ilustrasi

Pembaca, janga tiru ulah  Karin,29, ya…

Mentang-mentang bekerja, anak ia telantarkan.

Donwori akhirnya menceraikan Karin setelah dua tahun menikah. Bukan karena tak lagi cinta, tapi karena tertekan dengan sikap istri dan desakan orang tua.

“Ibuk memaksa untuk ceraiin dia,” ujar Pria Karangpilang ini saat menunggu sidang pertamanya di ruang tunggu Pengadilan Agama Kelas 1A Surabaya.

Keputusan ini Donwori diambil karena istrinya ini kerap mengabaikan kewajibannya. Karena bekerja, ia menitipkan anak ke mertua, boro-boro menyentuh pekerjaan rumah tangga, makan saja dia masih ikut mertua.

Padahal, Donwori melanjutkan, dirinya sudah berkali-kali menegur sang istri. Ia meminta, setidaknya dia membantu sedikit-sedikit pekerjaan mertuanya. Tapi teguran itu ya masuk telinga kanan, keluar telinga kiri. Sekali dua kali dilakukan seterusnya diabaikan lagi.

Puncaknya, Sikap Karin beberapa terakhir menyulut api amarah mertuanya. Saat hari libur kerja, satu-satunya hari di mana ia bertugas mengurus anaknya sendiri, ia malah terlalu asyik bermain handphone (HP). Karin bahkan tetap tertuju pada HP-nya padahal anaknya menangis meraung-raung. Sang mertua yang melihat hal itu langsung ngamuk.

“Ya ibukku gak tahan, dia akhirnya ngamuk-ngamuk. Sudah jadi menantu paling enak gak perlu ngapa-ngapain, eh waktu sama anak sedikit saja ditelantarkan.

Setelah kejadian itu, mertua Karin, ibu Donwori, langsung mengusir keduanya dari rumah. Hingga beberapa hari kemudian Donwori dipaksa untuk menceraikan istrinya.

“Sebenarnya aku ya agak terpaksa, aku sendiri ya beban kalau istri cuma memberatkan kerjaan tapi anak dan rumah gak keurus juga,” pungkasnya.

(sb/is/jek/JPR)

Respon Anda?

komentar