batampos.co.id – Pemerintah Provinsi Kepri menjanjikan anggaran sebesar Rp 30 miliar untuk pembenahan dan penataan Pulau Penyengat, Tanjungpinang. Langkah tersebut dilakukan sebagai upaya untuk mewujudkan Pulau Penyengat sebagai salah satu warisan budaya dunia.

Iklan

“Pulau Penyengat punya historis yang luar biasa. Baik itu bidang kebudayaan maupun agama,” ujar Sekda Kepri, TS Arif Fadillah pada kegiatan Peresmian Relawan Aksi dan Deklarasi Pulau Penyengat Ikon Kepri Menuju Warisan Budaya Dunia di Istana Kantor Penyengat, Tanjungpinang, Minggu (29/4).

Menurut Sekda, bagi kalangan para ulama di luar Kepri, Penyengat dikenal sebagai salah satu pusat studi peradaban Islam. Apalagi masih menyimpan banyak kitab-kitab penting. Kemudian dari bidang kebudayaan, melalui karya-karya sastra Gurindam XII, Penyengat juga sudah menorehkan sejarah tersendiri. “Maka dari itu, Pulau Penyengat layak untuk menyandang predikat Wolrd Culture Heritage,” papar Arif.

Arif yang didapuk sebagai Ketua Tim Relawan Aksi tersebut menjelaskan, untuk mematangkan rencana ini, pihaknya akan membuat sebuah nota kesepahaman dengan Pemko Tanjungpinang. Karena untuk membangunan Penyengat harus dilakukan bersama.
“Kita harus bersinergi, bahkan pembangunan kita upayakan tidak hanya melalui APBD saja. Tetapi juga dari sumber-sumber lain, seperti dana CSR,” paparnya lagi.

Sementara itu, Pembina Tim Relawan Aksi Penyengat Menuju Warisan Budaya Dunia, Syamsul Bahrum menambahkan, ada beberapa pekerjaan besar yang akan dilakukan.
“Kita perlu menggelar Focus Group Disscusion (FGD), baik itu tingkat nasional maupun internasional. Langkah tersebut untuk mengangkat kembali nama besar Penyengat,” paparnya.

Turut hadir pada kegiatan tersebut istri Gubernur Kepri, Noorlizah Nurdin. Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat Desa, Catatan Sipil dan Kependudukan (PMD-Dukcapil) Kepri, Sardison, Kepala Dinas Perhubungan, Jamhur Ismail. Pada kesempatan itu digelar diskusi tentang sejarah tanjak dengan narasumber Raja Malik Hafiza.(jpg)