Tidak sedikit orang-orang yang begitu peduli pada pendidikan dan masa depan anak-anak di Batam. Mereka mengabdikan diri tanpa mengharapkan kemewahan dan kekayaan. Sebaliknya, mereka rela banyak berkorban.

Iklan

Gapura bercat putih menyambut ketika hendak memasuki Pondok Pesantren Miftahul Huda di Sei Buluh, Kelurahan Sembulang, Kecamatan Galang, Jumat (22/6) pagi. Di atas gapura terpasang spanduk bertuliskan Pondok Pesantren Miftahul Huda 1289 Mini Yatim Saniah Mohd Said. Suasana pondok pesantren lengang. Pintu-pintu pondokan, ruang belajar, dan kantor tertutup rapat.

Suasana lengang pecah oleh suara mesin pembuat sumur bor dari bagian belakang komplek pesantren. Tetapi tidak terlihat seorang pun. Di masjid, dua orang anak kecil kemudian muncul. Salah satunya santri. Namanya Sidni. Umurnya 10 tahun. Ia sedang menggambar.

Tidak lama berselang, pintu salah satu kamar pondokan yang berhadapan dengan masjid terbuka. Keluar seorang perempuan dan langsung menyapa. Dialah Tika Kusdianti. Pimpinan Pondok Pesantren Miftahul Huda. “Masih libur sekolah jadi anak-anak banyak yang pulang. Hanya beberapa orang saja yang tinggal,” kata Tika Kusdianti begitu duduk di masjid yang sekaligus jadi ruang belajar.

Penghuni pondok pesantren Miftahul Huda hanya 50 orang. Terdiri dari santri 30 orang, guru 10 orang dan karyawan 10 orang. Menjelang penerimaan santri baru akhir bulan ini, pondok pesantren siap menerima 20-25 santri. “Paling banyak 25 orang. Tidak bisa lebih dari itu karena kamar tidak cukup,” jelas wanita yang biasa disapa Bu Tika ini.

Tika mengungkapkan Pondok Pesantren Miftahul Huda hanya memiliki 10 ruang. Lima ruang digunakan sebagai kamar tidur santri. Tiap kamar diisi lima orang. Dua ruang untuk guru. Masing-masing satu kamar untuk kantor dan gudang. Satu kamar lagi digunakan Tika dan santri lainnya. Sementara untuk tempat belajar, masjid satu-satunya pilihan. Bahkan terkadang masjid jadi tempat tidur kalau kapasitas kamar berlebih.

“Makanya hanya bisa terima 25 orang. Tapi kalau terpaksa dan ada yang berkeinginan sekolah ya tetap kami terima,” ujar Tika.

Saat ini, Pondok Pesantren Miftahul Huda sedang membangun ruang belajar. Untuk dua kelas. Dana pembangunannya dari sumbangan karyawan bank swasta. Namun gaji tukang menggunakan uang hasil penjualan kue semprong dan bolu Camila. Bisnis kue ini adalah lini usaha untuk menopang operasional Pondok Pesantren Miftahu Huda. Sebab pondok pesantren tidak memungut biaya satu rupiah pun dari santri.

“Pokoknya nol rupiah. Gratis selama mereka belajar. Mereka (santri) cukup membawa baju saja ke sini,” ungkapnya.

Santri Pondok Pesantren Miftahul Huda adalah anak-anak fakir-miskin, anak terlantar, dan anak yang kurang mendapat perhatian orang tua. Mereka berasal dari pulau-pulau di Kepri dan anak hinterland Batam. “Anak yang tidak mendapat perhatian orang tuanya ini bukan orang miskin. Anak pejabat. Tetapi liar karena sering ditinggal. Tidak diperhatikan,” ungkapnya.

foto : batampos / ahmadi sultan

Wanita asal Jawa Barat ini mulai mendirikan pondok pesantren gratis setelah berkunjung ke pulau-pulau di Batam pada Oktober 2015. Ketika berkunjung ke pulau-pulau yang dihuni penduduk asli setempat, Tika melihat anak-anak yang terlantar, tidak mendapatkan pendidikan, putus sekolah, dan tidak tersentuh peradaban. “Terutama agama. Mereka bisa pindah agama dalam hitungan menit. Ada yang sukanya mabuk dan ngelem,” beber dia.

Menurut Tika, orang tua dan anak-anaknya itu bisa pindah agama dengan cepat karena ketidaktahuannya. Sementara untuk menimba ilmu, mereka tidak mampu. Melihat kondisi demikian, ia merasa bertanggung jawab. Tika pun bertekad mendirikan pondok pesantren. Padahal latar belakang dia bukanlah seorang pendidik. Tidak punya pengaruh dan kekuatan sebagai seorang istri pejabat seperti sebelumnya.

“Saya ini insinyur teknik industri. Dulu saat masih di Bandung, istri seorang bupati. Tetapi tidak menemukan kebahagian akhirnya pergi dan hijrah. Sekarang istri seorang kyai,” cerita Tika tentang dirinya.

Awal April 2017, Tika mulai membangun pondok pesantren di Sembulang. Ia memilih tempat itu karena dekat dengan anak-anak hinterland, sunyi, dan tidak banyak tersentuh internet. Ia mengumpulkan kayu-kayu bekas dari masjid untuk membangun pondok pesantren.

“Saya berpikir, asal ada tempat dulu. Tidak tahunya ada orang Singapura yang melihat dan bersedia membangunkan pondok,” ujar dia dengan nada berapi-api.

Warga negara Singapura itu membangun satu deret bangunan dengan 10 ruang sekaligus. Setelah bangunan tersedia, ia merekrut tenaga pengajar yang siap mengabdi. Sebab, ia tidak bisa menjanjikan gaji yang besar. Apalagi tunjangan. Namun tepat 20 Juni 2016, Pondok Pesantren Miftahul Huda mulai menerima santri. Nama penyumbang dari Singapura diabadikan dalam nama pondok pesantren. “Itu ada namanya Saniah Mohammad Said,” ungkap dia.

Awalnya, lanjut Tika, pondok pesantren menerima santri sebanyak-banyaknya. Siapa saja yang mau sekolah gratis diterima. Anak-anak dari pulau dan hinterland pun dibawa ke pondok pesantren. Tujuannya, supaya mereka bisa belajar hingga tujuh tahun dan kembali ke kampung halaman masing-masing untuk syiar agama. Ternyata tidak semua punya keinginan kuat. Ada yang kabur.

“Ada 70 anak, guru, dan karyawan saat itu. Tetapi terjadilah seleksi alam. Ada yang tidak sungguh-sungguh dan kabur,” katanya.

Akhirnya, ia hanya menerima anak-anak fakir-miskin tetapi berkeinginan kuat untuk sekolah. Lalu mencari sendiri ke pulau-pulau. Pernah sekali waktu, ia mengantar anak santri ke Tanjung Perai, Moro, yang mesti dijangkau dengan perahu selama dua jam dan mengendarai motor masuk hutan selama satu jam. Saat itulah ia menemukan dua orang anak yang putus sekolah dan dibawa untuk dididik.

“Saya juga pernah berhadapan dengan geng motor untuk menyelamatkan dua anak yang mereka rekrut untuk menjadi pencopet,” cerita wanita kelahiran 18 Maret 1977 ini.

Santri ini dari kelas tiga SD sampai kelas satu SMA. Mereka mendapatkan pelajaran agama 80 persen dan pelajaran umum 20 persen. Karena itu, anak-anak Pondok Pesantren Miftahul Huda mendapatkan ijazah umum dan ijazah dari pondok pesantren. Ijazah umum mereka dikeluarkan Kementerian Agama. Salah satunya santri yang baru saja lulus SMP dan tahun ajaran ini masuk SMA.

“Mereka ini rata-rata sudah khatam Alquran 4 juz. Target saya, mereka nantinya bisa syiar agama dan menyelamatkan daerah masing-masing,” katanya.

Kini, Pondok Pesantren Miftahul Huda sudah berusia dua tahun. Tika pun semakin gigih. Ia mengupayakan pondok pesantren terus eksis dan memberikan pendidikan gratis selamanya. Untuk mewujudkan pendidikan gratis ini, Tika membuka bisnis kue dengan merk Camila.

“Alhamdulillah hasilnya sudah bisa untuk biaya makan sehari-hari, menggaji guru dan karyawan. Kalau untuk bangunan, kami masih berharap bantuan donatur,” ujarnya.

***

Serupa dengan Tika Kusdianti, Yuli Fatimah Warosari juga meninggalkan masa depan yang cemerlang untuk mengabdi menjadi guru dan pendidik. Yuli -sapaan Yuli Fatimah Warosari- saat ini guru di taman kanak-kanak atau Raudhatul Athfal (RA) Al-Jabar dan dan wakil kepala sekolah bidang kesiswaan Madrasah Aliyah (MA) Industri Al-Jabar, Bengkong, Batam. Hampir sepuluh tahun ia sudah mengabdikan diri.

Yuli (kanan) dan Maya. f. batampos / ahmadi sultan

“Sejak tahun 2009. Pertama kali ke sini rencananya hanya enam bulan dan akan kembali ke Jakarta untuk melanjutkan co-ass (co-assisten),” ungkap Yuli saat ditemui di Sekolah Al-Jabar, Kamis (21/6).

Ya, Yuli lulusan Fakultas Kedokteran Gigi Univesitas Trisakti, Jakarta. Sebagai dokter muda, Yuli harus menjadi asisten dokter atau dokter muda selama dua tahun. Kala itu, selangkah lagi, ia bisa mendapatkan gelar dokter gigi setelah menyelesaikan co-ass yang tersisa enam bulan. Namun panggilan dari sang ayah Prof. Dr. H Syamsuri untuk ke Batam dan menjadi guru membuatnya ia meninggalkan profesi masa depan itu.

“Saya memilih menjadi guru karena memang juga senang mengajar. Niatnya mengembalikan kejayaan sekolah Aljabar,” ungkap wanita kelahiran Jakarta, 20 Juli 1977 ini.

Yuli ingat benar, kala itu, ia sedang menjalani co-ass di rumah sakit milik almamaternya di Jakarta. Di sela-sela bekerja sebagai asisten dokter handphone-nya berdering. Ia melihat, panggilan dari ayah yang berada di Batam. Ia menjawab panggilan dan ayahnya langsung menyampaikan maksudnya. “Teh, tolong ke Batam. Jadi Kepsek RA dan guru MA,” ujar Yuli menirukan ucapan ayahnya.

Yuli sempat berpikir dan mendiskusikan permintaan ayahnya itu. Namun, ia tidak sampai hati setelah membayangkan perjuangan sang bapak membangun Sekolah Aljabar. Ia tak ingin sekolah berbasis agama pertama di Batam yang dibangun tahun 1986 itu makin terpuruk.

Sekolah yang pertama berdiri adalah RA Al-Jabar. Dua lokal penuh terisi 60 siswa. Semua perangkat belajar lengkap. Ruangan sekolah bersih dan rapi. Kemudian menyusul berdiri gedung Madrasah Ibtidaiyah (MI) tahun 1987, MTS dan MA Tahun 1988, disusul SMK. Sekolah itu di bawah Yayasan Mama Syamsuri.

Melihat jerih payah bapaknya itulah membuat Yuli memutuskan berangkat. Tepat tanggal 12 Juli 2009, Yuli meninggalkan Jakarta. Ia tinggalkan mimpinya. Ia lepaskan jas putih dokter dan meninggalkan teman-teman sejawat. Yang ada di pikiran Yuli, ia tak akan lama di Batam. Tak akan menjadi masalah, pergi sementara waktu. “Dulu saya memperkirakan hanya enam bulan. Setelah itu bisa kembali ke Jakarta,” katanya.

Ini pertama kalinya Yuli ke Batam. Saat tiba di sekolah di kawasan Bengkong Aljabar, Yuli sedikit tercengang melihat kondisinya. Bangunan sekolah yang berdinding papan tidak terurus. Atapnya nyaris roboh. “Seperti (bangunan sekolah) Laskar Pelangi (di Belitung),” kenang Yuli menggambarkan keadaan bangunan Sekolah Al-Jabar, kala itu.

Tidak hanya kondisi bangunan yang membuatnya miris, peralatan belajar sudah raib. Pensil dan kertas melipat saja tidak ada. Padahal, saat dulu diresmikan, semua peralatan belajar sangat lengkap. Jumlah siswa juga memprihatinkan. Sempat mencapai ratusan siswa, ketika Yuli datang hanya hitungan jari saja. “Siswanya ratusan, tapi ketika saya datang hanya tersisa 3 orang siswa saja,” kata ibu dari tiga anak ini.

Dengan uang dari kantong sendiri Yuli melengkapi satu per satu alat-alat belajar itu. Yuli juga harus mengerjakan semua pekerjaan di sekolah. Mengajar, menyediakan perlengkapan belajar, bahkan membersihkan kelas. Ia pun sempat disebut gila oleh orang tua murid. Bagaimana tidak, seorang calon dokter gigi mau saja bekerja seperti cleaning service.

“Saya pernah dibilang gila oleh salah satu orangtua murid. Karena rajin mengepel lantai kelas yang kotor. Mereka bilang untuk apa dibersihkan. Toh akan diinjak-injak lagi,” tutur Yuli sembari tertawa.

Yuli tidak peduli cibiran itu. Ia memegang prinsip bahwa selalu memposisikan diri di manapun berada. Saat itu, ia melihat dirinya sebagai guru saja. Tidak ada embel-embel seorang dokter. Ia ikhlas menjalankan tugas sebagai pendidik. Begitu pula ketika mengajar kelas II di MA. Ia menghadapi siswa-siswa yang bandel dan sering membolos.

“Siang hari kelas sudah sepi. Hanya ada beberapa siswa saja. Mereka kebanyakan pulang. Semua guru sudah angkat tangan, tidak tahu cara lagi mengajak siswa belajar,” kata Yuli.

Namun, Yuli tidak kehabisan akal. Ia melakukan pendekatan sebagai teman. Yuli memberi ruang pada siswanya untuk menceritakan keluhannya. Yuli pun akhirnya tahu permasalahan yang dihadapi siswa MA Aljabar. Ternyata ada yang tidak suka belajar tapi senang keluyuran. Ada juga yang ingin segera pulang untuk membantu orangtuanya bekerja. Sebab sebagian besar siswa dari kalangan menengah ke bawah.

“Jadi mereka pulang cepat supaya bisa bekerja dan membiayai sekolahnya. Yah, mereka yang sekolah di sini memang kalangan menengah ke bawah. Bisa dibilang sekolah ini pilihan terakhir kalau tidak diterima di sekolah yang lain,” ungkapnya.

Bahkan banyak juga orangtua yang datang minta keringanan uang sekolah. Biasanya dari keluarga tidak mampu. Persoalan-persoalan seperti ini pun selalu dihadapinya. Ia harus mencari cara yang efektif agar anak-anak tetap semangat belajar. Untuk mensubsidi biaya sekolah siswa kurang mampu, Yuli berupaya mencarikan beasiswa.

“Kami juga memberikan keringanan pembayaran biaya sekolah. Bisa dicicil. Bahkan sampai tamat baru bisa bayar ya tidak masalah,” kata Yuli yang mengambil pendidikan keguruan di Universitas Terbuka.

Yuli juga berusaha menanamkan kepercayaan diri pada siswanya. Bahwa mereka pasti bisa. Terbukti beberapa piala diterima MA Aljabar baik itu juara I Lomba Lari Marathon, juara I catur se Kepri, dan juara I untuk lomba Daur Ulang. Akhirnya siswa betah di sekolah. Mereka kembali belajar sampai selesai. Siswa juga bertambah.

Berdua dengan kakak tertuanya, Maya Inayati Sari, Yuli terus membenahi sekolah. Hanya setahun kemudian Sekolah Aljabar sudah bisa melakukan Ujian Nasional (UN) sendiri untuk pertama kalinya. Dua tahun berikutnya mendapat akredtiasi B. Kini sekolah itu sudah menggunakan gedung permanen bertingkat. Yuli terus mengabdikan diri sebagai guru dan tak berniat kembali meraih gelar dokter gigi.

“Ilmu saya akan tetap digunakan. Kalau dokter kan mengobati, saya akan mengedukasi untuk pencegahan,” katanya.

***

Kak Tije lebih dulu terjun ke dunia pendidikan. Padahal, pria bernama asli Teng Tjai Tije Hang ini tidak punya latar belakang keguruan, melainkan ia seorang lulusan Fakultas Hukum dari Universitas Parahyangan, Bandung. Ia pun mengenang masa-masa awal ketika ia mendirikan sekolah pertamanya di Batam, Tije Club di kawasan The Central, Sukajadi, Batam, tahun 2003 lalu.

Sambil menerawang, pria asal Karimun ini mengungkapkan Batam saat itu tengah berkembang pesat menjadi Kota Industri. Sebagian besar, warganya adalah usia produktif dan pekerja. Hal ini sudah ia perhatikan sejak 1996 lalu kala ia masih baru lulus kuliah dan merantau ke Batam. Prihatin dengan pemikiran kalau semua orang tua bekerja, siapa yang menjaga dan membentuk karakter anak?

“Warga di kota industri itu bukan robot, demikian juga anak-anak mereka. Butuh suatu wadah, komunitas. Generasi di Batam ini juga berhak untuk maju. Itulah yang melatarbelakangi saya membentuk Tije Club ini,” kenang Tije ketika ditemui di Batamcenter, Rabu (20/6) lalu.

Sudah 15 tahun Tije menjadi penggiat pendidikan. Mendedikasikan dirinya membangun sekolah dengan cara yang luar biasa. Betapa tidak, di tengah banyaknya orang mendirikan sekolah dengan fokus money oriented, tapi hal ini tidak berlaku bagi Tije. Ia tetap idealis sesuai tujuan awalnya mendirikan sekolah. Menjadikan generasi Kota Batam yang maju dengan mementingkan kualitas intelijensi, emosional, dan spiritual anak didik sejak usia dini.

“Saya membatasi jumlah murid per kelas. Lebih mudah mengarahkan kelompok kecil daripada kelompok besar dengan kerinduan, kelompok kecil ini juga nantinya akan berdampak bagi alam dan sekitarnya,” ungkap ayah tiga anak ini dengan mimik serius.

Mendirikan sekolah, tidak semudah membalikkan telapak tangan. Semua Tije lakukan dari nol. Didukung sang istri, Debora Dadali, Tije membeli kavling, dan mulai membangun sekolah tersebut. Sembari membangun sekolah, ia mengurus izin mendirikan sekolah ke Dinas Pendidikan. Beruntung, Dinas Pendidikan sangat mendukung dan mengeluarkan perizinan tepat waktu.

“Kalau tanya berapa biaya yang saya gelontorkan awal-awalnya, waaah berapa ya? kalau diukur secara hitungan manusia pasti saya nggak akan sanggup. Ada Invisible hand yang membantu. Tuhan turut campur tangan atas pendirian sekolah ini hingga sekarang. Asal kita ikhlas berkarya untuk orang lain, Tuhan pasti bantu. Saya percaya itu,” papar dia.

Dalam menjalankan fungsi sekolahnya, Tije menjalankan kurikulum nasional kombinasi permainan dan seni menggambar untuk mengasah kreativitas anak-anak didiknya. Masing-masing ruang kelas dijadikan sebagai kanvas dan meletakkan hasil karya seni menggambar murid. Demikian juga halaman sekolah, selain taman, juga dipenuhi fasilitas bermain. Tujuannya, untuk mengasah talenta atau bakat terpendam anak, sekaligus mendekatkan diri kepada alam.

Setiap Senin, sekolah ini juga menjalankan upacara, membaca Pembukaan UUD 1945 dan juga Pancasila, menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya dan satu lagu nasional. Biasa saja sebenarnya. Dimana seluruh murid baik toddler, TK, dan SD wajib hafal semua dua hal tersebut di tengah masa kini yang sudah mulai tergerus. Biasa saja sebenarnya, tapi ada yang tak biasa. Untuk semakin menanamkan nilai nasionalisme, Tije kepada para wakil didiknya, kala bertugas menjadi pembina upacara, setiap amanat pembina upacara tiba, para murid yang tengah berbaris tidak disuguhi pidato, melainkan menyampaikan cerita rakyat atau dongeng khas Indonesia serta pada pengujungnya, disampaikan nilai-nilai moral yang terkandung.

“Saya fokus untuk mengajari anak-anak Tije Club itu untuk humanity. Sharing is caring. Mengajari mereka bahwa perbedaan yang merekatkan dan mempersatukan seperti Bhinneka Tunggal Ika. Saya ingin toleransi dan moralitas serta sense of nationality mereka tertanam sejak usia dini. Kita butuh anak-anak yang seperti ini untuk memimpin bangsa yang besar ini, apalagi dalam menghadapi dunia global yang kini tanpa sekat akibat internet,” ungkap Tije.

Selain menjadi pendiri sekolah dan menjadi penggiat pendidikan, Tije juga kini berprofesi sebagai notaris di kampung halamannya. Melayani masyarakat Tanjungbalai Karimun. Meski begitu, panggilan jiwanya sebagai pendidik tak menghalangi niat dan waktunya untuk terus mengembangkan Tije Club menjadi sekolah sekaligus wadah keluarga antara guru dan murid serta orangtua murid. Tije juga aktif sebagai dosen pengajar Ilmu Hukum di salah satu universitas swasta bergengsi di Batam.

Selama 15 tahun mengembangkan sekolah ini, sudah lebih 500 lulusan. Hebatnya, sebagian besar lulusan tersebut masih tetap menjalin silaturahmi dengan para guru dan sekolah Tije Club. “Salah satu kebanggaan saya saat ini, ketika alumni Tije Club, anak didik saya dulu bernama Berlin menyampaikan bahwa ia diterima menjadi mahasiswa di Imperial College London (ILC, red) jurusan Kimia. Wah, anak yang dulu masih kecil banget di sini tapi mampu bersaing dalam dunia pendidikan internasional. Ada kebanggaan, ada rasa haru,” ungkapnya.

Para murid-murid angkatan awal sekolah ini juga selain kuliah di kampus internasional, ada juga yang masuk universitas bergengsi di negeri ini. Sebut saja, UI, Pelita Harapan, dan lainnya.

“Kalau merenung kembali, dunia pendidikan yang kita bangun itu adalah dunia yang bisa mengubah dunia, kemajuan manusia. Mengubah peradaban dengan moral yang baik. Mendidik itu panggilan jiwa saya. Meski saya dikenal sebagai praktisi hukum, tapi menjadi guru, saya lebih bersemangat,” ujar Tije.

Pria yang mengidolakan seniman gambar Tino Sidin ini menyebutkan, dalam mengembangkan sekolahnya kini, ia juga mengadopsi kehidupan keluarga. “Kebersamaan itu adalah bagian dari pendidikan keluarga dalam lingkup kecil. Hal itu saya adopsi ke Sekolah Tije Club,” ujarnya.

***

Ketua Batam Heritage Society, Edi Sutrisno, yang menulis buku Batam Doeloe dan Kini, mengungkapkan sejak era industrialisasi mulai di Pulau Batam, sejumlah pionir dan orang yang mengabdikan diri pada pendidikan sudah bermunculan. Dimulai dari Detty Ratna Setyati yang mendirikan sekolah dasar (SD) pertama di Pulau Batam pada tahun 1972. Detty yang kini sudah sepuh membangun sekolah di kawasan Jodoh dengan nama SD Budi Utama.

“Dibangun di Jodoh waktu itu karena di sana sudah banyak anak-anak. Kalau tidak, mereka harus ke Pulau Belakangpadang atau ke Tanjungpinang,” ujar Edi Sutrisno, Rabu (20/6).

Pada masa awal, lanjut Edi Sutrisno, bangunan SD Budi Utama sangat sederhana. Berdinding papan dan beratap daun rumbia. Detty kala itu langsung merangkap sebagai guru sekligus kepala sekolah. Hingga kini, SD Budi Utama tetap eksis, tetapi bangunannya sudah pindah ke Blok IV Baloi setelah kebakaran besar di Jodoh. “Ibu hajjah Detty itu masih mengajar. Saya terakhir bertemu sepuluh tahun lalu,” kata pria yang biasa disapa Edi ini.

Kemudian tahun 1977, muncul SD Yos Sudarso, juga di kawasan Jodoh. Sekolah yang didirikan Y Tri Haryanto ini menggunakan gereja sebagai tempat belajar. Tahun 1978, SD Yos Sudarso kemudian pindah dan memiliki bangunan sendiri di Jodoh. Bangunannya juga sederhana. Dindingnya dari kayu dan atapnya dari rumbia. Lalu pindah lagi ke Nagoya. Dekat Kampung Utama. Terakhir Sekolah Yos Sudarso berlokasi di Batam Center.

“Pendirinya ini memang seorang guru. Tetapi dia mengabdikan dirinya tanpa banyak bantuan dari pemerintah,” ungkap Edi.

Setahun setelah SD Yos Sudarso berdiri, lanjut Edi, Andi Ibrahim mendirikan SD Ibnu Sina di Jodoh pada tahun 1978. Bangunannya mirip SD Budi Utama dan SD Yos Sudarso. Empat tahun kemudian, bangunan sekolah ini ludes terbakar api. Lalu pindah lokasi dua kali. Terakhir Sekolah Ibnu Sina berlokasi di Pelita. Sekolah Ibnu Sina kini tak hanya SD tetapi juga SMP, SMA, bahkan perguruan tinggi.

“Tiga orang ini bisa dikatakan pionir. Usaha dan jasanya luar biasa untuk pendidikan di Batam. Mereka layak mendapatkan penghargaan,” tegas Edi.

***

Ketua Dewan Pendidikan Kota Batam, Sudirman Dianto, sangat mengapresiasi para penggiat pendidikan khususnya para pendiri sekolah di Batam. Menurutnya, kalau hanya mengandalkan sekolah negeri, kebutuhan akan pendidikan di kota ini tidak akan terpenuhi.

“Semangat masyarakat mendirikan sekolah di Batam saya apresiasi dan saya ucapkan terimakasih,” ujar Sudirman ketika dihubungi Sabtu (23/6) lalu.

Sudirman menyebutkan, penyelenggaraan pendidikan swasta di Batam saat ini tumbuh dengan baik. Fungsinya membantu keberadaan sekolah pemerintah. Mengingat, Batam saat ini sangat tinggi permintaan penerimaan siswa baru. “Kalau hanya mengandalkan sekolah pemerintah atau sekolah negeri, itu tak mungkin. Harus ada sekolah swasta yang meng-handle. Dan saya sangat bersyukur dengan adanya sekolah swasta ini,” ungkapnya.

Selain mengapresiasi, Sudirman juga mengkritisi Dinas Pendidikan terkait sekolah swasta ini. Ia meminta supaya Disdik tidak asal memberikan izin untuk sekolah swasta baru. “Izin diberikan itu setelah betul-betul dilakukan selektif. Baru setelah itu harus ada proses pengawasan juga,” jelasnya.

Demikian juga halnya dengan sekolah swasta saat ini, baik yang didirikan perorangan ataupun yayasan atau organisasi, harus mengedepankan Standar Pelayanan Minimal (SPM) untuk semua hal pelayanan pendidikan di sekolah masing-masing. Mulai dari sarana dan fasilitas, tenaga pendidik atau guru, dan juga pengembangan kurikulum.

“Intinya, saya mau mengkritisi para penggiat pendidikan di Batam juga harus paham dan mempraktikkan apa yang diatur dalam Permendiknas Nomor 24/2007,” ujar Sudirman.

Mengenai kurikulum, Sudirman menyebutkan pada dasarnya penyelenggaraan pendidikan itu bebas untuk dikolaborasikan dengan berbagai muatan lokal atau pun seni, seperti kreatifitas sekolah dalam mengembangkan nilai-nilai budaya. “Selagi cocok silakan. Asal saja tidak melenceng dari Kurikulum Pendidikan 13 seperti yang saat ini kita jalankan serentak di seluruh Indonesia,” jelasnya. (AHMADI SULTAN-CHAHAYA SIMANJUNTAK, Batam)