Irma, bersama tunggangannya saat mengikuti Trabas Adventure, Minggu (13/5). F.Yusnadi/batampos.co,id

batampos.co.idIrma Eliza,20, penunggang motor trail yang paling menarik perhatian pada ajang Trabas Adventure, Minggu (13/5) kemarin. Gadis berjilbab coklat ini menaklukkan rute menantang bersama puluhan pengendara pria lainnya.

Sepasang sepatu hitam yang telah tertempel percikan tanah liat yang mengeras, mengisyaratkan, betapa medan yang ditempuh gadis berperawakan mungil ini, tidak mudah ia taklukkan. Irma, panggilan akrab gadis lima bersaudara ini, baru saja tiba diperhentian pertama. Langkahnya tak seringan biasanya, dengan sepatu khusus rider yang masih ia kenakan.

Kacamata yang melindungi matanya pun terkena percikan tanah liat yang hampir merata. Tidak terlihat lelah, Irma yang baru saja menerima nasi kotak dari rekan pengendara lain pun tidak langsung menyantap makan siang kemarin.

Ia lebih memilih duduk di ujung batas panggung, sehingga kakinya yang menggantung dapat sedikit ia ayun-ayun.

Perjalanan dari garis bermulanya perjalanan hingga perhentian pertama saat mengikuti Trabas kemarin, tak dipungkiri Irma memacu adrenalinnya. Hingga semangat untuk melanjutkan perjalanan sampai ke garis akhir, mengalahi rasa laparnya.

Menjadi pengendara wanita satu-satunya, tidak membuat Irma luntur semangat saat melintasi arena Trabas. Meski awalnya, ia mengaku sempat tertinggal, berhubung ban motor yang ia kendarai sedikit kempis.

“Sempet miss pas di awal. Jadinya, tukaran dengan motor lain,” tutur Irma dengan senyum simpulnya.

Meski terlihat meyakinkan di atas motor trail yang ia kendarai, Irma terlihat layaknya gadis lain pada usianya. Ia masih malu-malu saat orang-orang mengagumi aksinya melakukan olahraga yang didominasi kaum pria.

“Awalnya dijalani untuk jadi pembuktian, kalau perempuan pun sebenarnya bisa saja ikut olahraga ini,” tutur Irma.

Ia mengawali olahraga ekstrem ini dengan hobinya berbalapan. Degup adrenalin yang terpacu, membuatnya ingin terus-terusan mengebut dengan kendaraan roda dua.

Namun, Irma yang kala itu masih duduk di bangku akhir Sekolah Menengah Pertama (SMP), harus melakukan hobinya dengan diam-diam. Karena tentunya, orang tua Irma, tidak ingin anak ketiganya terluka karena hobi yang ia lakukan.

Belum pula stigma negatif dari kebut-kebutan di jalan, dan hal fatal yang bisa mengikuti. “Tapi karena beberapa kali pernah jatuh dan luka, motor juga sampai rusak parah. Akhirnya ibu tahu,” tutur gadis ini mengingat masa saat menjadi pembalap liar.

Irma lantas memutuskan untuk berkecimpung di dunia olahraga otomotif dengan serius. Yang ia mulai dengan berada di lingkaran para pengendara motor balap. Ia pun kerap menghabiskan waktu berada di bengkel. “Supaya bisa perbaiki sendiri kalau motor kenapa-kenapa,” tutur Irma yang mengaku feminin dalam kesehariannya.

Pendekatan awal Irma pada dunia otomotif tersebut, lantas mempertemukannya dengan Budi Yepi (57). Pelatih yang mengajaknya untuk mengenal lebih dalam, akan olahraga tersebut.

Pelatih yang telah ia anggap layaknya keluarga, lantas ia panggil Om Budi ini mengajarkan segala cara untuk berkendara yang baik dan benar. Om Budi ini pula yang lantas menggembleng Irma sejak awal. Sampai akhirnya mampu mengukir prestasi pada ajang pertamanya pada Kejurnas yang berlangsung di Batam 5 hingga 6 Mei lalu. Menjadi yang pertama, pada perlombaan perdananya.

“Kemampuan Irma memang memungkinkan Irma menjadi lebih dari saat ini. Potensinya menjanjikan,” tutur Om Budi yang juga merupakan salah seorang peserta Trabas tersebut.

Di matanya, Irma memiliki keinginan yang kuat. Bahkan saking kuatnya keinginan Irma, tak pelak Om Budi menuturkan gadis tersebut keras kepala. Dalam hal yang positif.

Bahkan ketika, Om Budi menjelaskan konsekuensi akan keikutsertaan Irma dalam olahraga tersebut. “Dari awal saya sudah tegaskan. Ini berbahaya, kalau tidak sakit parah, ya bisa nyawa,” tutur Om Budi.

Namun alih-alih gentar. Irma justru tetap menyetujui untuk bergabung tanpa berpikir panjang.

Berbekal ilmu ajar dan juga kendaraan dan kelengkapan lainnya dari Om Budi, Irma lantas melaju dengan tekad mampu berprestasi dalam hobinya ini.

Pesan yang selalu ditegaskan Om Budi dalam tiap latihan maupun keikutsertaan dalam ajang-ajang perlombaan, ialah untuk menomorsatukan keselamatan.

“Jangan emosi dan ego. Ini olahraga untuk bersenang-senang. Bukan untuk pamer-pameran,” ujarnya.

Putri ketiga pasangan Dawiyah dan (alm) Surawi ini, juga bertekad mampu menorehkan prestasi yang mengharumkan nama Tanjungpinang. Bahkan sampai ke ajang terbesar yang dapat ia ikuti.

Lulusan SMK Negeri 4, jurusan Multimedia ini mengaku tidak akan menjalani hobinya setengah hati. Apalagi setelah berusaha keras meyakinkan sang ibu, untuk dapat merestuinya dalam setiap ajang yang ia ikuti. “Gak gampang dapat izinnya. Jadi harus total,” tuturnya terkekeh-kekeh.

Sehingga tiap kali akan mengikuti kegiatan perlombaan maupun latihan, Irma memastikan dirinya mendapat izin dari sang ibu. “Kalau gak diizinin, ya pasti gak akan pergi,” pungkas gadis pengoleksi boneka ini. (aya)

Respon Anda?

komentar