Iklan
Seorang warga saat melihat empang bekas galian pasir di kampung jabi Nongsa, Senin (21/5). Lubang bekas galian pasir yang tidak timbun kembali bisa mengakibatkan kecelakaan hingga merengut korban jiwa. F Cecep Mulyana/Batam Pos

batampos.co.id – Kolam bekas tambang pasir kembali memakan korban. Kali ini, Akbar Ibrahim, 11 menjadi korban setelah bermain-main di kolam bekas galian pasir di Rt 002, RW 004 Kampung Jabi, Jumat (18/5)

Iklan

“Sejak saya jadi Kapolsek, ini kedua kalinya,” kata Kapolsek Nongsa Kompol Albert Sihite, Senin (21/5).

Ia mengatakan kejadian pertama itu September 2017, dua orang anak meninggal akibat bekas galian pasir di Teluk Mergung, Nongsa.

“Sekarang terjadi lagi,” ucapnya.

Albert cukup menyesalkan kejadian ini kembali terulang. Seharusnya, kata Albert orangtua lebih berhati-hati dalam menjaga anaknya. Ia berharap kejadian Jumat (18/5) lalu, tidak terulang lagi ke depannya.

“Saya minta orang tua jaga anak-anaknya, jangan biarkan mereka bermain tanpa ada pengawasan,” tuturnya

Albert menerangkan kronologis kejadian bermula saat Akbar dan Aldi bermain di kolam bekas galian pasir yang sudah lama tak beroperasi. Kedua anak itu main perahu-perahuan dengan menggunakan gabus. Lalu mendayungnya hingga ke tengah kolam.

“Saat di tengah, ada yang menggoyang-goyangkan gabus tersebut. Akibatnya Akbar jatuh. Tapi anak ini tidak bisa berenang,” tuturnya.

Rekan Akbar, ternyata tak bisa berenang juga. Hanya bisa berteriak minta tolong. Naas, saat warga mendatangi tempat kejadian, korban sudah tak terlihat lagi di permungkaan air. “Kejadian itu pukul 14.00, korban baru ditemukan pukul 17.00 dengan bantuan penyelam lokal,” ungkapnya.

Salah seorang warga Batubesar, Sigit menuturkan bahwa dirinya mendengar kejadian itu. “Ini bukan kali pertama, sebelum-sebelum sudah beberapa kali anak tenggalam di bekas galian pasir itu,” ucapnya.

Pria kelahiran 29 tahun yang lalu itu, mengatakan di daerah Nongsa banyak bekas galian pasir yang jadi kolam. Namun mirisnya, kolam bekas galian pasir cukup mudah dimasuki siapa saja, termasuk oleh anak kecil sekalipun.

“Harusnya pemilik lahan bekas galian pasirnya, memagari kolam itu. Sehingga siapapun tak bisa masuk ke sana. Agar tak ada korban lagi,” tegasnya.

Ia berharap pemerintah daerah dapat memetik pelajaran dari kejadian ini. Agar segera menimbun kolam-kolam bekas galian pasir tersebut.

“Kalau pemerintah tak bisa, yah mungkin meminta orang yang telah merusak lingkungan itu menimbun bekas galian pasir itu,” tuturnya

Dari pantauan Batam Pos di daerah Nongsa, tak terhitung jumlah kolam bekas galian pasir. Ketinggian air di kolam bekas galian pasir tersebut bervariasi, dari 0 hingga 5 meter.
Beberapa tempat kolam galian pasir memiliki air yang yang bening, lalu ditunjang dengan pemandangan yang indah. Sehingga tentunya menarik minat siapapun untuk berenang atau sekedar bermain-main di bekas kolam tersebut. (ska)