batampos.co.id – Dinas Perikanan Pertanian dan Pangan (DPPP) Kabupaten Kepulauan Anambas sudah mengetahui keberadaan monyet menganggu tanaman warga dan petani. Dinas tersebut tengah memikirkan bagaimana mengatasi banyaknya monyet yang merusak pertanian.

Kepala Bidang Pertanian Dinas Perikanan Pertanian dan Pangan Kabupaten Kepulauan Anambas Zarrim, mengakui pihaknya pernah menyiapkan perangkap monyet beberapa tahun yang lalu.

Namun dianggap kurang efektif. Karena harganya bisa mencapai belasan juta tapi hasilnya tidak maksimal. Apalagi bentuk perangkap yang terbuat dari besi terlalu besar sehingga menyulitkan petani untuk membawa perangkap monyet ke hutan.

Karena itu, tahun selanjutnya tidak dianggarkan lagi. “Kalau pakai perangkap besi tidak efektif karena selain mahal, susah dibawa kehutan karena terlalu berat,” ungkapnya kepada wartawan kemarin.

Oleh karena itu pihaknya saat ini sedang mensosialisasikan bagaimana menangkap monyet yang lebih efektif. Tidak memakan banyak biaya tapi dapat menangkap monyet lebih banyak.

“Perangkapnya pakai kayu yang dibuat seperti pagar keliling. Bagian atas dibuat prosotan dari seng untuk menjebak monyet, setelah terperosok ke dalam monyet tidak bisa naik lagi karena licin. Itu yang nantinya kita sarankan kepada petani,” jelasnya.

Selain itu, pihaknya juga pernah membuat program lomba memburu monyet. Per ekor dibeli dengan harga Rp 10 ribu. Tapi tidak lolos ketika masuk dalam tim anggaran pemerintah daerah. “Usulan itu sudah lama, kalau tidak salah masih bupati yang lama,” ungkapnya lagi.

Diketahui, selama ini monyet yang merupakan yang hewan dilindungi oleh negara. Namun keberadaan dinilai merugikan masyarakat khususnya petani.
Pasalnya, monyet kerap kali merusak tanaman petani mulai dari pisang, umbi-umbian, kacang-kacangan dan jenis sayuran lainnya. Sehingga petani justru menyebut hewan tersebut sebagai hama tanaman. (sya)

Respon Anda?

komentar