batampos.co.di – Kereta light rapid transit (LRT) pertama di Indonesia akan diopersaikan Juli nanti. Dari hasil uji coba terakhir, LRT yang berada di Palembang, Sumatera Selatan (Sumsel), itu bisa berlari dengan kecepatan 85 km/jam.

Suranto, Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) LRT Palembang, LRT di kota yang akan menjadi co-host Asian Games 2018 bersama Jakarta itu didesain menggunakan konstruksi jalur layang (elevated track, Red). Konstruksi elevated track dipilih dengan pertimbangan untuk meminimalkan pembebasan lahan.

”Selain itu juga mengingat banyaknya perlintasan sebidang yang dilewati dan menghindari utilitas yang sudah ada, seperti jalan tol. Serta dalam rangka efisiensi ruang bawah agar tetap dapat difungsikan setelah konstruksi selesai,” ungkapnya kemarin (27/6).

Suranto juga menambahkan, elevated track dapat mengurangi biaya pemeliharaan yang. ”Apalagi jika dibandingkan dengan konstruksi terowongan, biaya konstruksi akan jauh lebih besar. Termasuk biaya perawatannya mengingat maintenance konstruksi bawah tanah memerlukan penanganan khusus,” tuturnya.

Sementara itu, Dirjen Perkeretaapian Zulfikri menjelaskan, LRT Sumsel merupakan wujud upaya pemerintah dalam memenuhi kebutuhan masyarakat akan angkutan umum massal berbasis rel terintegrasi di kawasan perkotaan. Itu sebenarnya telah tertuang dalam Rencana Induk Perkeretaapian Nasional (RIPNas).

”Jaringan perkeretaapian nasional direncanakan untuk saling menghubungkan pusat-pusat kegiatan ekonomi dan terintegrasi antarmoda. Seperti dapat terhubung ke bandara, pelabuhan, terminal dan kawasan industri termasuk kawasan pariwisata,” tuturnya.

Dia menambahkan, di beberapa kota besar di Indonesia, telah direncanakan pembangunan KA perkotaan. Misalnya Jakarta, Bandung, Jogjakarta, Semarang, Surabaya, Palembang, Padang, Medan, Makassar, dan Batam. Hingga saat ini yang sudah terealisasi adalah KA Bandara Kualanamu di Sumatera Utara, KA Bandara Soekarno Hatta di Jakarta, dan KA Bandara Internasional Minangkabau di Sumatera Barat.

Zulfikri menjelaskan, LRT Sumsel dioperasikan dengan menggunakan tenaga listrik yang diperoleh dari pasokan daya PLN. Menurut perhitungan yang dilakukan, kebutuhan biaya listrik untuk mengoperasikan LRT dengan headway 3 menit adalah Rp 9,3 miliar per bulan.

”Pengoperasian LRT selama 2 tahun pertama akan disubsidi oleh pemerintah,” katanya. (lyn/ttg)

Respon Anda?

komentar