Ibu pertiwi menangis. Serangan teror kembali terjadi. Tidak sedikit mayat berjatuhan. Tak hanya aparat, masyarakat sipil juga menjadi korban. Sangat-sangat brutal.

Iklan

Belum genap sepekan tragedi “Brimob Berdarah” yang menewaskan beberapa personel Polri terjadi, aksi terorisme kembali terjadi di negeri ini. Surabaya diguncang bom. Gereja Katolik Santa Maria Tak Bercela, Gereja Kristen Indonesia (GKI), dan Gereja Pantekosta Pusat Surabaya (GPPS) dibom, Minggu (13/5).

Sedangkan malam harinya di Sidoarjo, bom meledak di rumah susun Wonocolo. Saya bersyukur bom itu mengenai pelakunya sendiri. Sehingga tidak menimbulkan korban jiwa di kalangan masyarakat. Mungkin itu azab dari Allah SWT untuk melindungi ciptaan-Nya.

Lalu, Senin (14/5) kemarin, giliran Mapolresta Surabaya dibom. Bahkan, seorang anak perempuan yang diduga anak pelaku bom bunuh diri ditemukan selamat. Jalan terhuyung-huyung dengan penuh luka. Salah seorang polisi yang melihat kejadian itu, tanpa pikir panjang langsung berupaya menyelamatkan anak perempuan itu. Padahal kalau dipikir, itu anak pelaku bom. Tetap saja diselamatkan.

Kejadian ini bikin miris. Pelakunya orang-orang Indonesia. Sasarannya pun orang-orang Indonesia. Padahal, Indonesia dikenal sebagai negara yang rukun dan menjunjung tinggi azas kekeluargaan. Masyarakatnya pun majemuk. Terdiri dari beragam suku, agama, dan budaya.

Padahal, para pendiri bangsa dengan latar belakang berbeda telah mengorbankan keringat dan darah untuk Indonesia. Mereka pasti bersedih. Karena generasi penerusnya malah mengebom saudaranya sendiri.

Siapapun pelakunya, aksi ini sangat biadab. Tidak berperikemanusiaan. Sangat tidak manusiawi. Juga tidak terpuji. Apalagi, membawa anak-anak di bawah umur untuk menjalankan aksi bom bunuh diri. Entah setan apa yang merasuki diri para pelaku, tragedi ini menimbulkan pilu.

Saya beragama Islam. Lahir dari keluarga muslim. Dalam Islam, tidak pernah mengajarkan cara membunuh orang. Saya pikir, agama lain juga mengajarkan hal sama. Bahwa, membunuh sesama umat manusia itu dilarang oleh agama.

Pertanyaan yang sampai sekarang belum saya tahu jawabannya adalah, agama pelaku bom bunuh diri ini apa. Karena setahu saya, tidak satupun agama di dunia yang menghalalkan membunuh orang tak bersalah. Apalagi mengajak anak-anak atau keluarganya untuk meledakkan diri.

Memang, melawan teror ini tidak mudah. Butuh kerja keras semua pihak. Butuh kerja sama. Semuanya harus terlibat. Aparat, tokoh agama, tokoh masyarakat, dan semua elemen harus bersatu padu. Semua sama-sama peka. Di tingkat bawah misalnya.

Masyarakat harus segera melaporkan hal-hal mencurigakan kepada aparat berwajib, atau meningkatkan siskamling. Di tingkat tokoh, harus mengampanyekan pesan-pesan damai yang menyejukkan. Sedangkan di level atas, harus segera dibuat regulasi untuk memberi rasa aman dan nyaman kepada masyarakat.

Tragedi ini begitu memilukan. Sangat memilukan. Sebagai sesama manusia, kita tentunya berharap agar kejadian ini tidak terulang lagi. Sudah cukup darah mengalir di jalan. Sudah cukup jasad tergeletak tak keruan.

Semua harus bersatu.

Tinggalkan paham radikalisme yang menuai benih terorisme. Saya yakin, masyarakat Indonesia akan mendukung Polri dan aparat lainnya dalam menumpas terorisme di negeri ini.

Karena, orang-orang Indonesia cinta damai. Lebih mementingkan persatuan dan kesatuan bangsa. *

 

Guntur Marchista Sunan
Direktur Batam Pos