Pekerja sedang mengolah ikan di cold storage SKPT Selat Lampa Natuna yang dikelola Perindo beberapa waktu lalu.

batampos.co.id – Kepala Dinas Perikanan Pemkab Natuna Zakimin Yusuf mengatakan, sejak kehadiran Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Perum Perikanan Indonesia (Perindo) yang beroperasi di Selat Lampa, sudah memberikan pen­dapatan tambahan untuk PAD. Perindo, merupakan salah satu perusahaan yang membeli ikan hasil tangkapan nelayan di Natuna.

Tahun pertama kerja sama pemerintah daerah dengan Perindo sudah menambah PAD sebesar Rp 200 juta per tahun. ”Kerja sama berupa pemanfaatan fasilitas cold storage. Alhamdulillah, dari perikanan ikut menyumbang PAD sekitar Rp 200 juta pertahun,” kata Zakimin, Jumat (29/6).

Saat ini, Pemerintah Daerah baru sebatas melakukan kerja sama pemanfaatan pengelo­laan cold storage di SKPT Selat Lampa. Dalam bidang usaha lain belum terlaksana. Namun kehadiran Perindo di Natuna memberikan jaminan stabilnya harga ikan di tingkat nelayan.

“Nelayan tradisional di Natuna sudah tidak cemas soal memasarkan hasil tangkap. Karena semua tangkapan tetap dibeli oleh Perindo dengan harga cukup tinggi,” kata Zakimin.

Sejak adanya penampung hasil tangkap nelayan, disatu sisi berdampak pada ketersediaan ikan di pasar tradisional Ranai. Harga sejumlah jenis ikan cukup tinggi dibanding sebelumnya. Saat ini kisaran Rp 60 ribu hingga Rp 70 ribu per ekor. Sebelumnya ha­nya Rp 20 ribu hingga Rp 30 ribu per ekor jenis ikan tongkol.

Namun Zakimin menyakini, kenaikan harga ikan di pasar tradisional bukan disebabkan adanya perusahaan yang menampung ikan dalam jumlah besar. Menurutnya, mahalnya harga ikan di pasar ikan tradisional disebabkan biaya operasional nelayan saat melaut.
“Akhir-akhir ini nelayan melautnya jauh ke tengah. Bukan disebabkan hadirnya perusahaan penampung ikan,” ujar Zakimin.(arn)

Respon Anda?

komentar