan lira Turki 6,54 persen. Namun, ringgit Malaysia, dan baht Thailand mampu menguat masing-masing 3,82 persen dan 4,01 persen.

’’Yield global, khususnya US treasury, sekarang sudah mendekati 3 persen. Artinya, banyak pelaku pasar global itu yang mulai antisipasi Fed fund rate (suku bunga acuan Bank Sentral AS, red) naik lagi dalam waktu dekat,’’ katanya saat diskusi bersama wartawan, Senin (23/4).

Secara umum, pasar masih mengantisipasi kenaikan suku bunga acuan The Fed naik 3–4 kali tahun ini. Meski tekanan perang dagang antara AS dan Tiongkok mulai reda, hal tersebut kurang direspons pasar.

Deputi Gubernur BI Dody Budi Waluyo menambahkan, data makro AS relatif membaik. Itu terlihat dari laporan pendapatan korporasi AS kuartal I 2018 yang sebagian besar lebih baik dari estimasi. Naiknya yield US treasury juga mampu menarik dana-dana investor.

Sementara itu, dari dalam negeri, data makro seperti inflasi 3,4 persen (yoy) dan neraca dagang yang mulai surplus USD 1,1 miliar masih tergolong baik. ’’Outlook BI untuk growth (pertumbuhan ekonomi) kuartal I 2018 akan lebih tinggi dari periode yang sama tahun sebelumnya. Didorong khususnya dari kegiatan investasi, inflasi diperkirakan berada dalam sasarannya (2,5–3,5 persen) dan current account deficit (CAD) meningkat tetapi berada dalam batas aman di bawah 3 persen terhadap PDB (produk domestik bruto),’’ ujarnya.

Dengan tekanan yang lebih banyak berasal dari sisi eksternal, Dody optimistis daya saing mata uang Garuda masih cukup kuat. Untuk menjaga stabilitas, BI akan tetap berada di pasar melakukan campur tangan ganda, baik dari pasar valas maupun pasar uang.

Cadangan devisa Indonesia pada Maret telah turun menjadi USD 126 miliar. Pada Januari, cadangan devisa berada di posisi USD 131,98 miliar. Kepala Ekonom UOB Enrico Tanudjaja mengatakan, tugas utama bank sentral memang hanya menjaga kestabilan nilai tukar, bukan menjaga sampai di level mana rupiah itu akan dipertahankan. BI tidak harus terus-menerus mengintervensi pasar, tetapi lebih baik menjaga agar pergerakan atau volatilitas nilai tukar lebih terkontrol.

’’Tidak ada level cadangan devisa yang ideal, tapi kami melihat yang penting import cover. Berapa banyak cadangan devisa kita bisa membiayai impor, dan itu masih sangat tinggi sebetulnya,’’ terangnya. Cadangan devisa Indonesia sebesar USD 126 miliar masih cukup untuk pembiayaan 7,9 bulan impor atau 7,7 bulan impor ditambah pembayaran utang luar negeri pemerintah.

Direktur Utama PT Bank Mandiri Tbk Kartika Wirjoatmodjo mengungkapkan, perbankan menunggu kondisi perbaikan sentimen perang dagang AS dan Tiongkok. Diharapkan, tekanan tersebut dapat mereda. ’’Kami juga berharap 1–2 bulan ke depan ada pelonggaran likuiditas. Sejauh ini GWM (giro wajib minimum) averaging yang akan diterapkan perbankan kami nilai akan mampu melonggarkan likuiditas bank,’’ ujarnya.

Bank Mandiri sendiri mempunyai eksposur yang rendah terhadap kredit valas, yakni di bawah 5 persen. Hal itu membuat bank tidak khawatir terhadap kondisi bisnis nasabah. Berdasar stress test perbankan, Bank Mandiri juga masih cukup kuat menghadapi tekanan dari risiko nilai tukar.

Sementara itu, BI kemarin mengumumkan penyempurnaan aturan operasi moneter. Penyempurnaan tersebut tertuang dalam Peraturan BI (PBI) No20/5/PBI/2018 tentang Operasi Moneter. Aturan itu sekaligus mencabut tiga ketentuan sebelumnya, yakni PBI 18/12/2016 tentang Operasi Moneter, PBI 16/12/2014 tentang Operasi Moneter Syariah, dan PBI 17/17/2015 tentang SBBI Valuta Asing. Ketentuan tersebut efektif berlaku sejak 16 April 2018. PBI dikeluarkan untuk menyetarakan ketentuan operasi moneter konvensional maupun syariah.

BI mencabut beberapa ketentuan seperti penghapusan financing to deposit ratio (FDR) sebagai syarat operasi pasar terbuka (OPT) syariah serta memasukkan ketentuan surat berharga Bank Indonesia (SBBI) valas dalam ketentuan operasi moneter. Selain itu, BI memperketat aturan perizinan bagi bank atau lembaga perantara yang mengikuti operasi moneter. (rin/c17/sof/JPG)