Kontras dengan Singapura yang gemerlap, di Lorong Buangkok, jalanan masih berupa tanah, ayam berkeliaran, dan pepohonan khas kampung di pekarangan. Seorang warga keturunan Bawean jadi sosok yang dituakan.

MAK Cik Ayu, demikian dia dipanggil, tengah mengaduk-aduk bubur lambuk saat Jawa Pos (grup Batam Pos) singgah di kediamannya pada Selasa (12/6) siang lalu itu. Membuat bubur yang memiliki warna kekuningan dan bercampur potongan sayuran kecil-kecil.

Itulah tradisi warga muslim Melayu di Lorong Buangkok, Singapura, setiap Ramadan. ’’Bubur ini hanya dibuat di bulan puasa. Saya buat banyak untuk bagi-bagi ke warga,’’ ujarnya.

Di Lorong Buangkok, lanjut dia, berbagi masakan atau apa pun yang dimiliki kepada tetangga merupakan hal biasa. Layaknya tradisi yang banyak ditemui di daerah bangsa Melayu seperti Indonesia. Sebuah tradisi, yang kata dia, hampir tidak ada lagi di Singapura.

Kampung Lorong Buangkok memang satu-satunya kampung atau desa dengan akar budaya Melayu asli yang masih tersisa di Singapura. Negeri Singa itu adalah negeri kota yang serba tertib. Jadi, bayangan orang tentang bekas jajahan Inggris tersebut ya tentang kotanya, warga urbannya.

Tapi, di Lorong Buangkok, semua yang kadung melekat di benak tentang Singapura itu langsung terkelupas. Bukan hanya dari segi kebiasaan warga. Bangunan maupun lingkungan fisik yang ada di Lorong Buangkok bisa dibilang kontras dengan Kota Singapura yang demikian megapolitan.

Saat berkeliling kampung seluas 2 hektare yang berjarak sekitar 10 kilometer dari pusat kota itu, suasana Singapura yang modern, gemerlap, serta megah yang didukung teknologi maju tidak tampak. Sepanjang kaki melangkah, rasanya seperti tengah berkeliling kampung-kampung di pedalaman Indonesia.

Mulai jalanan bertekstur tanah, ayam berkeliaran, burung di sangkar yang ditaruh di teras, hingga rumah beratap seng dan berdinding kayu yang masih mendominasi. Tak hanya itu, halaman rumah dan pekarangan warga juga masih banyak ditumbuhi pepohonan khas perumahan.

Pohon mangga beraneka jenis, jambu air, jambu biji, pepaya, kelapa, singkong, asam, tebu, delima, mengkudu, rambutan, hingga kersen masih terlihat.

’’Kalau buahnya jatuh, punya siapa pun kita ambil saja,’’ kata Awiludin, orang yang dituakan di kampung tersebut, lantas terkekeh.

Awi yang berusia 83 tahun itu merupakan warga Singapura keturunan Bawean. Sebuah pulau kecil di bagian utara pantai Gresik, Jawa Timur. Hingga saat ini, sanak keluarga besarnya kebanyakan di Bawean. Meski terakhir pulang 30 tahun lalu, silaturahmi lewat telepon masih terjaga.

AWI, warga keturunan Bawean yang menjadi sesepuh Kampung Lorong Buangkok, Singapura.
F. Folly Akbar/Jawa Pos

Perjalanannya sampai di Singapura bermula dari kepindahan orang tuanya yang bekerja di Pulau Ulin puluhan tahun lalu. Pulau tersebut merupakan bagian dari wilayah administrasi negara Singapura. Awi tumbuh dan besar hingga kemudian pindah ke pulau Singapura. Menetap serta menjadi warga negeri liliput tapi kaya itu.

Awi yang sudah 50 tahun tinggal di Lorong Buangkok menceritakan, sejarah kampungnya bermula saat keluarga Tionghoa membeli tanah 2 hektare di wilayah tersebut pada 1950-an. Karena terlampau luas, mereka pun menyewakan tanah tersebut. Almarhum ayah Awi termasuk di antaranya dan kemudian membangun rumah.

Saat ayahnya meninggal, Awi mewarisi bangunan rumah. Meski demikian, tanahnya masih milik keluarga Tionghoa yang kini dikelola salah satu anaknya yang bernama Sng Mui Hong. Saat ditanya berapa harga sewanya per bulan, Awi justru tertawa.

’’Buat makan kita bertiga saja tidak cukup. Murah, hanya 13 dolar Singapura (1 dolar Singapura = Rp 10.441, red),’’ imbuhnya.

Sebagai perbandingan, tarif sewa kamar berukuran 2×3 meter di Singapura, harganya sudah 42 dolar per malam.

Harga 13 dolar Singapura (SGD), lanjut Awi, merupakan perjanjian terakhir yang dibuat ayahnya bersama pemilik sejak beberapa tahun lalu. Hingga kini tidak ada perubahan. Karena bersifat perjanjian, harga sewa tiap-tiap keluarga di sana berbeda-beda. Bergantung kesepakatan di awal. Ada yang SGD 15, SGD 20, SGD 30, dan seterusnya.

’’Kalau naik, kami demo,’’ kata pria yang sudah lima tahun menganggur itu berseloroh.

Di kampung tersebut, kata dia, total ada 30 keluarga yang tinggal. Sebanyak 16 di antara mereka beretnis Melayu dan beragama Islam. Sisanya beragam, mulai Tiongkok hingga India.

Semua hidup berdampingan. Karena alasan itu pula, Awi bisa menguasai bahasa Mandarin dan India. Selain bahasa Melayu, Bawean/Madura, dan Inggris.

Soal aktivitas warga, dia menyebut kegiatannya sama seperti warga khas Melayu dulu. Setiap sore sepulang beraktivitas, warga berkumpul dan bersantai-santai di halaman rumah. Sementara setelah isya, anak-anak dan warga dewasa berkumpul di surau.

Setiap malam, jadwalnya berbeda. Kadang hanya membaca Alquran, kadang belajar agama. Kegiatan keagamaan di sana semua terkonsentrasi di Surau Al Firdaus yang juga memiliki bangunan khas Melayu. Tak lupa, di salah satu sudutnya, ada sebuah kentongan kayu.

’’Kalau ada apa-apa, kentongan ini ditabuh. Nanti warga kampung pasti ke sini dan bertanya ada apa,’’ ceritanya dengan raut antusias.

Mengenai masa depan Lorong Buangkok sebagai kampung Melayu terakhir di Singapura, Awi tak bisa memberikan jaminan apa pun. Pasalnya, tanah tersebut memang bukan miliknya. Jika pemiliknya ingin menjual dan bisa mencapai kesepakatan dengan warga dan pembeli, takdir tidak bisa ditolak.

Menurut cerita Awi, tawaran membeli tanah di kampung tersebut sudah beberapa kali masuk. Dia tak ingat angka pastinya. Tapi, sangat mahal menurutnya. Namun, harga yang ditawarkan kepada pemilik tanah dan kompensasi yang diterima warga tidak pernah cocok.

Secara pribadi, Awi tidak ingin kampung Melayu satu-satunya di Singapura itu hilang. Namun, karena tanah tersebut bukan miliknya, yang bisa dia lakukan adalah negosiasi soal kompensasi bangunan. Dia dan warga yang lain bersepakat untuk meminta kompensasi tinggi.

Belakangan, kekhawatirannya sedikit berkurang. Sebab, banyak orang, baik dari dalam maupun luar negeri, yang meminta pemerintah Singapura ikut menjaga eksistensi kampung tersebut. ’’Sampai mati saya ingin terus di sini,’’ tegasnya.

Di rumah tempat dia tinggal, satu di antara empat anaknya ikut bersamanya. Jika ditotal, ada tujuh orang bersama istri, menantu, dan tiga cucu. Ke depan, Awi berharap ada sang anak yang mau tetap tinggal dan melanjutkan sewa tanahnya.

Kini, saat dia sudah tidak memiliki pekerjaan, kegiatannya hanya menjaga surau sambil menjaga beberapa ayam miliknya. Awi memang memelihara ayam tersebut agar tiga cucu yang kini hidup bersamanya bisa tahu bagaimana kehidupan ayam.

’’Orang Singapura jarang lihat ayam. Kalau makan sering,’’ katanya, lantas tertawa. (FOLLY AKBAR, Singapura)

Advertisement
loading...