Iklan
ilustrasi

batampos.co.id – Harga daging sapi dan ayam potong di beberapa pasar yang tersebar se-Batam melonjak naik mendekati lebaran Idul Fitri tahun ini.

Iklan

Seperti misalnya di Pasar Fanindo Batuaji, harga daging sapi beku yang seharusnya tertinggi itu Rp 80 ribu perkilogramnya atau sesuai HET, ternyata banyak pedagang pasar yang menjualnya hingga Rp 90 ribu.

Begitu juga daging ayam potong yang sebelumnya per kilogramnya Rp 33-Rp 35 ribu, saat ini sudah mencapai Rp 38 ribu.

Menanggapi hal tersebut, William, pemilik distributor daging sapi utama di Batam, yakni PT Batam Frozen Food (BFF) menegaskan, pihaknya sudah sering kali ikut turun langsung menggelar pasar murah yang digelar pemerintah maupun pihak swasta.

“Siapapun yang ingin mengajak kami untuk menggelar pasar murah daging sapi, kami tak pernah menolak dan selalu siap. Soal masih tingginya harga daging sapi di beberapa pasar saat ini, hal tersebut bukan karena dari distributor, tapi yang menentukan para pedagang di pasar sendiri,” ujar William.

Untuk mengantisipasi agar harga daging sapi bisa stabil, tak melambung tinggi pihaknya bahkan mempersilakan masyarakat untuk datang langsung ke gudangnya membeli daging sapi dengan harga sesuai HET.

“Kalau masyarakat kemahalan dalam mendapatkan daging sapi beku, kantor dan gudang kami yang berada di kawasan Tangki Seribu Jodoh siap melayani masyarakat yang hendak membeli langsung ke kami. Berapapun yang dibutuhkan masyarakat, silakan datang beli, pasti kami layani,” terang William.

Masih kata William, pihaknya menjamin stok daging sapi untuk di Batam aman hingga setelah lebaran nanti. Saat ini di gudang miliknya, ada sebanyak 100 ton lebih daging sapi beku yang setiap saat dipasarkan.

“Tetap kami jual dengan harga seperti sebulan yang lalu, dari mulai Rp 60 ribu hingga Rp 78 ribu rupiah per kilogram daging sapi. Kalaupun ada pedagang di pasar menjual dagingnya di atas HET, saya rasa itu masih wajar. Sebab dari kami sudah Rp 78 ribu. Kalau dari pedagang pasar Rp 85 ribu, itu masih wajar,” terangnya.

Tapi kalau pedagang sudah menjual daging sapi beku mencapai Rp 90 ribu sampai Rp 100 ribu per kilogramnya, lanjutnya, hal itu patut dipertanyakan.

“Kalau yang seperti itu, saya berani jamin, itu ulah penjualnya sendiri yang ingin ambil untung gede memanfaatkan momen jelang lebaran. Intinya dari distributor memasarkan daging ke pedagang itu di bawah HET,” terang William.

Hal yang sama juga dikatakan oleh pemilik distributor daging sapi maupun ayam potong lainnya PT Dewi Kartika Inti, Acin. Mereka memasarkan daging sapi beku kualitas bagus, masih di bawah HET.

Ia juga senada dengan pemilik PT BFF yang mempersilakan masyarakat untuk beli langsung ke gudangnya kalau dirasa harga di pasar melambung tinggi.

“Kami jual daging sapi impor beku itu mulai Rp 67 ribu hingga tertinggi Rp 78 ribu perkilogramnya. Soal ada pedagang di pasar yang menjual daging sapi beku hingga Rp 90 ribu sampai Rp 95 ribu, itu berarti pedagang yang nakal, ingin mengeruk untuk banyak,” ujarnya.

Sementara harga ayam potong sendiri, diakui Acin dari distrubutor utama di Jakarta sudah naik harganya hingga mencapai Rp 33 ribu per kilogram.

“Kami beli sekitar Rp 33 ribu ke distributor utama di Jawa. Dari kami lempar ke pedagang Rp 34 ribu sampai Rp 35 ribu. Oleh pedagang di pasar dijualnya lagi ke masyarakat Rp 37 ribu sampai Rp 40 ribu. Itu saya rasa masih wajar. Karena dari distributor utama, daging ayam sudah tinggi memang,” terang Acin.

Soal stok ayam potong, Acin mengakui dari distributor utama memang stoknya berkurang atau menipis. Tak seperti stok daging sapi yang melimpah.

“Kami di gudang ada 100 ton lebih daging sapi. Jumlah itu saya rasa cukup lah untuk memenuhi kebutuhan masyarakat Batam hingga datangnya lebaran nanti. Kalau soal permintaan pasar, meningkat tapi tak signifikan. Nanti dua hari jelang lebaran Idul Fitri, biasanya peningkatannya pesat,” katanya mengakhiri. (gas)