(Melihat Strategi dan Inovasi Bisnis Koperasi Warga di Bantul, Yogyakarta)

ANNGGOTA Koperasi Jati Husada Mulya di Desa Argomulyo, Kecamatan Sedayu, Kabupaten Bantul, mengemas jamu tradisional instant ke dalam kemasan yang menarik, beberapa waktu lalu. (foto: Dalil Harahap/Batam Pos)
Iklan

Tak mau ditinggal zaman, sejumlah koperasi warga di Kecamatan Sedayu, Bantul-Yogyakarta terus menyusun strategi dan inovasi. Tak hanya meningkatkan kualitas produksi, mereka juga melakukan revolusi digital dengan memanfaatkan teknologi kekinian.

SUPARMAN, Bantul

Aroma kencur langsung menyeruak saat kaki melangkah masuk ke rumah produksi jamu tradisional milik Koperasi Jati Husada Mulya di Dusun Watu, Desa Argomulyo, Kecamatan Sedayu, Kabupaten Bantul, Daerah Istimiewa Yogyakarta, Rabu (18/4) lalu. Semakin ke dalam, wangi rempah khas jamu tradisional Jawa kian membuai indra penciuman.

Terdapat tiga ruang utama di rumah produksi jamu tradisional itu. Di ruang pertama, terlihat tiga wanita paruh baya menggiling bahan jamu yang sudah direbus dan menjadi kristal. Setelah digiling, serbuk jamu itu kemudian disaring, lalu diblender. Proses ini diulang hingga beberapa kali sebelum akhirnya menghasilkan bubuk jamu tradisional instant yang siap dikonsumsi.

Sementara di ruang sebelahnya, tampak seorang wanita sibuk dengan mesin pengemasan yang sederhana. Ia mengemas jamu tradisonal berbentuk serbuk ke dalam kemasan aluminium foil ukuran kecil-kecil.

“Ini sedang proses pembuatan dan pengemasan jamu beras kencur,” kata Sekretaris Koperasi Jati Husada Mulya, Yuli Pertamianti, saat menyambut kunjungan wartawan bersama rombongan Pertamina MOR I Sumbagut, siang itu.

Setelah dimasukkan dalam kemasan sachet, jamu tradisional instant itu dibungkus lagi dalam paper bag ukuran sedang. Satu tas berisi 10 sachet. Harganya Rp 15 ribu per tas. Lalu jamu instant siap jual itu dijejer di etalase kaca yang berada di ruang ketiga.

Dengan lancar Yuli menjelaskan tahapan demi tahapan proses pembuatan jamu tradisional di rumah produksi. Mulai dari pemilihan bahan, proses merebus, menyaring, hingga pengemasan dan pemasarannya.

Yuli kemudian menceritakan metamorfosa para penjual jamu di Dusun Watu itu. Kata dia, sebelumnya para tukang jamu tradisional di Dusun Watu berjualan jamu dengan cara yang benar-benar tradisional. Mulai dari proses pembuatannya, produk yang dijual, dan cara pemasarannya. Yakni dengan cara digendong dan dijual keliling kampung dengan jalan kaki.

Namun sejak 2012, warga di Dusun Watu memiliki rumah produksi jamu tradisional. Melalui Koperasi Jati Husada Mulya, rumah jamu itu dikelola menjadi usaha bersama yang melibatkan sekitar 100 warga. Dari jumlah itu, 60 di antaranya merupakan tukang jamu yang dulunya berjualan jamu gendong keliling.

Selain menghasilkan jamu dalam bentuk cair, rumah produksi jamu Jati Husada Mulya juga mampu menghasilkan jamu instant dalam bentuk serbuk.

Jamu dalam bentuk cair dijual ke warga sekitar. Namun bukan dengan cara digendong dan keliling berjalan kaki, kini para tukang jamu di sana berjualan dengan naik sepeda.

Sementara jamu dalam bentuk serbuk yang telah dikemas dalam sachet kecil-kecil, selain dijual ke warga sekitar, juga dipasarkan hingga ke luar desa, luar kota, bahkan ke luar Jawa. Menurut Yuli, jamu tradisional produksi Jati Husada Mulya sudah menembus pasar Tangerang-Jawa Barat, hingga ke Bontang, Kalimantan Timur.

“Jadi sekarang kami bukan penjual jamu lagi, tetapi sudah menjadi pengusaha jamu,” kata Yuli dengan bangga.

Yuli bisa bicara begitu, karena omzet rumah produksi jamu tersebut cukup besar. Dalam setahun rata-rata pendapatan bersihnya mencapai Rp 54 juta.

Penghasilan itu di luar pendapatan setiap anggota koperasi yang masih aktif menjual jamu keliling dengan sepeda. “Pendapatan secara individu juga naik, rata-rata sudah di atas UMR,” kata Yuli. UMR yang dimaksud Yuli adalah upah minimum regional Yogyakarta yang saat ini mencapai Rp 1,5 juta per bulan.

Meski masih mempertahankan cara-cara tradisional, rumah jamu Jati Husada Mulya juga memanfaatkan teknologi kekinian dalam memasarkan jamu hasil produksinya. Salah satunya dengan memanfaatkan aplikasi berbagi foto dan video: Instagram.

Selebihnya, jamu-jamu instan hasil produksi rumah jamu Jati Husada Mulya dititipkan di toko dan pusat oleh-oleh khas Yogyakarta. Tersedia berbagai varian jamu. Mulai dari kunyit asam, beras kencur, jahe wangi, secang serbuk, kencur sunthi, putri singset, kunyit sirih, dan banyak lagi.

Bicara soal kemasan, Yuli mengatakan jamu instant produksi Jati Husada Mulya (JHM) ini juga mengalami beberapa metamorfosa. Dari sebelumnya kemasan biasa-biasa saja, menjadi kemasan menarik yang cocok dibuat oleh-oleh atau buah tangan para wisatawan.

“Makanya kami berani menitipkan jamu instant kami di toko atau pusat oleh-oleh khas Yogyakarta,” katanya.

Koperasi Jati Husada Mulya hanya satu di antara sekian banyak koperasi serba usaha (KSU) yang ada di Desa Argomulyo, Kecamatan Sedayu, Kabupaten Bantul.

Di desa tersebut, ada juga koperasi warga yang bergerak di bidang usaha budidaya ikan gurame. Selain membudidayakan ikan gurame dan ikan air tawar lainnya, warga di desa tersebut juga memproduksi pakan ikan sendiri. Sehingga biaya produksi budidaya ikan bisa lebih murah.

Selain di Desa Argomulyo, masyarakat di Desa Balai Catur, Kecamatan Gamping, Kabupaten Sleman, juga banyak yang menjalankan usaha bersama melalui wadah koperasi. Meski beda kabupaten, posisi Desa Balai Catur ini berbatasan dengan Desa Argomulyo.

Di Desa Balai Catur ini, tepatnya di Dusun Gamol, ada koperasi unit desa (KUD) yang menjalankan usaha di sektor peternakan kambing jenis Etawa. Selain budidaya kambing untuk pedaging, koperasi juga mengolah susu kambing Etawa menjadi produk bernilai tinggi. Mulai dari susu bubuk instan, es krim, hingga kerupuk rasa susu kambing.

KUD Balai Catur ini juga bergerak di sektor budidaya jamur. Khususnya jamur tiram. Seperti halnya Koperasi Jati Husada Mulya, Koperasi Balai Catur juga melakukan berbagai inovasi supaya bisnisnya terus eksis.

Misalnya dalam memasarkan jamur tiram. KUD Balai Catur tidak hanya menjual jamur segar untuk dimasak. Namun anggota koperasi ini mengolah jamur tiram tersebut menjadi beberapa penganan yang nikmat. Mulai dari kerupuk jamur, nugget, hingga kue yang kekinian: brownis.

Koperasi-koperasi tersebut merupakan binaan dari Pertamina TBBM Rewulu melalui program tanggung jawab sosial perusahaan (corporate social responsibility/CSR) nya.

“Jadi program ini terus berkelanjutan. Supaya masyarakat mandiri secara ekonomi,” kata Ayu Pratiwi, Corporate Development Officer Pertamina TBBM Rewulu, Rabu (18/4) lalu.

Ayu mengklaim, sejauh ini semua program pemberdayaan masyarakat Pertamina TBBM Rewulu di koperasi-koperasi di Desa Argomulyo dan Desa Balai Catur cukup berhasil. Tingkat keberhasilan ini diukur dari jumlah produksi dan pendapatan para pesertanya.

Misalnya program pertanian padi di Desa Balai Catur. Ayu menyebut, sejak dimulai pada 2012 lalu program tersebut terus mencetak prestasi. Tak hanya mampu menekan hama hingga 54,62 persen, produksi gabah petani juga meningkat dari tahun ke tahun.

Dengan program-program pemberdayaan itu, Desa Balai Catur di Kabupaten Sleman dan Desa Argomulyo di Kabupaten Bantul dicanangkan menjadi desa wisata herbal. Ada ratusan warga yang terlibat dalam program pemberdayaan melalui koperasi masyarakat. Kini, kedua desa itu menjadi Rintisan Desa Wisata Herbal dan kerap dikunjungi wisatawan dari berbagai daerah. Selain rekreasi, para pengunjung juga banyak belajar dari kedua desa tersebut.

“Kami mencatat, pendapatan dari tiket kunjungan wisatawan mencapai Rp 6.275.000 per tahun,” terang Ayu lagi.

Sementara Operational Head Pertamina TBBM Rewulu, Bambang Soeprijono, mengatakan pihaknya sengaja fokus pada pembinaan koperasi masyarakat dalam penyaluran dana CSR perusahaan. Sebab dengan program ini, masyarakat akan bisa mandiri secara ekonomi. Tak hanya itu, program pembinaan koperasi ini juga diyakini mampu memberikan efek domino terhadap perekonomian masyarakat secara luas.

“Melalui program CSR ini, kami akan selalu berinovasi mewujudkan masyarakat yang mandiri,” kata Bambang, Rabu (18/4) lalu di gedung Terminal BBM (TBBM) Rewulu, Bantul, Yogyakarta. ***