batampos.co.id – Setelah agak tenang pasca penaikan suku bunga oleh Bank Indonesia pekan lalu, pasar finansial kembali bergejolak, Senin (21/5). Rupiah kembali melemah dan semakin parah. Berdasar Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor), rupiah berada di level Rp 14.176 per dolar Amerika Serikat (USD). Di pasar modal, indeks harga saham gabungan (IHSG) juga ambles 0,86 persen menuju 5.733,85.

Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Bhima Yudhistira memproyeksi rupiah bisa melemah hingga Rp 14.300 per USD sampai akhir Mei. Dia menilai, efek dari kenaikan bunga acuan BI tidak terlalu berdampak positif ke pelaku pasar karena hanya naik 25 bps. ”Respons BI agak terlambat dan hanya naik 25 bps, bukan 50 bps,” ujarnya, Senin (21/5).

Faktor lainnya, lanjut Bhima, adalah yield spread antara Treasury Bills (obligasi pemerintah AS) bertenor 10 tahun dan SBN (surat berharga negara) makin lebar. Yield Treasury Bills tenor 10 tahun naik cukup signifikan menjadi 3,11 persen. Sementara itu, SBN di tenor yang sama saat ini sebesar 7,3 persen. Dengan demikian, ada spread 419 basis poin. ”Lebarnya perbedaan yield menjadi indikasi investor cenderung melepas kepemilikan SBN,” katanya.

Direktur Penelitian Core Indonesia Mohammad Faisal menuturkan, selain faktor global, ada sejumlah faktor domestik yang ikut memengaruhi pasar. Yakni, adanya kekhawatiran kondisi instabilitas baru-baru ini. Fundamental ekonomi domestik juga masih lemah. Dia pun menekankan bahwa ketika sudah tembus batas psikologis Rp 14 ribu, rupiah makin susah dikendalikan. Dia menilai, selain intervensi cadangan devisa, diperlukan insentif tambahan dari kenaikan suku bunga acuan. ”Kenaikan 25 bps pekan lalu diharapkan dapat menstimulasi pasar, tapi ternyata masih kurang efektif,” ujarnya.

Gubernur BI Agus Martowardojo kembali mengatakan bahwa pelemahan rupiah merupakan murni pengaruh global. Mantan Menkeu itu membantah pendapat bahwa kebijakan BI menaikkan suku bunga acuannya sebesar 25 basis poin belum banyak berpengaruh untuk menenangkan pasar.

Dia menekankan, kenaikan bunga acuan juga disertai dengan bauran kebijakan BI yang lain, yaitu kebijakan makroprudensial dan operasi moneter. ”Kita tetap konsisten untuk menjaga stabilitas sistem keuangan Indonesia di tengah situasi dunia yang sedang penuh ketidakpastian,” kata dia di gedung Kemenkeu, Jakarta, kemarin.

Senada dengan Agus, Deputi Gubernur BI Dody Budi Waluyo mengungkapkan bahwa tekanan global memang masih cukup kuat. Hal tersebut disebabkan membaiknya sejumlah data ekonomi AS. Data-data makroekonominya tumbuh lebih cepat dari yang diperkirakan. Selain itu, terjadi pelemahan mata uang euro yang berdampak pada makin menguatnya USD.

”Gambaran ini menunjukkan bahwa kondisi globalnya menarik pelemahan di mata uang regional, termasuk Indonesia,” ujarnya. Dia mengatakan, BI tidak bisa melawan mekanisme pasar. ”Tapi, BI tetap ada di pasar jaga stabilitas rupiah, meskipun kita tidak lawan arah pasar itu sendiri,” ungkapnya.

Walau begitu, kata Dody, kondisi rupiah saat ini masih cukup fit. Posisi rupiah saat ini, menurut dia, memang menunjukkan bahwa pasar menghendaki di level tersebut. Pihaknya belum bisa memprediksi sampai kapan rupiah akan terus melemah. (ken/c10/sof/JPG)

Respon Anda?

komentar