ilustrasi

batampos.co.id – Bagi penonton dari luar Rusia, terutama dari Indonesia, tak sulit sebenarnya menyesuaikan diri dengan situasi. Soal makanan, misalnya, lidah cepat beradaptasi dengan makanan lokal. Tubuh juga tidak lagi kesulitan menyesuaikan diri dengan cuaca di sana.

Iklan

Untuk aktivitas sehari-hari pun semakin nyaman. Kalau hendak ke suatu tempat yang jaraknya dekat ya cukup jalan kaki. Sekalian berolahraga. Kalau harus muter-muter, bisa memanfaatkan moda transportasi publik yang murah dan efisien. Kalau mau ke wilayah di pinggiran Moskow, bisa menggunakan taksi online yang siap siaga kapanpun. Tarifnya masih ramah di kantong kok. Alhamdulillah.

Satu-satunya masalah yang masih mengganjal dan rasanya bakal terus dihadapi adalah bahasa. Ya, bahasa. Tidak mudah menguasai bahasa Rusia. Apalagi kalau malas belajar. Pelafalannya susah. Selain itu, Rusia menggunakan huruf sirilik. Bentuknya aneh. Lucu. Jauh berbeda dibandingkan dengan aksara latin yang dipakai di Indonesia.

Sepuluh tahun lalu, saat kali pertama ke Moskow, tidak banyak tempat-tempat umum yang menggunakan bahasa latin. Hampir semuanya ditandai dengan huruf sirilik. Sangat menyulitkan para pendatang. Bahkan, nama-nama restoran jaringan internasional pun ditulis dalam bahasa Rusia. Orang awam baru bisa mengenalinya lewat logo yang untungnya tidak ikut diganti sekalian.

Nah, sekarang lumayan. Selain ditandai dengan tulisan sirilik, banyak tempat sudah mencantumkan identitasnya dengan aksara latin. Misalnya, di peta rute kereta bawah tanah alias Metro. Ada versi Rusia, ada versi latinnya. Hal itu sangat memudahkan orang yang tidak familiar dengan huruf sirilik.

Tantangan terbesar adalah saat harus berkomunikasi langsung dengan warga Rusia. Ketika menanyakan alamat atau proses transaksi di toko dan restoran. Kalau sangat terpepet ya menggunakan bahasa isyarat. Bahasa universal yang semua orang di dunia ini bisa. Caranya, ngomong apa saja sambil melakukan gerakan tertentu. Semampunya. Sampai sama-sama ngeh dengan apa yang diinginkan.

Bahkan, kadang tidak perlu ngomong apa-apa pun. Asal tujuannya tercapai. Itu terjadi saat saya menukar uang di money changer dekat Stadion Dinamo. Tanpa ba-bi-bu, saya keluarkan uang dolar AS, saya serahkan ke petugas lewat loket, dihitung, dan saya mendapatkan uang rubel. Tidak ada penjelasan apapun terkait kurs atau yang lain. Bahkan, si mbak petugas diam saja saat saya ucapkan terima kasih..he..he…

Tentu, masalah bahasa harus dihadapi. Banyak solusinya. Salah satunya dengan menggunakan teknologi. Ada aplikasi Google translate yang bisa diunduh di telepon pintar. Gratis. Dengan aplikasi tersebut, kita tinggal menulis kalimat dalam bahasa Indonesia yang kemudian muncul terjemahannya dalam bahasa Rusia. Selain dalam bentuk teks, bisa juga lewat voice atau suara. Tinggal ngomong dalam bahasa Indonesia, sejurus kemudian keluar suara dalam bahasa Rusia.

Saya dan rekan memanfaatkan aplikasi itu saat berkomunikasi dengan supir taksi online. Namanya Sergey Maritov. Dia, tampaknya, tipe pria yang suka ngobrol. Beberapa saat setelah mobil berjalan, dia langsung nyerocos dalam bahasa Rusia. Karena tidak tahu artinya, kami minta Sergey mengulanginya lewat aplikasi penerjemah. Sebaliknya, saat membalas, kami menggunakan aplikasi juga.

Komunikasi dengan perantara aplikasi itu berlangsung gayeng. Sergey bercerita banyak hal. Tentang istrinya yang orang Crimea. Tentang tiga anaknya yang lucu. Tentang keingintahuannya soal Indonesia. Juga tentang prediksinya terkait dengan peluang timnas Rusia di Piala Dunia 2018.

Tidak terasa, kami sampai di tujuan. Sergey menghadiahkan bendera kecil Rusia kepada saya. Dia juga minta foto bareng. Meski diucapkan dalam bahasa Rusia, dari bahasa tubuh Sergey, saya mengerti maksudnya. Tidak perlu pakai aplikasi. Langsung jepret. (CANDRA WAHYUDI, Moskow)