batampos.co.id – Sofinka Putri mengalami gizi buruj. Saat ini, Sofinka mendapat perhatian khusus Puskesmas Dabo. Setiap hari Sofinka diberikan asupan makanan tambahan berupa biskuit yang mengandung vitamin mineral dan elemen penting lainnya. Harapannya dapat memenuhi kebutuhan gizi anak tersebut.

Indikasi kekurangan gizi Sofinka diketahui petugas kesehatan setelah menilai berat badan gadis umur empat tahun itu hanya 11 kilogram saja. Ketika dikunjungi ke rumahnya di Dabo Lama, Sofinka memang terlihat lebih kurus dari anak seumuran dengannya. Paha kecil serta tulang dengkul sedikit lebih menonjol menambah kesan Sofinka sebagai anak penderita kurang gizi.

Rumah yang ditempati Sofinka juga terbilang sederhana. Tepat di bawah rumah panggung dari papan itu terdapat bekas kolong atau genangan air seperti danau bekas pengerukan timah beberapa puluh tahun lalu. Air yang tergenang berwarna kuning serta mengangkut sampah yang mengapung di atasnya.

Okta ibu kandung dari Sofinka mengaku kalau anaknya tidak suka makan asupan berupa biskuit yang diberikan secara percuma oleh Puskesmas. Menurut Okta, Sofinka lebih suka jajan dan makanan cepat saji lainnya. “Jely dan jajan lainnya dia (Sofinka) memang suka. Tapi makan nasi dan asupan yang diberikan dia tidak suka,” kata Okta ketika ditemui di rumahnya.

Asupan berupa biskuit tersebut memiliki program khusus dari Puskesmas. Jika tiga bulan asupan tambahan bantuan dari Pemerintah Pusat itu belum juga menampakkan hasil, maka Puskesmas terus memberikannya kepada penderita gizi kurang. Mungkin kondisi ini yang membuat sejumlah penderita gizi kurang mengalami kejenuhan untuk mengkonsumsi asupan tambahan tersebut.

Selain itu, bagian program gizi Puskesmas Devi Agusanti memiliki program memberikan pelatihan memasak untuk menambah ketertarikan anak makan. “Selain program memberikan asupan tambahan, kami juga memberikan sejumlah pelatihan kepada ibu untuk memasak makanan yang disukai anak,” kata Devi.

Devi mengakui, puskesmas Dabo melakukan sejumlah kegiatan agar orangtua anak kurang gizi dapat melakukan beberapa trik untuk meningkatkan dan menambah nafsu makan anak.

Selain itu, bidang promosi kesehatan di Puskesmas Dabo terus melakukan peninjauan terhadap anak atau balita yang mengalami gizi kurang. Syarifah salah satu petugas promosi kesehatan secara berkala mengunjungi sejumlah rumah anak penderita gizi kurang.

Kasus anak atau balita menderita gizi kurang yang di Kabupaten Lingga dipastikan oleh kepala Puskesmas Dabo, dr Yan Cahyadi Anas kalau hal itu bukan berarti masuk dalam kategori gizi buruk seperti Marasmus yakni kekurangan energi protein atau kwashior kor yang juga disebut kekurangan protein.

“Kalau anak penderita gizi buruk tentunya diikuti sejumlah penyakit lainnya seperti TBC. Penderita juga mengalami rambut rontok hingga hampir botak, kulit keruput dan sebagainya,” kata dr Yan.

Kurang gizi yang ditangani puskesmas Dabo hanya anak yang mengalami kekurangan berat badan jika dibandingkan umur anak tersebut. Sehingga puskesmas dibantu Dinas kesehatan dapat melakukan sejumlah pertolongan dengan sejumlah tindakan yang diberikan.

Dirinya memastikan anak dengan predikat gizi buruk di wilayah kerja Puskesmas Dabo tidak ada. Jika ditemukan tentunya juga bukan dalam wewenang puskesmas untuk melakukan sejumlah tindakan. Puskesmas hanya dapat memberikan laporan kepada Dinas Kesehatan untuk segera ditangani. (wsa)

Advertisement
loading...