PT Hantong Precision Manufacturing yang berada dikawassan Industrial Park Citra Buana II Batuampar terlihat sepi tidak ada aktivitas pekerja, Kamis (7/6). F Cecep Mulyana/Batam Pos

batampos.co.id – Hengkangnya perusahaan asal Singapura, PT Hantong Precision Manufacturing, dari Batam dikhawatirkan akan diikuti sejumlah perusahaan asing lainnya. Sebab saat ini ada beberapa investor asing yang mengaku mengalami kesulitan keuangan seperti Hantong.

Sekretaris Komisi IV DPRD Batam Udin P Sihaloho mengatakan, berdasarkan informasi yang ia peroleh, saat ini masih ada perusahaan asing terancam hengkang dari Batam. Penyebabnya sama dengan apa yang dialami PT Hantong. Yakni masalah finansial.

“Saya pikir tidak ada kesengajaan meninggalkan karyawannya. Perusahaan ini murni mengalami kesulitan ekonomi,” kata Udin menanggapi hengkangnya PT Hantong, Jumat (8/6).

Selama ini, kata Udin, PT Hantong sudah 18 tahun beroperasi di Batam. Selama itu pula, perusahaan tersebut selalu memenuhi hak-hak karyawannya. Nyaris tak pernah ada masalah.

Menurut Udin, perusahaan asal Singapura itu memilih hengkang karena tak sanggup lagi membayar gaji karyawan. Apalagi, di tengah kondisi ekonomi yang sulit saat ini, buruh selalu menuntut kenaikan upah.

“Bisa jadi karena upah yang dirasa tinggi oleh perusahaan, sehingga mereka tidak mampu membayar,” tuturnya.

Karenanya, Udin meminta pemerintah memberikan atensi atas hengkangnya PT Hantong ini. Jika tidak, bisa jadi akan ada perusahaan asing lain yang akan ikut menutup usahanya di Batam.

Politikus PDI Perjuangan ini menjelaskan, di antara hal yang perlu dilakukan pemerintah saat ini adalah mengendalikan harga kebutuhan pokok. Jika harga kebutuhan pokok murah dan stabil, ia meyakini buruh tidak akan demo setiap tahun untuk menuntut kenaikan upah.

“Tuntungan kenaikan gaji buruh tidak lepas dari melonjaknya sejumlah harga bahan pokok,” katanya.

Menurut Udin, hal tersebut jadi masalah serius yang harus diperhatikan semua pihak, termasuk pemerintah daerah. Bukan hanya dengan cara menggelar pasar sembako murah atau operasi pasar di saat-saat tertentu saja. Sementara penekanan harga juga harus dikontrol sehingga harga terjangkau.

“Kalau ini tak segera dilakukan maka bisa saja tahun depan buruh nuntut upah naik,” jelasnya.

PT Hantong Precision Manufacturing yang berada dikawassan Industrial Park Citra Buana II Batuampar terlihat sepi tidak ada aktivitas pekerja, Kamis (7/6). F Cecep Mulyana/Batam Pos

Diberitakan sebelumnya, bos PT Hantong Precision Manufacturing, Jannet Lim, diduga kabur setelah membawa seluruh uang perusahaan di Bank UOB. Akibatnya, sebanyak 94 karyawan PT Hantong Precision Manufacturing terancam tidak menerima gaji bulan Mei dan THR.

Namun Kepala Dinas Tenaga (Disnaker) Kota Batam, Rudi Sakyakirti, saat ini sudah ada harapan gaji dan THR seluruh karyawan PT Hantong akan dibayarkan. Sebab salah satu mitra PT Hantong, PT Siix Batam, akan melakukan pembayaran atas produk yang mereka pesan dari Hantong. Nilainya sebesar Rpp 400 juta.

“Sudah ada solusi meskipun mereka hanya terima setengah THR nya. Yang paling penting mereka bisa menerima haknya yang belum dibayarkan,” kata Rudi, Jumat (8/6).

Rudi mengakui, uang Rp 400 juta tersebut belum cukup untuk membayar sebulan gaji dan THR seluruh karyawan PT Hantong. Sebab total gaji dan THR untuk 94 orang karyawan PT Hantong mencapai Rp 600 juta lebih. Namun demikian masih ada dua perusahaan mitra PT Hantong yang belum membayar tagihan.

“Mudah-mudahan minggu depan ada dari Epson dan TEC. Yang penting sekarang sudah ada sebagian itu,” ucap Rudi.

Hingga kemarin, Disnaker Batam belum menerima informasi terbaru mengenai pemilik PT Hantong yang membawa kabur uang perusahaan.

“Katanya tak bisa dihubungi, saya tak sampai kesana. Hanya sebatas nasib karyawan saja,” tutupnya. (yui/rng/iza)

Respon Anda?

komentar