Chantika, murid kelas VI SDLB Negeri Batam penyandang tunagrahita, mengikuti ujian akhir sekolah (UAS) yang digelar bersamaan dengan UN SMP sederajat, Senin (23/4). | Febby Anggieta Pratiwi/Batam Pos

Walau sang anak hidup di tengah kekurangan fisik, orangtua di Sekolah Luar Biasa Negeri (SLBN) Batam tetap semangat. Mereka tidak ingin kekurangan sang anak menghambat hak untuk mendapat pendidikan.

Di luar kelas, dari balik teralis jendela, Neli Rusana memandang putrinya Cantika. Wanita 50 tahun itu sesekali mengambil gambar anaknya menggunakan ponsel miliknya. Cantika pun melempar senyum ke ibundanya. Sesekali ia melambaikan tangan. Namun dalam sekejap tatapannya kosong dan dalam sekejap juga tiba-tiba memandang sang ibu.

Bagi Neli, ekspreasi wajah putri bungsunya itu sudah tak asing lagi. Juga bukan sebuah keanehan. Dari ekspresi wajah yang kadang berubah dalam sekejap itu, baginya bukan suatu masalah. Justru dari situ, rasa cinta dan sayangnya pada Cantika makin membuncah.

Cantika adalah salah satu murid Sekolah Luar Biasa Negeri (SLBN) Batam. Dia penyandang tunagrahita. Usianya sudah 13 tahun. Bersama enam sahabatnya di ruangan yang sama di SLBN itu, ia mengikuti Ujian Sekolah Berbasis Nasional (USBN), Senin (23/4) lalu. Hari itu hari pertama USBN. Ia mengerjakan soal-soal mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan (PKN). Dimulai pukul 08.00 WIB.

“Saya ingin dia tetap sekolah, saya bangga padanya, semangatnya tinggi,” ucap Neli. Tatapannya masih melekat pada sang anak yang tengah berjuang menjawab soal-soal USBN.

Pagi itu, Cantika dan Neli merupakan anak dan wali murid yang pertama tiba di sekolah. Sebelum ujian, Neli berkesempatan menemani sarapan terlebih dahulu anaknya yang tidak mau makan selain nasi kuning tersebut.

Tak ada kata menyerah dalam kamus kehidupan Neli untuk berhenti membimbing Cantika tetap sekolah, apalagi harus menyerah dengan keadaan dan tidak lagi bersemangat mepersembahkan pendidikan layak untuk Cantika. Bagi penjual gorden ini, walau berkebutuhan khusus, Cantika harus tetap sekolah, pendidikan adalah hal yang penting. “Keinginanku, dia sama seperti anak lain. Bisa baca dan bisa nulis,” harapnya.

Ia meyakini, seiring bertambahnya usia Cantika akan ada perkembangan pada kepribadian putrinya tersebut. Untuk itu, setiap hari ia bersedia menempuh jarak 20 kilometer dari tempat dia tinggal di bilangan Kecamatan Batuaji ke sekolah Cantika yang berada di Batamcenter. Tak jarang, ia bersama anaknya itu kerap terjebak macet di kota industri ini. Tentang kemudahan transportasi, ia punya harapan khusus yakni pemerintah menyiapkan bus sekolah khusus pelajar berkebutuhan khusus.

“Orangtua tak semua bisa bawa motor,” ungkapnya.

Sepulang dari mengantar Cantika, ia menjalani rutinitasnya berjualan gorden. Lokasi jualannya di Perumahan MKGR, Batuaji yang berseberangan dengan SP Plaza. “Semoga dia sembuh, mudah-mudahan ada keajaiban dari Allah. Alhamdulillah sejak dia sekolah ada banyak kemajuan, tak seperti dulu (sebelum sekolah) emosinya kadang tak terkontrol,” ujarnya.

Neli ingin kelak Cantika mampu mandiri menentukan kehidupannya termasuk bekerja untuk memenuhi kebutuhannya, dan tak semata-mata bergantung pada dua abangnya M Zikiruliansyah dan Alfayat yang kini menempuh studi di Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya ketika dia sebagai orangtua sudah tua. Neli berpendapat jalannya yakni dengan memberikan pendidikan bagi anaknya, disamping ia akui kerap memanjatkan doa pada tuhan untuk kebaikan Cantika.

“Setelah sekolah mau dibelikan alat jahit, saya sangat menyayangi dia (Cantika) melebihi abangnya. Abang-abangnya juga sayang adiknya ini,” ucap Neli. Matanya terlihat sembab, menutupi harunya ia menyeka airmatanya.

“Ini foto-foto mereka,” ucap dia sembari memperlihatkan foto Cantika dan Zikiruliansyah sedang bergurau pada ponselnya. Walau berkebutuhan khusus, Cantika ia akui merupakan anak yang memilki semangat yang tinggi untuk bersekolah. “Pernah hari Minggu dia ambil bajunya dan ajak sekolah,” katanya sembari tersenyum.

Sikap semangat ini juga dilakoni orang tua lain. Adalah Sudarmiati, 66, warga rumah liar (ruli) tower satu Duriangkang, Seibeduk. Penjual kue keliling di perumahan-perumahan ini setiap pagi harus menemani anaknya, Dina Ryanti ke sekolah luar biasa.

Sudarmiati tak bisa mengendarai sepeda motor. Maka setiap hari sekolah, dari Seibeduk ke Simpang Kara Batamcenter mereka menumpang bus Trans Batam, Rp 4 ribu tarif sewa Sudarmiati dan Rp 2 ribu untuk sang buah hati. Dalam sehari untuk moda transportasi ini ia harus merogoh kocek Rp 12 ribu perhari, pulang pergi.

Turun dari Trans Batam, tak berarti dia bersama anaknya sampai ke sekolah. Mereka masih harus melanjutkan perjalanan menggunakan jasa ojek dari Simpang Kara ke sekolah. Bersama anaknya dia harus membayar Rp 14 ribu, pulang pergi yakni Rp 28 ribu. Total yang ia keluarkan untuk transportasi saja Rp 40 ribu per hari.

“Kadang ada ojek yang baik juga, dia minta bayar hanya untuk satu orang. Sisa uangnya bisa buat jajan Dina,” ujarnya.

Transportasi adalah kendala yang cukup dirasakan selama menuntun Dina sekolah. Awalnya, bersama enam anak berkebutuhan khusus dari Seibeduk yang bersekolah di SLBN Batam, mereka menyewa mobil dengan tarif sewa Rp 500 sebulan. Namun belakangan menyewa mobil tidak lagi dilakukan karena pemilik mobil sudah fokus bekerja.

“Hasil jualan kue, khusus untuk dia Rp 350 sebulan kusiapkan. Ini untuk transport dan jajannya,” terangnya.

Berlatar belakang tidak mampu dan suaminya seorang pekerja bangunan, ia akui cukup berat. Namun hal ini tak menyurutkan semangatnya menyekolahkan anaknya tersebut.

“Harus sabar kita ini, dengan bersekolah ini saya kepingin anak saya bisa bedakan mana yang bagus dan tidak. Sekolah itu supaya tak dibodohi orang,” paparnya.

Pukul 09.30 WIB, ujian pelajaran pertama usai digelar. Dina yang semula di dalam ruangan bergegas keluar dan menghampiri ibunya. Ia memilih untuk duduk dalam pangkuan Sudarmiati. Sembari bermanja tentunya. Tak jauh dari Dina dan Sudarmiati, ada Neli yang juga bersama anaknya Cantika. Dua keluarga itu sesekali asik bercengekerama tetang bagaimana perkembangan anakanya hingga soal cek rutin perkembangan anak-anaknya masing-masing.

“Dina ini ngajinya rajin, hafalan doanya banyak. Hafalan doa tidur, keluar rumah, sebelum belajar dihafal semua. Pengen sekali dia dibelikan Al-quran yang besar,” papar Sudarmiati, bangga.

Tak hanya suka ngaji dan hafalan doa, ia cukup bersemangat menceritakan anaknya sangat suka musik. Bahkan, kata dia, enggak ada musik sehari saja hidup Dina akan terasa hampa. Bahkan lagu kebangsaan Indonesia Raya dihafal penuh oleh Dina. “Ngerti dia kalau soal lagu,” katanya lagi, sembari tersenyum kecil.

Di balik kebahagiaannya tersebut, ia mengaku kerap memikirkan keadaan anak keduanya dari dua bersaudara tersebut. Ia membayangkan kehidupan anaknya yang berbeda dengan anak pada umumnya. Ia mengaku kerap menangis memikirkan keadaan Dina. Maka dari itu pilihan untuk menyekolahkan anaknya adalah keharusan, dibanding hanya tinggal di rumah.

“Cita-citanya tinggi. Mau sembuhin orang, jadi dokter,” ucap wanita asal Pacitan, Jawa Timur.

Sembari bercerita, Sudarmiati mengeluarkan bekal untuk Dina dalam tas selempang motif tutul miliknya. Makanan untuk Dina cukup sederhana, mi goreng dan telur sambal bulat. Persis seperti cerita Sudarmiati, Dina tak lupa membaca doa sebelum menyantap makanan yang dipersiapkan.

Tak jauh dari lokasi Dina dan Sudarmiati duduk. Pelajar penyandang tunanetra, Sulthan An Nuha serius mendengar lantunan Al-Quran dari ponsel yang ia simpan dalam saku bajunya. Sesaat Kemudian temannya, Azizah Nurusyfa menghampirinya.

Aan bercengkrama dengan Azizah yang membahas surah Al Mulk di sela jam istirahat USBN SD SLBN Batam, Senin (23/4). Keduanya merupakan penyandang tunanetra yang juga sama-sama hafidz berprestasi dari SLBN Batam, yang sedang melaksanakan ujian kelulusan SD. | Febby Anggieta Pratiwi/Batam Pos

“Bang Aan (sapaan Sulton) surat apa? tanya Azizah. Aan lantas menjawab. “Surah Al Hulk ya. Salah salah, Surah Al Mulk nih Azizah,” jawab Aan dengan logat yang khas. Ibu dari Azizah Yeni terlihat memperhatikan tingkah anaknya bersama temannya ini. Dia tersenyum.

Usut punya usut, kedua merupakan hafiz dan hafizah (penghafal Al Quran) kebanggaan SLBN Batam. Seingat Yeni, Azizah bahkan sudah menghafal juz ke enamnya. Azizah, kata Yeni, dalam menghafal dituntun tidak menggunakan alat bantu braille. Kemampuan Azizah mengantarkan Azizah turut serta ikut dalam lomba, tak hanya untuk anak berkebutuhan khusus namun juga yang pesertanya umum.

“Dia hafalnya dari belakang dari Juz 30, 29, 28, 27, 26,” ungkap Yeni sembari menghitung jari.

Batam Pos berkesempatan mendengar hafalan Azizah. Yeni meminta Azizah untuk membaca surat yang sama dibicarakan dengan Sulthan yakni surat Al Mulk. “Hafal nak, Juz 29 Tabaroq (Tabaroq penggalan ayat pertama Surah Al Mulk, red). Om Batam Pos nak dengar,” kata Yeni.

Sejurus kemudian, Azizah membacakan surat tersebut tepat di dekat tangga lantai II sekolah tersebut. Beberapa temannya dan wali murid terlihat memperhatikan aksi Azizah, tak lupa Yeni mengingatkan anaknya mengawali bacaan dengan basmallah.

“Anak titipan Allah ya. Saya mau dia jadi hafizah, jadi ustazah. Kami orangtuanya tetap dukung,” katanya.

Surah Al Mulk pada ayat-ayat awal ternyata berkaitan dengan perintah agar manusia mengunakan inderanya untuk melihat ciptaan Allah. Ayat 3, yang artinya “Yang telah menciptakan tujuh langit berlapis-lapis. Kamu sekali-kali tidak melihat pada ciptaan Tuhan Yang Maha Pemurah sesuatu yang tidak seimbang. Maka lihatlah berulang-ulang, adakah kamu lihat sesuatu yang tidak seimbang?”

Lalu ayat 4 yang artinya “Kemudian pandanglah sekali lagi niscaya penglihatanmu akan kembali kepadamu dengan tidak menemukan sesuatu cacat dan penglihatanmu itupun dalam keadaan payah.”

Selain itu, prestasi pelajar SLBN Batam juga cukup banyak. Terbaru, juara 1 sinopsis pada lomba literasi tingkat Provinsi Kepri yang diraih Kelas VII SLBN Batam Meina Joista. Capaian ini mengantarkan Meina yang menyandang tunagrahita ikut lomba tingkat nasional November mendatang di Makassar, Sulawesi Selatan.

Lalu juara 1 daur ulang limbah pada ajang LKSN tingkat Provinsi Kepri yang diraih oleh Muhammad Najwa. Kemudian juara 1 lomba jahit pada ajang yang sama diraih oleh siswi kelas XI Aulia Khusnul Khotimah. Keduanya merupakan penyandang tunarungu dan akan melanjutkan lomba tingkat nasional Oktober mendatang di Yogyakarta.

Sementara itu salah satu guru, Sri NurZalenawati Elly mengatakan mendidik anak berkebutuhan khusus harus didasari dengan kesabaran. Hal ini wajib dimiliki karena setiap anak memiliki tingkat perkembangan yag berbeda.

“Kita harus perlakukan mereka sebaik mungkin, sehingga haknya (pendidikan) mereka dapatkan. Kami guru harus sabar,” kata dia.

Pengajar yang juga ketua panitia USBN SDLB Batamcenter ini mengungkpakan, USBN SD di sekolah tersebut kali ini 15 pelajar. Di antaranya 13 tunagrahita dan dua orang tunanetra.  (ADIANSYAH, Batam)

Respon Anda?

komentar