batampos.co.id – Hari ini, Rabu (9/5), rakyat Malaysia akan mengikuti pemilu atau general election ke-14 (GE-14). Menurut pengamat luar negeri sekaligus dosen Hubungan Internasional (HI) Unpad Teuku Rezasyah, pemilu Malaysia tahun ini terasa sangat tegang.

’’Dan risikonya sangat besar. Siapapun yang terpilih (sebagai perdana menteri, red),’’ katanya saat dihubungi, Selasa (8/5).

Rezasyah mengatakan pemilu Malaysia yang berlangsung hari ini adalah pemilihan parlemen. Setelah itu, para anggota parlemen akan memilih perdana menteri. Apakah nanti yang menang adalah incumbent Najib Tun Abdul Razak ataukah si penantang Tun Mahathir Mohamad, menurut dia sama-sama ada risikonya.

Jika nanti yang terpilih menjadi perdana menteri adalah Najib, maka skandal 1Malaysia Development Berhad akan terus memanas. Sebab, menurut Rezasyah, sampai saat ini kasus tersebut belum tuntas. Dan bisa mencuat kembali jika Najib duduk kembali sebagai perdana menteri.

Selain itu, jika Najib menang, maka dia harus membayar utang dukungan dari etnis Tiongkok dan etnis India yang ada di Malaysia. Sebab ada indikasi suara anggota parlemen dari dua etnis tersebut mengalir untuk Najib. Adanya ‘saham’ dukungan dari etnis Tiongkok dan etnis India tersebut, membuat Najib harus mengakomodir mereka. Apakah itu menunjuk sebagai menteri, menteri senior, atau posisi strategis lainnya. ’’Kalau mintanya wakil perdana menteri mungkin terlalu tinggi,’’ jelasnya.

Selanjutnya, ketika nanti yang terpilih adalah Mahathir, menurut Rezasyah, ada kendala soal usia. Dia mengatakan, saat ini usia Mahathir sudah 92 tahun. Sehingga kalau memimpin pemerintahan, pasti ada kendala-kendala terkait kesehatannya. Dia khawatir kalau Mahathir terpilih sebagai perdana menteri, ia hanya jadi pemimpin tansisional saja.

Rezasyah mencoba mengurai alasan Mahathir maju kembali menjadi kandidat perdana menteri, meskipun usainya tidak jauh dari seabad. Di antaranya adalah Mahathir merasa kecewa karena dia nilai Malaysia saat ini morat-marit. ’’Sebagai seorang negarawan, Mahathir merasa terpanggil untuk maju kembali,’’ jelasnya.

Menurut dia, Mahathir merupakan anak ideologis dari Tun Abdul Razak, orangtua dari Najib. ’’Sedangkan Najib dinilai sebagai anak biologis dari Tun Abdul Razak,’’ katanya.

Mahathir merasa kecewa karena jiwa kenegarawanan Tun Abdul Razak tidak mengalir ke Najib. Adanya dugaan skandal atau korupsi yang mendera Najib, memperdalam rasa kecewa Mahathir kepada Najib. Mahathir menilai secara manajemen, Najib tidak mampu mengelola masa depan Malaysia.

Sementara pantauan di sejumlah kota di Malaysia sudah mulai sepi sejak Selasa (8/5) kemarin. Warga sepertinya sudah siap mengikuti pemilu hari ini.

Di Petaling Jaya, misalnya, para tenant Pusat Perniagaan 8 Avenue dan Tropicana Merchant Square banyak yang tutup. Yang buka hanya hotel, rumah makan, kantor layanan hukum dan biro konsultasi. Tidak sampai 5 persen yang buka.

Bahkan, markas Parti Keadilan Rakyat (PKR) di Jalan Tropicana juga tutup. ”Kami tutup lah. Semua balik kampung. Mengundi,” kata Anthony, petugas keamanan di kantor yang marak dihiasi bendera PKR tersebut.

Dia sendiri akan tetap berjaga di sana. Sebab, dia adalah pendatang yang tak punya hak suara. Kantor yang pada bagian depannya memajang foto Anwar Ibrahim itu, menurut dia, baru akan buka lagi pada Kamis (10/5) besok.

Publik Malaysia bisa saja adem ayem di dunia nyata. Mereka pelit bicara politik. Tapi, di dunia maya, GE-14 menjadi topik panas. Netizen ramai membahas percaturan politik, indikasi kecurangan bahkan prediksi pemenang.

Sama ramainya dengan jalanan Kuala Lumpur yang berhias atribut berbagai partai. Biru muda dan merah, biru tua dengan gambar timbangan, hijau dengan bulatan putih di tengah atau bendera merah bertulisan Pakatan Harapan.

Panasnya perdebatan dan perbincangan tentang PRU 14 itu juga menjadi indikasi tingginya minat generasi muda Malaysia terhadap politik. Itu seolah menegasikan jajak pendapat sejumlah lembaga survei yang menyebut generasi muda Malaysia tidak peduli pada PRU 14.

Ilham Centre, lembaga survei politik Kuala Lumpur, menyatakan bahwa sebagian besar pemilih sudah tahu apa yang hendak mereka pilih. ”Mereka hanya tinggal menunggu hari H,” ungkap Hisommudin Bakar, kemarin.

Bisa jadi prediksi Ilham Centre itu benar. Seorang pegawai di kawasan Bukit Gasing mengatakan bahwa dia grogi menjelang 9 Mei. Tapi, bukan karena dia takut salah pilih. ”Lebih pada perasaan bahwa kita sudah sedekat ini dengan perubahan. Akankah perubahan itu terjadi atau tidak, besok (hari ini) penentuannya. That’s why I’m nervous,” kata perempuan paro baya tersebut. (hep/wan/JPG)

Respon Anda?

komentar