Iklan
ilustrasi

batampos.co.id – Meskipun level Rupiah hampir mendekati Rp 14 ribu. Pengusaha kawasan industri tidak khawatir.

Wakil Koordinator Himpunan Kawasan Industri (HKI) Kepri, Tjaw Hioeng mengatakan saat ini pihaknya belum menerima keluhan atas dampak dari nilai tukar rupiah yang merosot tersebut.

Pihaknya juga menilai untuk saat ini memang belum memberikan dampak yang signifikan bagi industri di Batam.

Namun jika terus terjadi dalam jangka panjang maka pasti akan memberikan dampak terhadap industri di Batam. Hanya saja untuk saat ini pihaknya menilai bahwa merosotnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat belum mengarah terhadap dunia usaha di Batam.

“Kalau jangka panjang pasti akan ada imbasnya. Tapi kalau untuk saat ini kami belum melihat ke arah tersebut,” kata Ayung.

Sedangkan Kepala Bank Indonesia (BI) Perwakilan Kepri Gusti Raizal Eka Putera mengatakan Bank Indonesia akan terus memonitor dan mewaspadai risiko berlanjutnya tren pelemahan nilai tukar Rupiah.

“Baik yang dipicu oleh gejolak global seperti dampak kenaikan suku bunga Amerika, perang dagang Amerika dan China, kenaikan harga minyak dan lainnya,” katanya.

Ia berjanji Bank Indonesia akan tetap berada di pasar untuk menjaga stabilitas Rupiah sesuai fundamentalnyal.

Menyikapi kenaikan pertumbuhan ekonomi sebanyak 4,47 persen pada triwulan ini, Kepala Badan Pengusahaan (BP) Batam Lukita Dinarsyah Tuwo akan mendorong industri berorientasi ekspor seperti manufaktur dan galangan kapal untuk bangkit. Caranya adalah memberikan insentif bagi industri-industri tertentu yang sewa lahannya akan segera berakhir.

“Sudah ada beberapa yang mau memperpanjang sewa lahannya, walaupun masa penggunaannya masih tinggal 5 atau 6 tahun lagi. Kami siap memberikan diskon atau cara pembayaran yang lebih mudah,” kata Lukita, Rabu (9/5).

Cara lainnya adalah mendorong agar pemerintah pusat mau menggunakan barang produksi lokal seperti dari Batam.

“Kami juga terus memberikan dukungan ke pemerintah pusat agar menggunakan produksi dalam negeri, khusunya di sektor migas dan mineral,” jelasnya.

BP juga katanya telah berdialog dengan Kementerian Perdagangan terkait soal barang larangan terbatas. BP kata Lukita menginginkan agar proses perizinan lartas tersebut didelegasikan ke BP Batam. Tujuannya untuk mempermudah pengusaha kawasan industri dalam mengimpor bahan baku yang termasuk dalam lartas, contohnya garam industri, karton dan plastik. (leo)