batampos.co.id – Sejak awal 2018 sudah ribuan wisatawan mancanegara (wisman) asal Tiongkok berkunjung ke Tanjungpinang dan Bintan. Ada yang terbang langsung dari Tiongkok ke Tanjungpinang. Ada pula yang melalui Singapura.

Iklan

Kunjungan itu membuat sektor industri pariwisata di Pulau Bintan bergairah kembali. Berdasarkan data dari Kantor Imigrasi Tanjungpinang, selama Februari 2018 saja, sekitar 5.275 wisman Tiongkok datang ke Tanjungpinang menggunakan penerbangan langsung.

“Mereka terbang langsung dengan menggunakan pesawat Citilink dan Sriwijaya Air dari sejumlah kota, seperti dari Kota Chongqing, Chengdu, Wenzhou, dan Kota Ningbo. Kemudian dari Kota Hangzhou, dan Kota Ningbo,” kata Liu Eu Fung, Resident Manager Hotel Bintan Agro Resort kepada Batam Pos, Kamis (7/6).

Menurut pria asal Singkawang ini, kedatangan ribuan wisman itu membuat hotel-hotel yang di 2017 sempat lesu, di 2018 menggeliat kembali. Sedikitnya delapan hotel berbintang 4 di Pulau Bintan hidup kembali.

Efek dari membaiknya tingkat hunian hotel adalah meningkatnya permintaan bahan mentah untuk makanan dan minuman dari hotel ke masyarakat sekitarnya. Juga membuat puluhan tour guide di Pulau Bintan ikut mendapat manfaat positifnya.

“Ada sekitar 70-an guide lokal yang ikut merasakan dampak positif dari kedatangan turis turis Cina. Meski mereka didampingi beberapa guide, yang mengurus dan mendampingi mereka dari pergi hingga pulang kembali ke Cina,” terang Liu Eu Fung.

Sama seperti kita, wisata ke luar negeri, imbuh Liu, yang didampingi pemandu wisata, mereka juga seperti itu. Umumnya tour and travel akan memberikan satu pemadu wisata untuk rombongan yang berjumlah sekitar 10 orang.

“Jadi, mereka memang ditunjuk dari kantor tour and travel di negara asal mereka masing-masing. Bukan dari kita,” tegasnya.

Penegasan itu sekaligus menjawab adanya tudingan dari oknum tertentu, yang menyebut tour guide itu diatur oleh manajemen di Bintan. Oknum itu sebelumnya pernah bergabung sebagai pemandu lepas (tour guide freelance) wisman Tiongkok ke Pulau Bintan. Namun, kerja sama dengannya dihentikan karena perilakunya tidak bisa diterima wisman.

“Kita ini kan sebagai pihak yang dikunjungi. Dan, kita berikan pelayanan terbaik sebagai wujud terima kasih kita karena mereka sudah datang.
Termasuk menyiapkan pemandu yang mampu menguasai dialek bahasa dari daerah asal mereka datang,” jelas Liu, sembari menambahkan bahwa pemandu dari Tiongkok belum tentu fasih berbahasa Indonesia sehingga perlu pemandu lokal juga.

Baerullah, Kasi Wasdakim Kantor Imigrasi Tanjungpinang yang dikonfirmasi terpisah, menegaskan tidak ada aturan yang melarang turis asing membawa tour leader sendiri. Karena jasa mereka memang dibutuhkan.(cca)