ilustrasi

batampos.co.id – Koordinator Kopertis X yang membawahi empat wilayah, Riau, Kepri, Jambi dan Sumbar, Profesor Herri menegaskan, saat ini pemerintah pusat melalui Kementerian Riset dan Teknologi Pendidikan Tinggi, saat ini akan merevisi kurikulum di pendidikan tinggi atau perguruan tinggi yang ada ke modernisasi pembelajaran.

Targetnya sendiri, akan dimulai saat ini dan tahun depan diharapkan modernisasi perguruan tinggi sudah mampu ditermapkan ke semua perguruan tinggi se-Indonesia.
“Itu yang perlu kami pikirkan, bagaimana menghadapi kemajuan zaman yang serba digital, era internet seperti saat ini. Setidaknya kami menyamakan persepsi terlebih dahulu bahwa perubahan zaman saat ini perlu perubahan perangkat pendidikannya juga seperti tenaga pengajarnya, profesornya,” ujar Prof Herri, Selasa (8/5) malam.

Terpenting, lanjutnya, kompetensi pendidikan yang ada saat ini yang harus diubah. Ia moncontohkan, saat ini kurikulum pendidikan kompetensinya tak jauh dari membaca, menghafal, menulis dan berhitung saja.

“Tapi kompetensi bagaimana cara mengolah data, menganalisa, itu yang belum diterapkan. Kalau modernisasi pendidikan ini nantinya bisa dijalankan oleh pemerintah pusat dan perguruan tinggi se-Indonesia, mahasiswa nantinya akan mampu mengumpulkan data dan bagaimana menggunakannya, akan mampu menganalisa segala hal. Dan itu yang sudah dilakukan mahasiswa lainnya di negara lain saat ini,” terangnya.

Masih kata prof Herri, kalau kompetensi lama, tentu kompetensi lama tak akan terpakai dimasa yang akan datang pada era serba internet.

“Ini yang harus kami pikirkan adalah mengajak mahasiswa tak hanya belajar secara konvensional saja, tapi juga belajar menyesuaikan belajar modernisasi pendidikan seperti sistem daring dengan memanfaatkan teknologi internet. Intinya kompetensi pendidikan yang selama ini lebih banyak mengingat saja, pemerintah berencana tak hanya mengingat dan menghafal, tapi sudah harus mampu berinovasi,” katanya.

Apalagi sekarang ini pemerintah pusat, lanjutnya, getol mendorong tatap muka dosen tak harus bertemu langsung. tapi cuku via visual dengan memanfaatkan teknologi dalam jaringan.

“Untuk mengimplementasikan modernisasi kurikulum perguruan tinggi, harus disiapkan semuanya. Sebab, persoalan-persoalan yang ada di masyarakat saat ini pada era kemajuan teknologi yang serba daring, tak hanya bisa diselesaikan hanya dengan satu disiplin ilmu saja, tapi dengan multi disiplin. Makanya Kementerian Riset dan Teknologi Pendidikan Tinggi mengeluarkan kebijakan bagaimana sebaiknya menyiapkan infrastruktur pendukung modernisasi perguruan tinggi kedepannya. Termasuk nantinya akan ada penggabungan program studi (prodi) serta mencetuskan prodi baru,” terang Herri.

Apalagi, lanjut Herri, karakteristik perguruan tinggi yang ada saat ini sangat beragam sekali. Hal tersebut perlu adanya pengclusteran (pengklasifikasian) mana perguruan tinggi yang sudah siap untuk dimodernisasikan dan mana yang belum siap.

“Untuk perguruan tinggi yang belum siap untuk dimodernisasikan kurikulum dan sistem pembelajarannya ke mahasiswa, mau tak mau nantinya diwajibkan untuk digabung atau merger dengan perguruan tinggi yang memang sudah siap menuju sistem modernisasi pembelajaran dan kurikulumnya,” terang Herri.

Modernisasi perguruan tinggi ini nantinya, lanjut Herri, kuliah mahasiswa tak perlu bertatap muka langsung dengan dosennya, belajar jarak jauh sudah bisa.

“Karena bahan ajar yang akan diberikan ke mahasiswa, nantinya sudah ada dalam sistem dengan memanfaatkan teknologi daring. Kalau perguruan tinggi yang nantinya tak siap dengan modernisasi perguruan tinggi yang saat ini akan dijalankan pemerintah pusat, dan tak mau merger dengan perguruan tinggi yang sudah siap, otomatis perguruan tinggi itu nantinya akan ditinggalkan sendiri oleh masyarakat, karena tak mampu mengikuti perkembangan jaman yang ada dan menerapkan kurikulum yang efektif,” ujarnya.

Sistem modernisasi perguruan tinggi nantinya semua universitas yang ada akan mengikuti sistem yang sudah dijalankan oleh Universitas Terbuka.

“Kami minta perguruan tinggi swasta yang sudah bekerja sama dengan Universitas Terbuka (UT). Itu nanti setidaknya akan mengubah budaya yang selama ini bertatap muka langsung dengan dosen pengajar, mampu mengikuti sistem belajar secara visual dengan teknologi internet atau kami sebut dengan distance learning,” terangnya. (gas)

Advertisement
loading...