ilustrasi

Karin, 36, wanita yang tinggal di kawasan Semampir itu masih belum percaya suami dan ayahnya menjadi bagian penghuni dunia gemerlap malam.

“Enggak tahu, padahal ayah dan suami itu diam dan sama sama dosen. Enggak neka -neka lah. Tapi, kok bisa mereka bisa kerjasama dalam keburukan,” kata Karin di sela sela sidang gugatan cerai di Pengadilan Agama (PA), Klas 1A Surabaya, sebelum lebaran.

Bersama pengacaranya, wanita yang menggunakan hijab panjang tersebut menyatakan dirinya sudah sakit hati dengan suami dan ayahnya. Pasalnya, sejak ibunya meninggal, Karin menjadikan ayahnya sebagai suri teladan.

Karin menyatakan kalau ayahnya sangat rajin ibadah dan menyayangi kelima anaknya. Bahkan, sampai sekarang ayahnya belum menikah dengan alasan ingin melihat anak anaknya sukses.

“Saya juga beban marah sama ayah, karena selama ini ayah sangat baik. Suami juga gitu tapi rasanya masih sering terngiang-ngiang ayah dan suami peluk peluk wanita di diskotik,” papar ibu dua anak itu.

Ia baru mengetahui ulah nakal ayah dan suaminya yakni setiap Rabu malam dan Kamis malam jika suaminya sering janjian keluar untuk acara meeting. Mereka pulang keesokan harinya dan langsung tidur. Kadang mereka tidak bekerja.

“Saya enggak enak ati aja, akhirnya saya ikuti lha kok nak diskotik. Aku lepas kerudung dan masuk. Ndilalah ayah dan suami mencak-mencak,” papar Karin.

Sampai gugatan perceraian itu turun, Donjuan maupun ayahnya diam dan tutup mulut. Mereka tidak berkomentar apapun. Keduanya kompak tak mau buka suara.

“Enggak ada apa apa. Hanya ketemu klien di sana (diskotik,red). Enggak sering, ya masak ayah mertua membiarkan mantunya nakal. Istri aja yang pikirannya macem-macem,” kata Donjuan.

Maka, ia pun berharap istrinya bisa menarik gugatan cerainya karena ayah mertuanya juga meminta demikian.

(sb/han/jek/JPR)

Respon Anda?

komentar