batampos.co.id – Gilang Andika, bayi yang lahir dengan satu kepala dua wajah merupakan kasus yang langka di Indonesia. Kondisi ini bisa terjadi karena pengaruh virus hingga bahan kimia yang memapar janin selama berada di dalam kandungan.

Kepala Dinas Kesehatan drg Didi Kusmajardi menjelaskan, kasus kembar siam atau dempet terjadi karena masa pembelah sel telur. Sehingga masih ada bagian tubuh yang menyatu.

“Pembelahan tak sempurna bisa disebabkan virus, bahan kimia dan lain sebagainya,” kata Didi, Jumat (13/7).

Didi mengatakan, terjadinya kembar siam dengan satu sel selur tidak bisa dicegah. Yang bisa dilakukan hanya pemisahan atau operasi setelah lahir. Itu pun tergantung pada organ mana saja yang dempet, tingkat kesulitan, dan besarnya risiko bagi si bayi jika dilakukan operasi.

“Kasus ini cukup langka di Batam, bahkan di Indonesia,” jelas Didi.

Meski berisiko tinggi, kedua orangtua bayi Gilang, Ernilasari dan Mustafa, mengaku akan tetap mengupayakan proses operasi bagi putra ketiga mereka itu. Meskipun hingga saat ini, mereka mengaku belum memiliki biaya untuk operasi pemisahan anaknya.

“Cari tahu dulu mas. Kalau anggaran sudah pasti banyak. Tapi mau gimana lagi, demi anak. Saya percaya dan yakin ada jalannya kalau memang sudah rejekinya si kecil ini,” ujar Erni saat ditemui di Rusunawa Pemko Batam Blok G1 lantai 3 Nomor 5, Seibeduk, Jumat (13/7).

Saat hamil, Erni mengaku tidak merasakan kejanggalan pada janinnya. Ia juga rutin memeriksakan kehamilannya, baik ke puskesmas maupun ke rumah sakit. Bahkan saat USG di Rumah Sakit Chamata Sahidiya Panbil, dokter kandungan yang menanganinya tidak menjelaskan bahwa bayi yang dikandungnya mengalami kelainan.

“USG Tiga kali, tapi dokternya hanya bilang kepala bayi membesar dan posisi bayi sungsang,” kata Erni.

Setelah melakukan USG ketiga kalinya, akhirnya dokter mengambil keputusan dan membuat jadwal operasi sesar pada tanggal 7 Mei 2018 atau tiga minggu lebih awal dari tanggal perkiraan persalinan.

Namun Erni mengaku sedih setelah melihat kondisi bayinya yang tak sempurna. “Kecewa dengan dokternya. Sepahit-pahitnya kondisi anak saya, ya dikasih tahulah,” kata Erni.

Saat ini, Gilang hanya bisa dirawat jalan di rumahnya. Di usianya yang memasuki dua bula, berat badan Gilang hanya 4 kilogram. “Dia makan menggunakan selang, selangnya harus diganti dua kali sehari,” ucap Erni.

Ernila Sari memberi susu bubuk anaknya, Gilang Andika (2) yang berkepala dua di Rusun Mukakuning Blog G, Mukakuning, Seibeduk, Jumat (13/7). Ernila Sari butuh biaya berobat saat ini karena harus diperasi. F Dalil Harahap/Batam Pos

Petugas medis dari rumah sakit yang pernah didatangi Mustafa dan Erni menyimpulkan bahwa Gilang memiliki kelainan bentuk tubuh yakni kembar siam di bagian kepala sejak lahir. Kepala bayi yang lahir tanggal 7 Mei 2018 itu juga divonis mengidap penyakit Hydrocephalus (terdapat cairan pada rongga otak yang menyebabkan kepala membasar).

“Sejauh ini belum ada kepastian apakah keanehan dan penyakit anak saya ini bisa disembuhkan atau tidak. Kami masih bingung mau berbuat apa sekarang,” ujarnya.

Sebelumnya, Gilang sudah melakoni perawatan di dua rumah sakit. Yakni di Rumah Sakit Camantha Sahidiya Mukakuning. Ia dirawat selama 10 hari. Setelah itu, Gilang dirawat selama seminggu di Rumah Sakit Awal Bros Batam.

Di dua rumah sakit itu Gilang hanya mendapat perawatan biasa seperti bayi tidak normal lainnya termasuk dengan penyakit hydrocephalusnya. Namun saat ditanya tindakan medis agar anak mereka kembali normal belum ada kepastian dari petugas medis di dua rumah sakit tersebut.

“Itulah yang buat kami bingung saat ini. Malahan kata dokter kecil kemungkinan anak saya ini bertahan (hidup) lama,” ujar Erni.

Sejauh ini kondisi kesehatan Gilang masih cukup baik sebab masih bisa minum susu formula melalui alat bantu selang. Namun demikian, tetap ada persoalan dengan kondisi kelainan fisiknya

Mislanya, Gilang tidak bisa bergerak normal layaknya bayi lainya. Itu karena dia memiliki ukuran kepala yang lebih besar dengan dua wajah yang menyatu. Dia memiliki dua mulut, dua hidung, dan empat mata.

Untuk mengkonsumsi susu formula Gilang bisa menggunakan dua mulutnya. Namun karena harus pakai alat bantu selang, penggunaan mulut bisa bergantian seiring dengan pergantian selang.

“(Mulut) Dua-duanya berfungsi normal. Cuma karena pakai selang jadi gantiaan minum susunya. Selang ini tiga hari sekali baru ganti di rumah sakit,” tutur Erni.

Begitu juga dengan mata. Empat mata Gilang secara fisik berfungsi normal. Semuanya bisa berkedip, terbuka, atau tertutup. Namun menurut Erni, keempat mata Gilang tidak kompak. Misalnya, sepasang mata di wajah sebelah kanan terbuka. Sementara sepasang mata di wajah kirinya tertutup karena tidur.

“Kalau tidur malam sering itu, sebelah tutup sebelah terbuka,” tuturnya.

Kini, Erni dan Mustafa hanya menunggu kepastian penanganan medis bagi anaknya. Apakah bisa segera dioperasi atau tidak. Dan yang pasti, mereka menunggu uluran tangan para dermawan untuk membantu biaya operasi Gilang. (eja/une)

Respon Anda?

komentar