Bagian dalam kantor OJK. Foto: jawapos

batampos.co.id – Perbankan harus benar-benar memanfaatkan teknologi untuk memperkecil Net of Interest Margin (NIM). Karena NIM yang terlalu tinggi, perbankan di Indonesia dinilai belum efisien dibanding dengan perbankan di negara Asean lainnya.

“Perbankan manfaatkanlah teknologi jika ingin mengembangkan jaringan kantor. Karena bisa menekan biaya,” kata Kepala Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Kepri Iwan M Ridwan, Jumat (14/7).

Berdasarkan catatan Bank Indonesia (BI), NIM perbankan di Indonesia ada di angka lima persen. Penyebabnya adalah modal yang besar setiap kali membangun jaringan, baik itu SDM atau untuk yang lain.

“Itu terjadi karena biaya yang terlalu tinggi. Perbankan perlu mengeluarkan modal tinggi untuk memasarkan produknya,” tambahnya lagi.

Biaya yang tinggi ini dapat ditekan jika perbankan mau menggunakan teknologi.

“Perbankan tak perlu lagi membangun kantor untuk mendukung pemasaran produknya,” jelasnya.

Sebenarnya penggunaan teknologi untuk mendukung efisiensi perbankan sudah mulai berjalan. Salah satunya melalui program layanan keuangan tanpa kantor dalam rangka keuangan inklusif atau biasa dikenal sebagai laku pandai.

“Program ini memungkinkan bank membuka jaringan tanpa perlu membuka kantor cabang baru. Konsepnya adalah mengoptimalkan peran agen-agen sehingga biaya lebih efisien,” ungkapnya.

Laku Pandai juga memungkinkan Bank melayani nasabah tanpa dibatasi jam kerja. Agen bisa membuka jam layanan seuai dengan kebutuhan nasabah. “Program ini bisa membuat layanan efisien dan optimal,” jelasnya.

Laku Pandai merupakan bagian dari teknologi finansial untuk menjangkau nasabah. Jangkauannya jauh lebih luas untuk menggapai nasabah.”Financial Technology punya teknologi, Industri jasa keuangan punya uangnya. Keduanya merupakan simbiosis yang saling menguntungkan,” katanya.

Dengan hanya membuka aplikasi dan masuk di sejumlah menu yang disediakan, nasabah sudah langsung bisa mendapat layanan.Dan itu dapat dilakukan dengan mudah di era milenial ini

Cara ini dinilai lebih efektif bila dibandingkan dengan cara konvensional. Dimana marketing perlu hilir mudik mencari nasabah. Selain butuh waktu yang lama, juga membutuhkan biaya kerja yang tidak sedikit.

Bank Indonesia juga terus mendorong efisiensi perbankan. Lembaga pengawas moneter ini menargetkan NIM harus turun ke level 2,5 persen untuk menciptakan industri perbankan yang lebih efisien untuk masyarakat.

Untuk mencapai tujuan tersebut, BI sempat meminta dukungan DPR RI untuk mendapat penegasan terkait tugas bank sentral terhadap kebijakan makroprudensial di dalam UU kebanksentralan. Pasalnya, BI bertanggungjawab atas kebijakan makroprudensial, tetapi penegasannya baru ada di UU OJK.

Akibat NIM yang cukup tinggi hingga rata-rata 5%, banyak pihak yang berminat membentuk bank. Akhirnya, bank lokal menjadi malas untuk berekspansi di luar negeri karena bisnis di Indonesia bisa menghasilkan untung yang besar.(leo)

Advertisement
loading...