ilustrasi

batampos.co.id – Seringnya makan mi instan yang bisa memicu kanker usus. Benarkah demikian? Founder & Chief Executive Officer, Internist & Vaccinologis In Harmony Clinic, dr. Kristoforus HD, SpPD menjelaskan, anggapan itu merupakan mitos belaka. Sebab, hingga kini penyebab kanker secara pasti belum dapat diketahui.

“Makan mie = kanker usus? Kalau bikin begitu artinya sudah dilarang BPOM dari zaman dulu lah,” kata Kristoforus kepada JawaPos.com, Kamis (3/5/2018).

Jika memang bisa menyebabkan bahaya atau penyakit, Kristoforus menegaskan justru mi instan banyak diterima dan diekspor ke negara maju.

“Nyatanya mi bisa di-approve di mana-mana,” katanya.

Meniru budaya masyarakat Tiongkok dan Jepang yang menjadikan mi sebagai makanan utama boleh-boleh saja. Terutama sebagai menu utama saat sarapan. Ketua Umum PERGIZI PANGAN Indonesia, Prof Dr Hardinsyah MS menegaskan anak-anak pun boleh sarapan mi di pagi hari.

“Sarapan paling baik mengandung karbo, protein, sayur dan buah. Anak-anak dididik jika makan mi boleh saat sarapan, asalkan harus dilengkapi protein (misalnya telur atau ikan) dan sayur misalnya sawi (sebagai sumber serat, Red),” kata Hardinsyah.

Hardinsyah menjelaskan anak yang tidak sarapan saat datang ke sekolah mudah lemas, sulit konsentrasi, juga pikiran tidak fokus. Tips pintar makan mi adalah dikonsumsi tidak berlebihan.

“Prinsipnya adalah gizi seimbang. Jika makan mi sudah dapat karbonya, maka dilengkapi dengan zat gizi lain seperti sayuran dan telur,” kata Hardinsyah. (ika/ce1/JPC)

Respon Anda?

komentar