Iklan

Semua mata pecinta sepak bola tertuju ke Surabaya. Super Derby Jawa Timur (Jatim) antara Persebaya melawan Arema FC, Minggu (6/5) lalu.

Iklan

Pertemuan terakhir kedua raksasa sepak bola tanah air itu terjadi di Piala Gubernur Kaltim 2 Maret 2018 lalu di Stadion Palaran Samarinda. Arema menang 2-0. Namun, itu bukan kompetisi resmi.

Terakhir mereka bertemu di kompetisi resmi pada 2010 silam. Tepatnya 21 Februari. Saat itu, Singo Edan–julukan Arema–menang 1-0 atas Bajul Ijo–julukan Persebaya–di Stadion Gajayana. Selepas itu, keduanya tidak pernah bertemu lagi lantaran carut-marutnya kompetisi di negeri ini.

Bertemu di kompetisi resmi memberikan sensasi berbeda. Meski bertetangga, keduanya terlibat dalam rivalitas tinggi. Selalu ada korban ketika Persebaya dan Arema bertemu. Akibatnya, ada perjanjian antara Bonek–pendukung Persebaya–dengan Aremania–supporter Arema–untuk tidak saling mengunjungi ketika bermain di kandang salah satunya.

Bagi saya yang orang Jatim, duel klasik kedua tim itu memang beda. Gengsi tinggi menjadi pemanas laga. Bahkan ada anekdok, lebih baik tidak juara liga asal tidak kalah dari salah satunya.

Sengitnya duel klasik Persebaya vs Arema sudah terasa sebelum pertandingan. 50 ribu tiket habis dalam waktu dua jam. Bahkan, pagar Korem 084/Bhaskara Jaya ambruk lantaran tak mampu menampung animo penonton.

Di sisi lain, aparat kepolisian melakukan sweeping atribut Arema untuk menghindari chaos. Bahkan, pasukan Singo Edan enggan menginap di Surabaya untuk menghindari teror Bonek. Anak asuh Joko Susilo lebih memilih menginap di Gresik.

Menjelang laga berlangsung, para pemain dan ofisial Arema juga datang menumpang mobil rantis Brimob Polda Jatim. Mereka tidak mau ambil risiko. Pasalnya, Stadion Gelora Bung Tomo (GBT) sudah dipenuhi ribuan Bonek.

Song For Pride dan lagu Emosi Jiwaku yang tersohor dikumandangkan. Ini menjadi pertanda bahwa Bonek akan mendukung penuh Persebaya. Dan yang pasti, dilarang kalah dari Arema. Meski tidak datang langsung ke Stadion GBT, tapi saya bersyukur dikirimi video oleh teman-teman saya di Surabaya. Saya pun hanya menyaksikan laga lewat televisi.

Meski hanya menonton lewat video, namun benar-benar bikin merinding. Maklum, saya adalah fans Persebaya. Di era Galatama hingga Indonesia Super League (ISL), semua pertandingan Persebaya tidak pernah saya tinggalkan.

Kembali ke laga kemarin. Meski hanya menyaksikan di layar televisi, kengerian kandang Persebaya begitu terlihat. Laga pun berlangsung sengit. Bermain di kandang, Persebaya mampu menguasai jalannya pertandingan. Hingga babak pertama usai, skor kacamata menghiasi papan skor.

Memasuki babak kedua, tensi pertandingan meninggi. Laga kembali berjalan sengit. Jual-beli serangan tak terhindarkan lagi. Baru pada menit 83, pemain pengganti Misbakus Solikin mengubah skor menjadi 1-0 untuk Persebaya. Hingga peluit berakhir, skor masih 1-0 untuk keunggulan Persebaya.

Laga itu juga diwarnai insiden perkelahian antara penyerang Persebaya Oktafianus Fernando dengan gelandang Arema Hendro Siswanto. Keduanya pun dihadiahi kartu merah oleh wasit.

Terlepas dari sengitnya laga, batin saya sempat waswas. Takut kalau laga berakhir imbang atau Arema memenangkan laga. Apalagi kalau bukan ribut. Maklum, Bonek tidak mau menerima jika timnya kalah di kandang.

Beruntung sekali Persebaya menang. Sehingga tidak terjadi hal-hal yang tak diinginkan. Meskipun sempat terekam aksi pelemparan dan flare, tapi tidak terjadi insiden yang melibatkan supporter.

Drama di GBT itu berakhir manis. Tidak tragis seperti ketakutan di batin saya. Sehingga laga klasik yang ditunggu-tunggu pecinta sepak bola tanah air berlangsung aman.

Selamat untuk Persebaya. Terima kasih untuk Arema yang menerima kekalahan dengan lapang dada. Semoga di pertemuan selanjutnya, kembali tersaji laga sengit lainnya. (*)

 

Guntur Marchista Sunan
Direktur Batam Pos