Borman Sirait. F. Yusnadi/batampos.co.id

batampos.co.idBoorman Sirait, anggota DPRD Tanjungpinang mengembuskan napasnya yang terakhir di RSPAD Gatot Subroto, Jakarta, Selasa (10/7) malam, setelah dua tahun terakhir berjuang melawan sakit kanker getah bening yang menggerogotinya. Seperti apa sosok Boorman di mata teman-teman dekatnya?

Iklan

SUKAR bagi Lis Darmansyah menampik kesan dari sosok Boorman Sirait. Kebersamaan dalam kerja dan persahabatan terekam lekat dalam ingatannya. Ya, enam belas tahun Lis menjalin tali silaturahmi dengan Boorman. Baik saat Boorman menjadi birokrat maupun ketika ia sebagai wakil rakyat.

“Beliau betul-betul tipikal pekerja keras. Sangat menguasai penataan perkotaan. Orang Bina Marga jago mengurus soal jalan,” kata Lis, Rabu (11/7).

Latar belakang itu pula, sambung Lis, yang membuat Boorman begitu piawai memikirkan kondisi jalan-jalan di Tanjungpinang sejak awal 2000-an. Buktinya adalah jalan-jalan di kawasan Tanjungpinang Timur. Koneksi bagus Boorman dengan pemerintah pusat dimanfaatkan untuk membawa pulang anggaran ke Tanjungpinang juga jadi nilai plus tersendiri. Hasilnya yang paling kentara adalah jalan alternatif Batu Sepuluh arah Rumah Sakit Umum Provinsi.

“Ketika saya di DPRD Kepri, saya dan Bu Tatik merancang itu. Beliau yang kemudian membantu mewujudkannya,” ungkap Wali Kota Tanjungpinang periode 2013-2018 ini.

Tiba masa Boorman pensiun, Lis menganggap tenaga dan pikirannya masih dibutuhkan untuk Tanjungpinang. Sebagai pejabat teras PDI Perjuangan Kepri, Lis mengajak Boorman mengabdi sebagai anggota legislatif. Lis berkisah, sebenarnya pada 2014 silam, Boorman sudah tidak berkeinginan berkecimpung lagi, namun ia berhasil meyakinkan bahwa tenaga pria yang akrab ia panggil Opung itu masih dibutuhkan untuk kemajuan Tanjungpinang. “Beliau memang lebih tua dari saya, tapi orangnya sangat mudah diajak bercanda. Sudah seperti Abang buat saya,” kenang Lis.

Masih ingat betul perjumpaan terakhir Lis dengan Boorman. Kala itu, ia sedang disibukkan dengan hiruk-pikuk Pilkada, Boorman mendatanginya untuk mengabarkan bahwa mesti terbang ke Tiongkok memeriksakan kanker yang sudah lama dideranya. Sembari mendoakan upaya Lis, Boorman juga mohon didoakan agar diberi kesembuhan.

“Tapi rupanya itu pelukan terakhir saya dengan beliau. Jelas, kami kehilangan kader terbaik, sahabat terbaik, teman diskusi terbaik, juga tokoh yang mengayomi,” ucapnya.

Mengayomi memang menjadi kesan dari Boorman semasa hidupnya. Pria kelahiran Parapat 10 November 1950 ini dikenal tidak pernah menganggap rendah teman-teman sekancah politiknya, kendati lebih banyak yang lebih muda darinya. Ketua Fraksi PDI Perjuangan DPRD Tanjungpinang, Syahrial berkisah, kendati senior, Boorman tetap meminta dirinya yang menjadi ketua fraksi.

“Sebagai ketua fraksi, tentu saya amat kehilangan rekan berdiskusi seperti Pak Boorman. Ketenangannya dan bijaksananya selalu menjadi panutan buat kami yang lebih muda,” kenang Syahrial.

Penyakit kanker kelenjar getah bening, tutur Syahrial, sudah terdeteksi bersemayam di tubuh Boorman sejak awal tahun silam. Saat itu bahkan sudah terdeteksi mencapai stadium dua. Telah dilakukan kemoterapi untuk membunuh sel-sel kanker selama sekitar tiga bulan di Malaysia. “Lalu beliau berobat ke Cina. Setelah itu, kami jarang berkomunikasi,” tutur Syahrial.

Ia berharap segala kesalahan Boorman selama bekerja di DPRD Tanjungpinang bisa dimaafkan oleh rekan-rekan dan masyarakat luas. “Bagaimana pun, ini duka buat kita semua, bukan cuma PDIP saja,” ucapnya.

Kesan baik tentang Boorman tidak hanya dari internal PDI Perjuangan. Wakil Ketua I DPRD Tanjungpinang Ade Angga dari Fraksi Partai Golkar juga mengaku kehilangan sosok yang akrab disapa Babe. “Dedikasi dan disiplinnya tinggi dan sangat tanggung jawab dengan pekerjaan. Jika tidak hadir, Babe selalu menelepon saya. Babe itu sangat-sangat menghargai orang lain,” ungkap Angga.

Kedekatan secara personal Babe dengan seluruh anggota legislatif juga menjadi poin lebih dari kebijaksanaan seorang Boorman. Angga mengurai, Babe adalah tipikal politisi yang tegas dan bertanggung jawab. Bisa diajak serius, apalagi bercanda. “Bagi kami semua di dewan, Babe adalah panutan kami,” ungkapnya.

Kesan baik tetap tinggal dalam ingatan. Boorman sudah mengupayakan segala hal yang ia bisa untuk melawan penyakitnya. Namun, kehendak berkata lain. Di Jakarta, setelah dari Malaysia dan Tiongkok, Boorman akhirnya tidur tenang. Sudah purna bhaktinya untuk Tanjungpinang, baik sebagai seorang birokrat dan tiga kali periode anggota legislatif.

Kamis (12/7) pagi ini, jenazahnya akan diterbangkan dari Jakarta ke rumah duka di Jalan Beringin, Tanjungpinang. Tawa Boorman tinggal kenangan, namun jalan-jalan panjang yang telah diupayakan semasa hidupnya akan selalu memberikan manfaat buat semua orang. Terima kasih, Pak Boorman. (aya)