Baru dua tahun terbentuk, tapi puluhan piala sudah terpajang rapi di Sanggar Seni Wansendari Batam di Perumahan Marbella Residence, Batamcenter. Tak hanya berprestasi di lokal saja, sanggar ini juga sudah mengharumkan nama Batam dan Indonesia dalam pameran budaya lintas negara. Terbaru, diundang tampil ke Australia.

EMPAT orang itu tampak akrab menaiki tangga menuju lantai dua di salah satu kopi tiam di kawasan Greenland, Batamcenter, Jumat, pekan lalu. Mereka datang dengan busana kasual, celana pendek dan kaus. Menunggu azan Maghrib untuk berbuka puasa, mereka berbincang satu sama lain, sambil sesekali menyeka keringat.

“Kami baru selesai latihan tari dari gedung LAM,” ujar Dhori kepada Batam Pos di Batamcenter, Rabu (6/6) kemarin.

Ia menjadi salah satu pendiri Sanggar Seni Wansendari bersama rekannya yang lain, Iskandar, pada Januari 2016 lalu. Di sanggar ini, Dhori bertugas sebagai pengurus, sedangkan Iskandar bertugas sebagai penanggung jawab.

“Awal terbentuknya sanggar kami ini hanya ada 10 personel. Namun sekarang, alhamdulillah sudah ada 30 personel yang aktif dan berasal dari berbagai usia dan juga profesi. Ada yang masih pelajar, ada guru, dan ada juga karyawan swasta,” ujar pria yang akrab disapa Nandar ini.

Nandar mengungkapkan, terbentuknya sanggar ini berawal dari komunitas penggiat seni anak muda di Batam yang mereka lakoni. Dari hobi menari bersama teman-teman, terbentuk komunitas, lalu membuat kegiatan kesenian.

Lalu ia berfikir, kenapa kita tak membentuk sanggar seni saja untuk mewadahi hobi tersebut? Apalagi komunitas ini terdiri dari beragam etnis dan latar belakang profesi.

“Pasti bisa saling bertukar ide mengenai seni tari daerah masing-masing,” jelas Nandar.

Menurut Dhori, mereka menamakan sanggar itu dengan Sanggar Seni Wansendari, karena Wan Sendari diambil dari nama tokoh leluhur nenek moyang raja-raja Melayu. “Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung. Maka atas dasar itu pula lah, kami menamai sanggar tari ini menjadi Sanggar Seni Wansendari,” jelasnya.

Dua bulan terbentuk, sanggar ini dengan percaya diri ikut dalam festival tari Kota Batam dan langsung berprestasi mendapatkan juara satu, membawa pulang hadiah berupa uang tunai Rp 10 juta, trofi, serta piagam. Kala itu, mereka membawakan Tari Hantaran Wansendari. Sebuah tarian khas Melayu.

Prestasi tersebut pun sukses mengantarkan mereka ke kancah perlombaan nasional lewat Parade Tari Nusantara ke 35 yang digelar di Taman Mini Indonesia Indah (TMII). “Di Jakarta, kami berhasil membawa pulang lima piala. Itu menjadi prestasi nasional pertama kami,” ujar Dhori.

Ada pun gelar kategori juara yang mereka raih kala itu yakni, kategori 13 Unggulan Nasional, Penyaji Terbaik Wilayah Se-Sumatera, Penata Tari Unggulan Nasional, Penata Musik Unggulan Nasional, serta Penata Rias dan Busana Unggulan Nasional. “Syukur banget, awal terbentuk kita langsung berprestasi,” jelas Dhori.

Nama mereka pun mulai dikenal. Apalagi, saat itu Dinas Pariwisata Kota Batam kerap mengundang mereka untuk berbagai acara pemerintahan dan acara resmi lainnya di kota ini.

Seiring berjalannya waktu, para personel sanggar ini pun makin mengepakkan sayapnya secara mandiri. Masing-masing mereka kerap berdiskusi mengenai tarian antardaerah, bahkan hingga tarian internasional. Masing-masing dari mereka menjadi pelatih, belajar make-up sendiri, bahkan menjahit kostum sendiri.

“Semua kami kerjakan mandiri. Mau manggung pun seperti itu,” jelas Nandar.

Usaha tak mengkhianati hasil. Nandar yang lahir di Magelang, 35 tahun lalu, demikian juga sahabatnya Dhori, yang kelahiran Rembang, 33 tahun lalu itu memilih berhenti dari pekerjaannya sebagai teknisi mesin dari salah satu perusahaan vendor bank swasta.

“Kami memilih fokus mengurus sanggar. Biaya awal mendirikan sanggar ini, kami gunakan dari tabungan dan juga hutang. Alhamdulillah sekarang kami bisa berkembang dan selalu ada job setiap harinya,” jelas Nandar.

Pria dengan pendidikan terakhir Diklat Pariwisata di Surakarta ini menyebutkan, dalam setiap hari, mereka bisa menerima tiga sampai lima job menari. Beruntung, semua make-up, kostum sudah tersedia. Terlebih masing-masing personel juga sudah diajari make-up sendiri selain latihan menari.

“Jadi pernah itu, habis manggung di mal yang satu, buru-buru lari dari panggung, selanjutnya kabur ke hotel lainnya. Semua itu kami lakukan demi komitmen menghibur secara profesional. Di ibaratkan ya, kami ini buruh keliling yang bertugas menghibur,” ujar Dhori merendah.

Sudah tak terbilang tempat dan acara yang mereka hadiri untuk manggung. Kerap kali juga mereka diundang ke luar negeri, seperti Singapura dan Malaysia. Terbaru, Mei lalu, mereka juga diundang ke Australia, mengisi acara fashion show trilateral Indonesia-Timor Leste- Australia, serta pesta rakyat bertajuk Warisan Budaya Indonesia yang diadakan Darwin Indonesian Women’s Association (DIWA).

Di Australia, mereka tampil di Parlemen House di Darwin pada 18 Mei.

Di sana, mereka kolaborasi dengan desainer fesyen kenamaan Batam, Ronald Moreno. Mereka tampil membawakan tarian pesona Indonesia yang terdiri dari medley tari Melayu, tari piring Minang, tortor Batak, tari Jaipong, dan tarian Kalimantan selama tujuh menit.

“Kami memakai busana merah putih, dan juga perpaduan pakaian mewakili jenis tarian yang dibawakan dengan basic batik,” ujar Penanggung Jawab Busana Sanggar Wansendari, Dewi Sri Wuriani.

Keesokan harinya, sanggar ini pun tampil di Goyder Square Park di Kota Darwin. Mereka mengisi acara misi Festival Warisan Budaya Indonesia. Mereka menampilkan enam tarian sekaligus, seperti Tari Sekapur Sirih dari Melayu, Sulung Dayung dari Jawa Tengah, Tari Piring dari Sumatera Barat, Bajidor kahot dari Jawa Barat, dan tari Enggang dari Kalimantan, serta tari medley Pesona Indonesia. Penampilan mereka yang membawakan tari-tarian tersebut secara apik mendapat apresiasi dari warga Australia dan juga para komunitas Indonesia yang tinggal di negeri Kanguru tersebut.

“Enam orang kami yang berangkat, semuanya excited banget. Bangga dan terharu kala kami membawakan tarian Indonesia dan juga menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya Konsulat RI di sana. Begini rasanya nasionalisme itu kala berada di luar negara. Apalagi antusiasme warga di sana melihat penampilan kami. Senang campur haru banget,” jelas Dhori.

Setelah ke Australia ini, sejumlah jadwal ke luar negeri dan luar kota pun sudah menunggu mereka usai Lebaran ini. “Sekarang, mengisi waktu selama Ramadan ini, kami perbanyak latihan dulu. Kami latihan setiap hari,” jelasnya.

Mengenai jenis tarian yang mereka kuasai, Nandar menyebut tak menghitungnya secara spesifik. Mereka komitmen untuk selalu membawa tarian tradisional Indonesia ke mana pun mereka diundang. “Ratusan enggaklah. Basic-nya tarian Melayu, tapi kuasai hampir semua tarian nusantara, dan beberapa tarian internasional,” katanya.

Namun mereka mengkolaborasikannya dengan kreasi modern supaya anak-anak muda milenial juga tertarik belajar seni tari. Sehingga tarian nasional dan tari daerah tidak tergerus dan terlupakan.

“Pokoknya kami berkarya dengan motto Cintai Tradisimu, Junjung Budayamu,” tutupnya. (CHAHAYA SIMANJUNTAK, Batam Kota)

Respon Anda?

komentar