ilustrasi

Inilah balada kehidupan ruamhtangga. Sebuah kisah cinta Karin,29 dan Donwori ini, 29.

Bekerja sebagai asisten manager membuat Karin super sibuk. Delapan jam dalam sehari ia habiskan untuk bekerja, dua jam untuk dandan dan beberapa jam untuk nongkrong sana sini dengan klien. Hingga akhirnya waktu untuk keluarga terabaikan.

“Susah nikah sama orang sibuk, punya istri rasanya kayak hidup sendiri,” kata Donwori saat berada di Pengadilan Agama Kelas 1A Surabaya.

Sementara karir Donwori masih tetap saja stagnan sebagai pegawai TU di sebuah SMA di Surabaya. Sebaliknya karir istrinya terus merangkak naik. Yang tentu saja, diikuti dengan gaji Karin yang semakin tinggi juga, tiga kali lipat dibandingkan gajinya.

“Kenal dia pas sama-sama berjuang dari bawah dulu itu. Dulu karir dia ya standar-standar saja, tapi semakin ke sini naik terus,” imbuhnya.

Tak disangka, naiknya karir Karin ini juga diikuti dengan sikapnya yang mulai berubah. Karin jadi kerap meremehkan suaminya, tak mau memasak, tak mau diajak berkumpul bareng sahabat Donwori. Hingga jarang sekali mengiyakan ajakan Donwori di ranjang.

” Kalau ku ajak alasannya ada saja, capek lah, begadang nanti cantiknya luntur lah apalah,” ujarnya.

Tak berhenti di situ, Karin juga mulai berulah. Ia kerap semena-mena meminta Donwori untuk libur kerja. Entah itu untuk mengurus anak hingga mengurus surat menyurat. Alasannya jelas, Karin terlalu sayang mengambil jatah liburnya. Sementara Donwori dengan gaji kecil tak akan berdampak banyak pada pemasukannya.

Pasangan pasutri ini akhirnya sampai pada keputusan untuk berpisah setelah mengalami pertengkaran hebat. Karin, yang saat itu berkumpul dengan kawan-kawannya saat lebaran menyinggung suaminya di depan teman-temannya langsung. Ia iri jatah cuti suaminya terlalu panjang, sementara dirinya hanya dapat satu minggu.

“Dia ngomong, sudah gaji sedikit, sering libur, seperti gak kerja saja, gitu ngomong di depan teman-temannya, gak jatuh harga diriku,” kata pria Kedawung ini dengan nada marah.

Setelah tragedi itu, Donwori yang sakit hati memutuskan untuk berpisah saja dengan Karin.

“Percuma punya istri kalau tidak menentramkan hati,” pungkasnya. (sb/is/jek/JPR)

Respon Anda?

komentar