Iklan

Terasa janggal kalau seandainya membandingkan antara Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) dengan Piala Dunia. Pilkada adalah momen politik, sementara Piala Dunia adalah kejuaraan sepak bola level dunia.

Iklan

Rabu (27/6) besok, pesta demokrasi terbesar di ibu kota Kepulauan Riau (Kepri) akan digelar. Dua pasang calon akan berebut tiket menuju kursi wali kota dan wakil wali kota Tanjungpinang. Syahrul-Rahma yang dikenal dengan tagline “Sabar”, akan berhadapan dengan pasangan Lis Darmansyah-Maya Suryanti yang karib disapa “Lima”.

Pilkada Tanjungpinang bebarengan dengan event serupa yang digelar serentak secara nasional. Ada 171 pilkada. 17 provinsi, 39 kota, dan 115 kabupaten. Bahkan, Presiden Republik Indonesia (RI) Joko Widodo mengeluarkan Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 14 Tahun 2018 tentang Hari Pemungutan Suara Pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur, Bupati dan Wakil Bupati, serta Wali Kota dan Wakil Wali Kota Tahun 2018 sebagai Hari Libur Nasional. Artinya, besok adalah hari libur nasional.

Saya sendiri agak heran dengan keluarnya Keppres 14/2018 tersebut. Pilkada tidak digelar di seluruh wilayah Indonesia. Hanya 171 daerah saja. Di Kepri, dari tujuh kabupaten/kota, hanya satu kota saja yang menggelar pilkada. Tapi, enam kabupaten/kota lainnya terimbas liburnya.

Padahal, kebanyakan libur tidak baik untuk dunia usaha dan pemerintahan. Sudah pasti aktivitas terganggu. Entah apa pertimbangannya Jokowi–sapaan Joko Widodo–memutuskan jika pilkada besok libur nasional.

Kalau saya duduk di pemerintahan, sebelum memutuskan untuk menggelar pilkada 27 Juni dan menjadikannya libur nasional, terlebih dulu akan melakukan survei di semua aspek. Maksud saya adalah kegiatan apa yang bebarengan dengan pilkada. Jangan sampai berbenturan.

Contohnya saja besok. 27 Juni bertepatan dengan gelaran Piala Dunia.
Saya agak khawatir kalau pilkada tahun ini sia-sia. Hanya menghabiskan uang negara. Dikhawatirkan jumlah pemilih akan turun.

Kenapa? Karena Selasa (26/6) malam ini bertepatan dengan laga pamungkas di grup C dan D. Pada pukul 21.00 WIB, laga grup C akan mempertemukan Australia vs Peru dan Denmark vs Prancis. Sementara, Rabu dini hari pukul 01.00 WIB, Nigeria vs Argentina dan Kroasia vs Islandia.
Sementara, laga di kedua grup itu sangat-sangat penting. Sayang juga kalau dilewatkan.

Para pendukung Paul Pogba dan kawan-kawan dipastikan akan menonton. Begitu juga dengan para fans Lionel Messi tidak ingin ketinggalan. Khusus laga Nigeria vs Argentina yang digelar pukul 01.00 WIB, diperkirakan akan selesai pukul 03.00 WIB. Bagi yang menonton, siap-siap saja “mbangkong”.

Pertanyaannya, apakah mereka memilih datang ke tempat pemungutan suara (TPS), atau tidur pulas lantaran libur? Yang harus diwaspadai, TPS baru tutup pukul 13.00 WIB. Ini sangat rawan.

Biasanya, kalau sudah mata mengantuk, malas keluar rumah. Apalagi kalau cuaca dingin dan hujan. Bisa dipastikan akan memilih tetap di rumah, menghabiskan waktu bersama keluarga, atau memulihkan kondisi usai begadang nonton Piala Dunia.

Padahal di Tanjungpinang sendiri, euforia Piala Dunia juga sangat luar biasa. Penontonnya banyak. Animonya juga tinggi. Rela begadang demi mendukung tim kesayangan. Kalau tidak di tempat nonton bareng (nobar), bisa jadi nonton di rumah.

Kecuali, jika tim sukses (timses) masing-masing calon bergerak aktif mendatangi rumah-rumah. Atau, kecuali jika memang kedua pasang calon sama-sama memiliki basis masa yang loyal.

Tapi, bicara loyalitas di politik ini agak ngeri-ngeri sedap. Sulit sekali.
Mestinya, kerawanan tidak hanya diukur dari hal-hal yang berpotensi mengganggu keamanan dan ketertiban masyarakat (kamtibmas) saja. Melainkan juga mengantisipasi tingkat partisipasi masyarakat dalam menggunakan hak pilihnya. Sayang sekali kalau pesta demokrasi kalah tenar dari Piala Dunia.

Belum lagi potensi lain yang bisa saja merusak pilkada. Misalnya, menjadikan momentum nobar Piala Dunia sebagai ajang konsolidasi. Padahal ini lagi masa tenang. Kalau ada masyarakat kumpul-kumpul lalu disuruh bubar, apa tidak rawan. Iya kalau mereka konsolidasi politik atau black campaign. Kalau benar-benar lagi nobar Piala Dunia, apa enggak malah ribut. Hehehehehehe.

Ya, ya, ya! Boleh dibilang, Juni tahun ini merupakan bulan di mana terdapat libur terbanyak. Bahkan, mungkin saja terbanyak di dunia. Bayangkan, dalam sebulan terdapat 15 kali tanggal merah dan “dimerahkan” (libur karena pilkada). Itu sudah termasuk cuti Lebaran yang ditambah, libur Idul Fitri, dan Minggu. Kalau Sabtu dihitung libur, maka ditambah empat hari.

Praktis, total libur selama Juni menjadi 19 hari.
Hanya masuk sebelas hari, digaji dua kali lipat (gaji bulanan + Tunjangan Hari Raya). Namun, efektivitas kerjanya tidak produktif.

Bakal banyak perusahaan yang mengencangkan ikat pinggang. Karena kalau memaksakan masuk kerja, sudah pasti bayar lembur. Sementara mereka lebih banyak tidak beroperasi. Kalau tidak meliburkan karyawan, sanksi menanti. Boleh dibilang, Juni ibarat cobaan berat bagi kita. Kwakakakak…

Tapi apa mau dikata. Kita tinggal di Indonesia. Keputusan pemerintah, mau tidak mau harus dijalankan. Mau mengadu pun, saya pikir pemerintah pusat keukeuh dengan keputusannya. Semoga ada niat baik di balik keputusan itu. Yang pasti, Rabu besok libur lagi.

Menarik dinanti siapa yang unggul besok. Syahrul-Rama atau Lis-Maya. Atau penonton Piala Dunia. (*)

 

Guntur Marchista Sunan
Direktur Batam Pos