*Gubernur Minta Pekerja-Pengusaha Bermufakat

BATAM (BP) – Rapat pembahasan Upah Minimum Sektoral (UMS) Batam 2018 yang digelar di Graha Kepri Batam kembali menemui jalan buntu (deadlock), Selasa (15/5). Gubernur Kepri Nurdin Basirun yang hadir dalam rapat tersebut meminta agar UMS Batam ditetapkan secara bipartit yang melibatkan pihak pengusaha dan perwakilan pekerja.

Nurdin mengaku tidak memutuskan angka UMS dalam rapat kemarin karena ingin memberi kesempatan pengusaha-pekerja bermufakat. Namun, jika kemudian pembahasan kembali menemui jalan buntu, ia menyatakan akan turun tangan.

“Kalau deadlock, nanti kita duduk bersama lagi,” kata Nurdin sebelum meninggalkan Graha Kepri di Batam Center, Selasa (15/5).

Selain Nurdin, rapat yang digelar tertutup kemarin juga dihadiri Kapolda Kepri Irjen Didid Widjanardi, Ketua DPRD Kepri Jumaga Nadeak, Kapolres Barelang Kombes Hengki, Kepala Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) Kepri Tagor Napitupulu, Kadisnaker Batam Rudi Sakyakirti, perwakilan pengusaha dari Apindo, dan perwakilan serikat buruh.

Ketua DPRD Kepri Jumaga Nadeak mengatakan, dalam rapat tersebut Gubernur Kepri meminta pengusaha dan serikat pekerja kembali membahas nilai UMS Kota Batam 2018. Namun, dia berharap Gubernur Kepri memberi batas waktu tertentu, sehingga penetapan UMS Batam tak diundur terus.

“Mengingat sebentar lagi saudara kita yang muslim mau puasa dan Lebaran. Karena dampaknya di-THR,” kata Jumaga.

Hal senada disampaikan Kapolda Kepri Irjen Pol Didid Widjanardi. “Kita beri waktu menyelesaikan UMS ini. Tapi mesti ada keputusan. Sesegera mungkin,” ujar Didid.

Kepala Dinas Tenaga Kerja Kota Batam Rudi Sakyakirti mengatakan, rapat penetapan UMS Batam akan dilanjutkan Jumat (18/5) setelah menemui jalan buntu, kemarin. Rapat tersebut akan dihadiri semua pihak seperti dari perwakilan serikat pekerja dan asosiasi pengusaha. Juga ada perwakilan dari Pemko Batam.

“Sektor yang sudah ada asosiasi seperti PHRI dan BSOA. Yang belum ada asosiasi akan diwakili Apindo. Artinya semua pihak kita libatkan,” kata Rudi.

Sementara itu, ratusan pekerja menggelar demo saat rapat di Graha Kepri Batam Center sedang berlangsung, kemarin. Polisi terpaksa menutup satu jalur jalan di depan Graha Kepri dari arah Simpang Kalista. Akibatnya, arus lalulintas di jalur tersebut macet.

Kemacetan ini cukup panjang. “Satu jam terjebak macet, mobil tak jalan-jalan gara-gara macet itu,” ujar Moza, warga Batam Center, kemarin.

Hal senada dikatakan Winike yang juga terjebak macet akibat demo buruh. Ia berharap kejadian serupa tak terulang lagi, karena sangat mengganggu kenyamanan pengguna jalan.

“Kalau sering begini siapa yang merasakan dampaknya. Ya masyarakat yang tak tahu apa-apa. Masak tiap demo macet terus,” kata Wineke.

*Ribuan Pencaker di Batamindo
Sementara ratusan buruh demo menuntut UMS di depan Graha Kepri Batam, ribuan pencari kerja (pencaker) membanjiri Multi Purpose Hall (MPH) di Kawasan Industri Batamindo, kemarin. Meski tak banyak informasi lowongan kerja yang dipasang di MPH itu, para pencaker terus datang ke MPH dari pagi hingga siang.

Ditanya soal aksi demo para buruh, sejumlah pencaker menanggapinya beragam. Namun umumnya mereka berharap agar buruh ikut menciptakan situasi kondusif, sehingga ikim investasi di Batam tumbuh dengan baik.

Para pencaker mengatakan, seharusnya masalah upah dibicarakan dengan baik-baik dan diputuskan sesuai aturan yang berlaku. Sebab aksi demo bisa mengusik ketenangan para investor.

“Coba sekali-kali demo minta (lapangan) pekerjaan, tentu akan lebih baik. Kami tentu akan semangat mendukung kawan-kawan,” ujar Hakim, seorang pencaker.

Pencaker yang lainnya, Lisnawati, menyampaikan hal senada. Dia berharap agar segala bentuk tindakan yang menghambat investasi ataupun perkembangan dunia industri di Batam dihentikan agar ke depannya situasi dunia industri di Batam semakin baik. Sehingga puluhan ribu pengangguran seperti dirinya juga berksempatan untuk bekerja.

“Sudah capek nyari ke sana kemari bawa lamaran, tapi hasilnya saya tetap menganggur sampai hari ini,” ujar wanita 23 tahun itu.

Sudin, seorang petugas keamanan di MPH Batamindo mengaku prihatin dengan situasi tersebut. Hampir setiap hari, kata Sudin, ada seribuan pencaker selalu mendatangi kawasaan MPH tersebut meskipun lowongan kerja sangat minim dan bahkan tak ada sama sekali. “Sedih mas tengoknya. Setiap hari begini (ramai) terus. Paling sedikit itu 500 orang dalam sehari yang datang ke sini,” ujarnya.

Para pencaker tersebut, kata Sudin, bahkan ada yang rela menunggu dari pagi sampai siang hari. “Ada yang sampai bawa bontot (bekal makanan) dari rumah. Jadi memang terenyuh kalau kita perhatikan mereka-mereka ini,” ujar Sudin. (rng/she/eja)

Respon Anda?

komentar