batampos.co.id – Gubernur Kepri Nurdin Basirun memerintahkan Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Kepri untuk turun ke Tanjungbalai Karimun menyelesaikan dan mencari solusi terkait tidak tertampungnya 161 siswa di SMA Negeri 1 dan SMA Negeri 2 Karimun.

Iklan

”Iya, saya sudah arahkan Kepala Diknas Provinsi Kepri untuk turun ke lapangan. Hal ini diperlukan untuk mencari solusi terhadap kelebihan siswa yang mendaftar di dua sekolah tersebut. Hanya saja, sistem PPBD yang digunakan tahun ini sistem online. Ini baru pertama kali dilakukan,” ujar Nurdin.

Koordinator PPBD Online SMA Negeri Wilayah Kabupaten Karimun sekaligus Kepala SMA Negeri 1 Alta Fetra secara terpisah menyatakan, daya tampung siswa di sekolah yang dipimpinnya hanya untuk 324 siswa dengan 9 ruang belajar. Itu pun satu lokal lagi sebenar-nya ruang labor fisika yang disekat menjadi ruang belajar.

”Sedangkan yang mendaftar melalui PPDB online jumlah-nya 440 orang. Sehingga yang tidak tertampung itu 116 orang. Dan di SMA Negeri 2 kelebihannya 45 orang dari kuota 288,” sebutnya.

Akibatnya, menimbulkan kekecewaan siswa dan orangtua yang sudah mendaftar. Dia berharap masalah ini bisa segera teratasi. Pihak SMAN 1 menurutnya tidak bisa mengambil keputusan sepihak. Harus ditangani Diknas Provinsi Kepri. Sebab dalam satu ruang belajar tidak boleh lebih dari 36 orang. Jumlah siswa per kelas sudah ada di data pokok pendidikan (Dapodik) Kementerian Pendidikan.

”Seandainya jumlah siswa dalam satu kelas tidak dibatasi dalam Dapodik, sudah tentu dalam satu kelas bisa saya tempatkan sampai 40 orang siswa. Tapi dengan adanya Dapodik ini tidak bisa asal menambah jumlah siswa dalam satu kelas. Tujuannya dengan jumlah 36 siswa dalam satu kelas, maka proses belajar dan mengajar akan lebih optimal,” paparnya.

Selain itu, lanjutnya, jika harus dipaksakan dalam satu kelas sampai 40 orang lebih, maka pada pelaksanaan ujian nasional (UN), nomor ujian peserta didik yang melebihi batas tidak akan dikeluarkan dari pusat.

Untuk itu, pihaknya tidak bisa menambah jumlah siswa dalam satu kelas.
Selain itu, saat ini kondisi di SMA Negeri 1 juga tidak ada lagi ruangan yang bisa dijadikan kelas untuk ruang belajar.(san)