Karin akhirnya menyerah juga. Satu tahun usia pernikahannya, bukannya bahagia malah tubuhnya makin kurus kering saja karena tenaga dan pikiran diperas. Sementara Donwori, 24, suaminya, hanya ongkang-ogkang kaki di rumah, terima jadi.

“Dari awal nikah, sampai sekarang mau cerai, aku yang biayai semua hidupnya,” katanya saat berada di ruang tunggu Pengadilan Agama Kelas 1A Surabaya.

Dulu awalnya, Karin ikhlas saja suaminya tak bekerja, memang cari kerja susah katanya. Sambil menunggu suaminya melamar ke mana-mana, ia alih tugas jadi kepala rumah tangga, pagi ia habiskan di apotik sementara malamnya ia isi dengan menjadi biduan dari panggung ke panggung. Namun sudah dibantu begini, suaminya tak peka-peka juga.

“Dulu padahal sebelum nikah itu dia kerja lho..Eh sekarang keenakan nganggur, aku yang bingung dewe,” katanya.

Tak bosan-bosan mendorong suaminya untuk kerja, Karin bahkan meminjam uang ke bank untuk membangun warung untuk suaminya. Ia juga membelikan suaminya handphone canggih agar Donwori mau kerja jadi ojek online. Tapi tetap saja, suaminya tetap tak peka.

“Kalau ku suruh cepat cari kerja dia ya cuma iya-iya saja, tapi akhirnya ya bullshit saja itu omongannya,” kata perempuan asal Jalan Menur ini.

Karena putus asa, Karin akhirnya mundur teratur. Ia mengaku sudah lelah jadi istri rasa pembantu gini. Sudah bersuami tapi malah nelangsa.

“Bahkan program hamilku gak sukses-sukses. Paling pengaruh stres lahir batin ini,” pungkasnya dengan tatapan murung. (sb/is/jay/JPR)

Respon Anda?

komentar