Ribuan penumpang antar pulau yang akan melakukan perjalanan menggunakan kapal Ferry antri di pintu keberangkatan Pelanuhan Domestik Sekupang, Rabu (13/6). Lonjakan arus mudik lebaran mengalami peningkatan karena berbarengan dengan liburan panjang. F Cecep Mulyana/Batam Pos

batampos.co.id – Masyarakat menuntut pembenahan di Pelabuhan Domestik Sekupang. Meski sudah memiliki bangunan megah, namun pelayanan masih belum memenuhi ekspektasi masyarakat.

“Bukan tak bersyukur, tapi ada sejumlah catatan untuk pengelola agar lebih baik pelayanannya,” kata salah seorang pengguna jasa pelabuhan, Muhammad Rivai, Selasa (17/8).

Ia memberikan contoh soal ketiadaan troli di pelabuhan. Keberadaan troli dinilai dapat memudahkan penumpang dalam mengangkut barang bawaannya.

“Mengapa tak disediakan troli barang seperti di bandara. Soalnya kasihan penumpang menenteng barang-barang berat dari ponton ke drop area yang jauh,” katanya lagi.

Ia mengatakan seyogyanya pemerintah daerah memberikan pelayanan yang baik kepada calon penumpang.

Sedangkan calon penumpang lainnya Josua Sihombing mengatakan hal yang serupa. Namun ia memberikan catatan tentang keberadaan porter yang dianggap tidak membantu sama sekali.

Menurutnya, porter masih suka menetapkan tarif dengan sesuka hatinya.”Selain itu pilihan transportasi lain juga tak tersedia. Jika mengandalkan taksi pelabuhan, jarak dekat saja harganya selangit. Mau naik Go-Car tak boleh, ada busway tapi haltenya jauh,” ungkapnya.

Terpisah, Kepala Bidang Komersil Pelabuhan BP Batam Djohan Effendy mengatakan pihaknya sadar masih banyak pembenahan yang perlu mereka lakukan.

“Masih banyak yang harus diperbaiki, makanya kami sadar masih jauh dari kata ideal. Sekarang gedungnya dulu, baru pelayanan masih harus ditambah,” ungkapnya.

Untuk troli, memang pihaknya sudah memikirkan hitung-hitungannya.”Yang saya pikirkan adalah arus keluar masuknya. Karena tak mungkin troli dibawa sampai ke ponton. Troli paling hanya bisa dari parkir sampai ruang check in,” jelasnya.

Seandainya troli disediakan di ruang tunggu, maka dikhawatirkan akan menumpuk. Apalagi biasanya barang bawaan penumpang kapal lebih banyak dari penumpang pesawat.

“Ini yang sedang kami kejar. Karena memang belum ada layanan bagasi di ferry, maka kami harus bicara dulu dengan operator ferry. Dengan kondisi seperti sekarang, kami masih perlu banyak berusaha,” janjinya.(leo)

Respon Anda?

komentar