Iklan
Penyerahan cinderamata dari Ketua STTI Tanjungpinang, Lois Frederik kepada Gubernur Kepri Nurdin Basirun, Sabtu (14/7). F. Faradila Verwey/batampos.co.id 

batampos.co.id – Mantan Ketua Mahkamah Konstitusi (MK), Mahfud MD percaya anak-anak Tanjungpinang punya potensi untuk tumbuh dan berkembang menjadi generasi pembangun bangsa. Keragaman dalam harmoni yang tercipta di Tanjungpinang, kata Mahfud, adalah modal besar bagi generasi muda Tanjungpinang menjadi pribadi yang toleran dan bermoral.

Iklan

“Saya melihat di sini adalah miniatur Indonesia. Semua jenis suku, agama, dan ras ada. Inilah yang disebut dengan lab kesatuan. Dan kami ingin Indonesia di masa depan memiliki suasana seperti di Tanjungpinang, yaitu kebersatuan dalam perbedaan,” ungkap Mahfus dalam orasi ilmiahnya di Sekolah Tinggi Teknologi Indonesia (STTI) Tanjungpinang, Sabtu (14/7) lalu.

Kagum, begitu Mahfud merasakan pengalamannya selama di Tanjungpinang. Bagi dia, kehidupan dalam keragaman di Tanjungpinang ini bukan sekadar slogan, tapi terlihat nyata dalam kehidupan sehari-hari. Gejala tumbuhnya sikap eklusivisme, radikalisme, dan intoleran, yang marak tumbuh di Indonesia, tidak tampak di Tanjungpinang.
“Nah STT Indonesia ini, bisa meneriakkan contoh yang bagus,” ujar Mahfud.

Mahfud juga berharap, kelak STT Indonesia mampu menyiapkan generasi baru yang mampu mengelola semua sumber daya Indonesia, menjadi maju. Berdasar landasan moral. Urusan terakhir ini digarisbawahi betul oleh Mahfud. “Banyak lembaga pendidikan ilmiah dan teknologi maju, tapi moralitas, tak bisa dipertanggungjawabkan,” kata dia.

Kehadiran Mahfud memang diharapkan bisa menjadi motivasi bagi seluruh mahasiswa. Ketua STTI Tanjungpinang, Lois Frederik menyampaikan, sejauh ini peneriman masyarakat Tanjungpinang terhadap sekolah tinggi pimpinannya sejauh ini. Pada tahun ajaran 2018 ini, setidaknya telah diterima lebih dari 150 mahasiswa.

“Sebenarnya lebih yang harus kami terima, namun hanya ini yang kami terima. Berkaitan dengan jumlah dosen. Ada beberapa dosen masih melanjutkan S2. Kemungkinan tahun depan dapat menerima lebih banyak lagi,” ujar Lois.

Saat ini, dalam meningkatkan kualitas pelayanan, Lois menjelaskan, pihaknya terus berbenah. Pada orasi ilmiah kemarin juga seturut dilangsungkan peresmian gedung baru setinggi empat lantai dengan kapasitas 18 ruangan besar berkapasitas 50 orang dan 8 ruang sedang berkapasitas 25 orang.

Tidak cuma perbaikan sarana. Melainkan kualitas pendidikan pun jadi esensial yang tak terlupakan. “Sekarang salah satu syarat untuk sidang, mahasiswa wajib melampirkan paspor yang sudah dicap keluar negeri yang tidak berbahasa Melayu. Selain itu kami juga menyiapkan bagi mahasiswa yang akan kuliah kerja praktek, bekerjasama dengan beberapa perusahaan di Jepang,” tutup Lois. (aya)