batampos.co.id – Kesadaran warga Natuna menggunakan life jacket saat berada atau menggunakan transportasi di laut masih kurang. Seperti yang terlihat di angkutan penyeberangan ke berbagai pulau di Natuna, nyaris tak ada yang mau menggunakan life jacket.

Iklan

Kepala Dinas Perhubungan Pemkab Natuna Iskandar DJ membenarkan kalau kesadaran masyarakat Natuna dalam keselamatan pelayaran masih minim. Ia mencontohkan, saat digelarnya Festival Pulau Senoa pekan lalu. Pihaknya sudah membagikan sekitar 200 life jacket kepada sejumlah pemilik pompong. Namun tetap saja tidak dimanfaatkan para penumpangnya.

“Tentu hal ini menjadi perhatian bersama, menjaga pelayaran tetap aman sebagai antisipasi sebelum terjadi musibah di laut. Misalnya saja tragedi di perairan Seluan beberapa tahun lalu. Muatan lebihi kapasitas, dan tidak ada kelengkapan keselamatan,” ujar Iskandar.

Padahal, sejak terjadinya insiden kecelakaan laut beberapa waktu lalu di Danau Toba, Kementerian Perhubungan sudah menyampaikan edaran memperketat keselamatan pelayaran. “Sudah ada arahan dari Kementerian, supaya syahbandar pelabuhan perketat keselamatan pelaya­ran. Kami juga berkoordinasi dengan syahbandar, me­nerapkan standar aturan pela­ya­ran sebelum kapal diizinkan berlayar,” kata Iskandar, Jumat (29/6).

Dinas perhubungan katanya, juga menyurati kecamatan dan pemilik pompong, agar setiap kapal wajib memiliki kelengkapan keselamatan.

Tidak hanya life jacket, mereka juga wajib memiliki alat komunikasi serta alat pemadam kebakaran. Dalam penertiban ini, di setiap pelabuhan rakyat dishub menempatkan petugas untuk melakukan pengawasan arus penumpang dan barang. “Termasuk pihak kecamatan diwajibkan ikut memantau,” kata Iskandar.

Memang katanya, berdasarkan aturan, penumpang wajib menggunakan life jacket. “Namun dalam keselamatan pelayaran di satu sisi perlu kesadaran masyarakat, untuk memperhatikan kelengkapan keselamatan,” ujar Iskandar. (arn)